Sunset di Kalimantan

         Aku tidak tahu apa yang tersirat di hati, langkahku ringan menuju tempat ini. Taman yang sudah tujuh belas tahun silam tidak pernah kujejak. Semua sudah berubah, arsitektur taman semakin indah nan asri, tetapi entah kenapa semua terasa masih sama. Sama seperti saat itu.

        Sore ini, banyak anak bermain kejar-kejaran, menaiki seluncuran, bahkan bermain lompat karet.  Sekarang, dapat dikatakan cukup banyak permainan yang ditata rapi untuk menarik pengunjung. Jauh berbeda dengan yang dulu. Dulu, hanya ada akasia rindang dengan bangku-bangku minimalis yang tertata cukup apik di bawahnya. Saat ini dapat dikatakan bangku-bangku itu tidak mungkin lagi dijumpai di sini.

Aku rindu. Rindu pada bangku yang dulu aku duduki. Ya, di sini. Di tepi kiri taman ini. Di tempat aku selalu menunggu sunset tiba sembari menunggu bintang timur itu muncul. Selalu.

Aku tersenyum geli manakala melihat anak-anak berkejar-kejaran di ujung sana. Ditambah pula, seorang anak yang baru saja mengerjai temannya dengan berpura-pura pingsan. Tampak temannya cukup kaget, kemudian ia tiba-tiba bangun dan tertawa yang melahirkan gelak tawa teman-teman. Bahkan, aku turut tertawa dari kejauhan.

*

Sesekali Nadia merapikan rambut yang ditiup angin, perlahan ia membuka lembaran kertas lalu beralih pada buku mini. Ia melepas kacamata dan meletakkan di bangku di samping kiri, di atas tas ransel yang selalu digunakan setiap berangkat mengajar ke kampus.

“Huh,…” ia menarik napas panjang lalu mengembus, menatap ufuk barat. Tampaknya, matahari belum jua menurun. Ia tersenyum pada langit. Tak lama berselang, lembaran kertas di pangkuan Nadia beterbangan tertiup angin sesaat ketika ia merentangkan tangan. Ia seakan tidak ingin mengacuhkan lembaran itu, ingin membiarkan lembaran itu hidup tanpanya, membiarkan lembaran itu menentukan pijakannya; bebas. Namun, sesaat kemudian ia berdiri menyatukan kembali lembar tersebut.

“Harusnya aku tidak memungutmu lagi.” ucap Nadia pada lembar kertas di tangan, kembali duduk, meletakkan lembaran di sebelah kanan dan menimpanya dengan sebuah novel.

Embusan semesta memainkan rambut yang terurai. Sesekali jemari tangan bergantian seolah menyisir sembari menunduk menelusuri buku mini yang ia namakan “R Notes”. Tampak masih baru, kendati sudah tidak ada lembar yang memungkinkan untuk menggores pena.

“Ini.” ujar seseorang menyodorkan selembar kertas, “Punya Anda?”

“Oh. Iya. Terima kasih.” Nadia meraih kertas yang disodorkan sembari sedikit menundukkan kepala.

Sunset di Kalimantan, tampak seperti skenario yang dapat menggugah rasa. Tepatnya, sebuah kisah di balik senja.” ujar pria bertubuh tegap itu. Ia menatap ke arah barat setelah sekilas membaca judul naskah pada selembar kertas yang ia pungut. Nadia hanya tersenyum, tersenyum menatap pria yang berdiri di samping kanan di depannya.

“Bisa saya duduk di sini?” pria itu menatap Nadia datar.

“Oh, tentu saja, silakan.” segera Nadia memindah lembaran naskah yang ditimpa novel ke sebelah kirinya. Pria itu meletakkan jas di bahu bangku lalu duduk, menyampingkan tas ransel miliknya.

“Anda penulis?” tanya pria itu, sedikitpun ia tidak menatap Nadia. Ia seakan terkesima melihat adegan lucu anak-anak juga deru pancur air yang berada tepat di tengah taman.

