Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?
Pendidikan merupakan salah satu aspek
penting dalam kehidupan kita. Seperti yang kita ketahui, pendidikan bisa ditempuh
melalui banyak media dan salah satunya yaitu dengan bersekolah. Sekolah
merupakan lembaga bagi para siswa untuk mendapatkan pengajaran di bawah
pengawasan guru dengan system yang teratur. Dilansir dari pusatsains.com, sistem pendidikan merupakan suatu strategi yang
digunakan untuk melakukan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar
para pelajar dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya yang
diperlukan untuk dirinya sendiri dan masyarakat. Tujuan dari sistem pendidikan
yaitu untuk mengembangkan potensi dan mencerdaskan individu dengan lebih baik.
Dengan tujuan ini, diharapkan mereka yang memiliki pendidikan dengan baik dapat
memiliki kreativitas, pengetahuan, kepribadian, mandiri dan menjadi pribadi
yang lebih bertanggung jawab. Sistem pendidikan cukup bervariasi di
masing-masing negara. Salah satunya adalah Indonesia yang menerapkan sistem
pendidikan formal dengan cakupan tingkatan pendidikan yang berbeda. Dimulai
dari Sekolah Dasar (SD), kemudian Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah
Menengah Atas (SMA).
Bila berbicara soal sekolah, tentu saja perlu juga untuk
membahas metode pembelajarannya. Metode pembelajaran (learning methods) adalah cara yang digunakan para pengajar untuk
menerapkan rencana pembelajaran, (Kholida
Qothrunnada, DetikJabar.com, 2022). Di Indonesia sendiri, salah satu metode
pembelajaran yang paling umum yakni dengan pemberian tugas atau pekerjaan
rumah.
Dilansir dari Wikipedia.com,
Pekerjaan Rumah (PR) adalah tugas mandiri terstruktur yang diberikan oleh guru
untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan tambahan. PR telah lama menjadi
bagian dari proses belajar-mengajar di sekolah. Namun belakangan ini, PR
seringkali dianggap sebagai beban bagi beberapa siswa, sehingga menimbulkan
pertanyaan yang seringkali ditanyakan, apakah PR benar-benar sepenting itu dan
seberapa efektif PR dalam membangun sebuah sikap kedisiplinan belajar pada
kalangan siswa di Indonesia?
Sebelumnya, pembahasan akan mengacu
pada tujuan dari diberikannya pekerjaan rumah. Fenomena ini sudah banyak
diperbincangkan baik dari kalangan murid maupun orangtua murid. Banyak dari
mereka yang berpendapat bahwa PR sangat dibutuhkan, tetapi tidak sedikit juga
yang beranggapan bahwa PR sangat memberatkan siswa. PR ataupun pekerjaan rumah,
biasanya diberikan oleh para guru di sekolah sebagai latihan tambahan yang
dapat dikerjakan oleh murid-murid di rumah. Tujuan dari diberikannya pekerjaan
rumah juga cukup bervariasi. Salah satunya adalah pekerjaan rumah yang
diberikan oleh guru diharapkan dapat membantu siswa dalam pengulangan dan
pendalaman materi yang telah dipelajari di kelas. Tidak hanya itu, pekerjaan
rumah juga dapat meningkatkan kemandirian dan kedisiplinan siswa dalam mengatur
dan mengelola waktu serta sikap tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Di sisi lain, PR juga menjadi alat atau
tolak ukur bagi guru dalam mengevaluasi sejauh mana siswa memahami
pembelajaran. Melalui tugas-tugas yang dikerjakan di rumah, guru dapat menilai
apakah ada kesulitan yang dihadapi oleh siswa dan apakah perlu dilakukan
pengulangan atau penjelasan tambahan di kelas. PR juga membantu membangun
kebiasaan belajar yang konsisten di luar jam sekolah, sehingga siswa terbiasa
dengan proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Kemudian, bagaimana tanggapan-tanggapan
yang diberikan siswa ketika mereka diberikan pekerjaan rumah? Faktanya,
tanggapan dari siswa terkait dengan pekerjaan rumah dapat bervariasi tergantung
dari jumlah tugas, tingkat kesulitan, serta manfaat yang dirasakan oleh siswa. Tanggapan
positif yang paling umum muncul adalah pengulangan materi sehingga siswa dapat
lebih memperdalam materi yang mereka terima ketika mendengarkan paparan
penjelasan dari guru di sekolah.
PR juga membantu siswa berlatih dan menguji kemampuan
pemahaman mereka terkait dengan materi yang akan diujikan pada ujian mendatang.
Pekerjaan rumah juga secara tidak langsung menumbuhkan rasa tanggung jawab dan
kedisiplinan terhadap kewajiban yang diberikan oleh guru kepada siswa. Kemudian
juga, dengan diberikannya tugas, siswa dapat berusaha untuk meningkatkan nilai
dengan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas tersebut.