“Ya, bisa dikatakan seperti itu.” Nadia pun enggan menatapnya.

Seiring jeda di antara mereka, sedikit mengerutkan kening, Nadia seakan tampak penasaran. Ia memberanikan diri mengintip celah wajah pria itu, “Tampaknya sangat berwibawa. Dari mana pria ini? Dengan siapa dia tadi? Hidungnya mancung, rahangnya kokoh, alis tebal tersisir, bulu matanya lentik.” Nadia seakan tertegun menatap sosok yang berbeda pada hari itu.

“Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Sejak ayah memaksa untuk melanjutkan studi di Belanda. Ya, dapat dikatakan sangat lama.” pria itu memalingkan wajah menatap Nadia di ujung ujaran. Nadia tampak terkejut, wajahnya sekejap memerah sesaat merasa tertangkap basah mengamatinya.

“Ee… em,” Nadia tersenyum dan mengangguk setengah menggumam, seakan memahami atau meng-oh-kan ucapan pria itu. “Di Belanda ambil jurusan apa?” Nadia mengakrabkan diri.

“Filsafat.” jawab pria itu singkat.

“Ke sini sekadar liburan?” Nadia sedikit menyelidik.

“Tidak, dalam waktu dekat ini saya akan kembali untuk melanjutkan S-3 saya di sana, Leiden. Saya sengaja mampir di kota ini sebelum ke sana. Ya, hanya ingin menatap sunset di tempat ini. Setelah ini, saya juga tidak tahu apakah masih mungkin kembali ke sini, karena saya sudah bekerja tetap di Kansas State University. Awalnya, saya berpikir ayah sangat kejam hingga mengirim saya ke luar negeri agar terpisah dari teman-teman yang terkesan berandal. Namun, semuanya menjadikan saya baik adanya.” tuturnya penuh dengan sopan santun dan kharisma. Tutur nada suaranya dapat dipastikan membuat setiap orang yang mendengar tidak akan bosan, sebalik terkesima.

Lama menilik garis wajah pria itu saat berbicara, Nadia seakan-akan menggali sesuatu dalam ingatan. Sesuatu yang sudah lama terkubur. “Tunggu! Wajah ini seakan pernah dekat denganku. Tetapi, siapa dia?”, kembali keningnya menciut. “Robinson!” pekik Nadia dalam hati, matanya membulat berbinar, “Apa mungkin dia Robinson? Pria yang cukup nakal dan selalu menggangguku waktu SMP. Tidak mungkin, Nadia! Dulu dia selalu merusak sepedamu, bahkan tidak segan-segannya menggantung di pagar sekolah. Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin seorang Robinson bisa berbicara seteratur dan sesantun ini di depan manusia.” Nadia mengalihkan pandangan.

Menyadari Nadia melamun sembari memandangnya dengan ekspresi berubah-ubah, pria itu berdehem dan melanjutkan pembicaraan. “Saya hanya ingin bertemu seorang wanita di kota ini. Dulu, dia pernah berkata pada saya akan tetap melanjutkan SMA di sini, tetapi pada kenyataannya dia pulang ke kampung halaman. Saat SMP, dia selalu datang ke taman ini menunggu sunset tiba. Saya selalu mengagumi dia, selalu mengagumi apa yang ada padanya. Dia sederhana, namun saya tahu ada kesederhanaan yang rumit di antara kesederhanaan itu. Terakhir kali saya melihat wajahnya,... saat pembagian kelulusan. Ya itu, saat itu. Itu pertama kalinya dia tersenyum pada saya.”

“Ternyata tidak hanya aku yang senang menunggu sunset. Bahkan, taman ini telah banyak memberi inspirasi untuk melahirkan tulisan.” tutur Nadia dalam hati sembari mengangguk-anggukkan kepala, ia terbawa arus pembicaraan pria itu.

“Lihat! Matahari mulai turun!” pria itu tiba-tiba berdiri dan menunjuk matahari senja yang tampak menggoda. Nadia terkejut. Wajahnya seketika pucat.

“Huh,…” embus Nadia setelah menarik napas, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.

“Maaf,…” pria itu menyadari Nadia sangat tersentak mendengar seruan. Nadia hanya tersenyum tipis lalu berdiri bersampingan.

“Lihatlah. Perhatikan.” ucap pria itu serius.

Mereka berdua tampak menikmati keindahan senja sore. Pria itu merentangkan tangan, menutup mata, menarik napas dalam-dalam dan mengembus lepas. Ia berbalik menatap Nadia. “Terima kasih sudah menemani saya menunggu matahari tidur tiba. Terima kasih, meskipun tanpa dia di sini.” tersenyum, lembut, hangat.

“Terima kasih juga.” Nadia membalas senyum itu sembari kembali duduk dan memasukkan lembar naskah dan novel ke dalam ransel.

Pria itu pun duduk, “Ini buat Anda.” Ia mengeluarkan dua buah minuman dari dalam tas. “Ini adalah minuman kesukaannya. Awalnya, saya tidak suka minuman ini. Namun, setiap kali bertemu dengannya di koperasi sekolah, dia selalu membeli ini dan selalu mengatakan “beli air tahu”. Dia tidak mengatakan beli soya. Sejak itulah saya suka minuman ini, dan selalu mengatakan “minuman air tahu”. Bahkan, setiap ingin berangkat ke luar negeri sewaktu S-1, saya selalu berbekal minuman ini. Di sana cukup sulit untuk menemukannya. Ehm,... karena dia.” tuturnya diakhiri senyum haru menatap botol soya di tangan, kemudian membuka dan meneguk perlahan.

“Bisa saya tahu namanya? Nama wanita itu?” tanya Nadia pelan.

“Nadin. Namanya, Nadin. Dia wanita yang cukup simpel dan tertutup waktu SMP, menurut saya.” Ia menerawang langit Kalimantan, seakan mencari wanita itu di antara barisan awan senja.

“Anda tidak mencarinya melalui jejaring sosial?” tanya Nadia penasaran.

“Pernah. Waktu saya masih S-1. Tetapi, saya enggan menghubunginya, karena saya merasa belum pantas waktu itu. Dulu saya sering stalking akun facebook atau twitter, bahkan halaman blog-nya. Dia selalu menuliskan segala sesuatu yang dia rasakan di akun. Jujur, saat ayahnya pergi, saat itu saya ingin sekali menghubunginya, menguatkannya. Sayang, lagi-lagi saya tidak  punya bahkan sedikit saja keberanian untuk memulai. Namun, setelah mendekati skripsi, saya jarang mengecek akun. Saat mendekati wisuda, saya bertekad untuk menghubungi, tetapi semua akunnya tidak bisa terhubung dengan akun saya.” Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan menyilang kedua kaki, raut sesal tergaris di wajahnya.

“Bisa saya tahu ciri-cirinya?” Nadia kembali bertanya menyelidik.

“Rambutnya lurus, kira-kira sepunggung. Dia sering merapikan rambut dengan jari-jarinya, ketika angin selalu mengusik. Setiap kali ganti kacamata, dia selalu memilih frame berwarna maroon. Ya, itu warna kesukaannya. Saat di kelas waktu SMP, dia selalu menopangkan dagu jika serius mendengar penjelasan guru. Saat dia duduk di taman ini, dia selalu membawa notebook dan pulpen bertinta hijau. Saya masih ingat merek pulpennya Dong-A my-gel atau tinta hitam Drawing Pen 0,1, 0,2, 0,3, dan 0,4. Hanya kedua merek itu. Jika dia menggunakan merek lain, tulisannya tidak akan rapi katanya. Saat duduk di taman ini, saat matahari akan segera tidur, dia selalu menerawang jauh ke langit lepas, seolah-olah ada harapan yang diadukan pada semesta. Saya selalu memperhatikannya, selalu menunggunya di sudut sana. Oya,… satu lagi, saat dia memikirkan sesuatu dan mendapatkan inspirasi, dia akan mengetuk ketuk pelan pulpen di tangan ke kening. Dan,… saya lupa meminta maaf padanya saat perpisahan waktu itu, saya lupa mengatakan bahwa saya tidak pernah mengusili sepedanya, tetapi Arco.”