Di lain sisi, tanggapan negatif juga
sering timbul dari kalangan pelajar terkait dengan pekerjaan rumah yang
diberikan. Banyak siswa yang merasa bahwa PR justru menjadi beban tambahan yang
membuat mereka stres, terutama jika tugas yang diberikan terlalu banyak dan
harus diselesaikan dalam waktu singkat. Tanggapan lain juga berpendapat bahwa
PR mengambil waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk beristirahat,
bermain, atau melakukan aktivitas lain di luar akademik.
Pekerjaan rumah yang terlalu sulit
justru membuat siswa kewalahan dan akhirnya membuat mereka malas dan kehilangan
motivasi untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan juga mandiri. Namun,
faktanya banyak siswa yang mengalami pemasalahan tersebut, justru memilih jalan
pintas seperti menyontek baik itu menyalin jawaban teman tanpa memahaminya
ataupun menggunakan kecanggihan teknologi seperti AI untuk sekadar menyalin
jawaban.
Permasalahan lain yang juga dapat
timbul ketika PR yang siswa kerjakan tidak selalu diperiksa atau dibahas
kembali di kelas. Hal ini membuat mereka merasa bahwa PR hanya formalitas tanpa
manfaat nyata, karena mereka tidak tahu apakah jawaban mereka benar atau salah.
Akibatnya, mereka kehilangan minat dalam mengerjakan PR dengan
sungguh-sungguh.
Sebelumnya kita juga perlu tahu bagaimana
tolak ukur dari tugas yang efektif bagi siswa. Beberapa aspek yang perlu
dipertimbangkan adalah PR yang efektif harus sesuai dengan materi yang sedang
di pelajari di kelas. Kemudian, jumlah dan tingkat kesulitan tugas yang
diberikan juga harus diperhatikan agar tidak melebihi kapasitas para siswa. Sebagai
tambahan juga, tugas yang diberikan dapat meningkatkan nalar dan cara berpikir
logis siswa. Kemudian, tugas yang
diberikan memiliki umpan balik yang jelas, seperti tugas yang harus dikoreksi
dan juga dibahas ulang oleh guru nantinya. Sehingga siswa juga dapat belajar
dan mengevaluasi kembali terkait dengan materi yang dikerjakan.
Bila aspek-aspek di atas sudah
terpenuhi, maka dapat dikatakan bahwa pekerjaan rumah dapat menjadi media dalam
meningkatkan kedisiplinan siswa. Disertai juga dengan peningkatan rasa tanggung
jawab dan kesadaran siswa dalam mengerjakan tugas. Hal ini dikarenakan,
pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa secara tidak langsung menuntut
siswa untuk dapat disiplin dalam mengelola waktu dan jadwal mereka dengan baik.
Pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru di sekolah tentunya
didasarkan pada tujuan positif yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para siswa
untuk kedepannya. Tetapi, memang diperlukan kerja sama antara pihak guru dan
juga siswa, agar tujuan dan manfaat dari diberikannya pekerjaan rumah dapat tercapai
secara maksimal. Oleh karena itu, peninjauan secara mendalam terkait dengan
tolak ukur dari pekerjaan rumah yang efektif sangatlah penting agar nantinya tidak
menjadi beban bagi para siswa. Dilanjutkan juga dengan para siswa yang harus ikut
berperan aktif dalam proses ini, misalnya saja dengan bersungguh-sungguh dalam
mengerjakan pekerjaan rumah serta ikut memberikan ulasan balik ataupun komentar
bila terdapat penyimpangan dalam pemberian pekerjaan rumah kepada siswa.
Sehingga dapat terwujudkannya manfaat baik dari pemberian pekerjaan rumah yang
efektif terhadap peningkatan kemampuan dan sikap kedisiplinan siswa.
Daftar Pustaka
Anonim. 2019. Pekerjaan Rumah. https://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan_rumah. (Diakses; , Jumat, 7 Februari : 09.47).
Anonim. 2023. Pentingkah PR Bagi Siswa? https://disdikpora.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/35_pentingkah-pr-bagi-siswa#:~:text=Pekerjaan%20Rumah%20(PR)%20telah%20lama,jam%20pelajaran%2C%20biasanya%20di%20rumah. (Diakses; Selasa, 11 Februari : 09.15).
Anonim. 2023. Seberapa Penting Pekerjaan Rumah Bagi Siswa?. https://almasoem.sch.id/seberapa-penting-pekerjaan-rumah-bagi-siswa/. (Diakses; Jumat, 7 Februari : 09.11).
Anonim. 2024. Sistem Pendidikan dan Pembelajaran. https://pusatsains.com/elementor-481/. (Diakses; Jumat, 7 Februari : 09.15).
Qothrunnada Kholida. 2022. 9 Metode Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan. https://www.detik.com/jabar/berita/d-6249529/9-metode-pembelajaran-yang-efektif-dan-menyenangkan. (Diakses; Jumat, 7 Februari : 09.15).
Tim:
Daniel Novalnesson Ginting (6)
Edbert Julian (7)
Feodora Vincentia Josceline (11)
Komentar
Posting Komentar