“Hah! Itu aku!” jerit Nadia dalam hati. “Apa tadi aku melakukan semua kebiasaan yang dia utarakan? Apa mungkin dia mendekat karena memperhatikanku dari jauh?” Nadia menggigit bibir. “Robinson, kenapa…”

“Sayangnya saya tidak juga menemukan ciri-ciri itu lagi di taman ini. Mungkin dia memang tidak pernah kembali ke sini.” lanjut pria itu kembali.

Adzan magrib bergema, senja telah berlalu, Nadia bergeming. “Dia sudah tidak mengenalku lagi.” Ia menatap pria itu, “Robinson, seandainya kamu tahu aku selalu menunggumu datang ke taman ini setiap kali aku menunggu sunset tiba waktu dulu. Dan ternyata, kamu ada. Hal terbesar yang menginspirasiku menjadi seorang penulis adalah kamu. Semuanya, tentangmu. Ternyata, sebuah negara telah mengubahmu menjadi lebih satun dan sopan. Aku bahagia bisa mengenalmu kembali saat ini. Setiap kali aku menerawang langit di Pulau Kalimantan ini, aku berharap ada satu hari dari sekian banyak waktu untuk menerawang langit bersama denganmu. Tidak tahu mengapa, aku tidak pernah membencimu sejak dulu. Aku percaya kamu baik. Dan,… ada banyak alasan mengapa aku menutup akun, aku menyesal.”

“Huh,...” embus pria itu lepas. Ia berdiri meraih tas ransel dan menggantungkan ke pundaknya, meraih jas dari bahu bangku. “Tolong berikan ini jika Anda bertemu dengan wanita seperti ciri-ciri tadi.” Ia memberi Nadia sebuah buku berukuran novel, “Oh ya, nama wanita itu, Nadia. Namun, hati saya selalu menyebutnya Nadin “Nama dalam Batin”. Ya, dia akan selalu ada dalam hati dan batin. Selalu dekat dengan napas dan detak jantung saya.” Robinson melepas senyum khasnya, “Permisi. Sekali lagi, terima kasih.” menundukkan kepala dan berlalu.

Kedua mata Nadia tampak lembap, dan lebih dari itu. Ia berdiri, ingin berlari mengejar dan memeluk. Namun, langkahnya tertahan, “Pergilah, aku bahagia bisa bertemu lagi denganmu, Robin.”

Nadia kembali terduduk di taman yang menyepi. Suara lengkingan anak-anak sudah tidak terdengar. Ia memasang kacamata maroon, masih. Ia menyibak tas dan mengambil sesuatu dari sana.

“Aku juga ingin memberimu tadi”.

Sebotol soya, Nadia masih menyukai minuman itu. Ia tersenyum sedih bercampur bahagia mengingat kejujuran pria itu tentangnya, “minuman air tahu”. Dering ponsel pun seketika membuyarkan pikirannya.

From: Manuella

“Mama di mana? Kok belum pulang, apa masih memberi perkuliahan malam? Hari ini ulang tahun Nuella. Jangan telat ya, Ma.”

Nadia tersenyum dan menyapu wajah dengan sebilah telapak tangan. Ia memasukkan ponsel ke saku dilanjutkan botol minuman dan buku yang dititip ke dalam tas. Embusan senja berdesir manja menyapu wajahnya. “Robin, pasti ada yang lebih baik untukmu.” ucapnya pada angin. Nadia bergegas menuju parkir dan meninggalkan taman.

“Manuella, putri yang kukasihi. Mama pasti tepat janji. Selamat ulang tahun, Nak.” ucap Nadia sembari melaju melintasi Kota Khatulistiwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?