Kamu pasti pernah, _______________________
Seikat Pisang
“Dunia
masih bercahaya di Khatulistiwa”
Sudah
satu minggu aku tidak keluar rumah. Tidak tahu mengapa rasanya enggan untuk
menginjakkan kaki di aspal hitam itu. Ada rasa yang mendongkol juga resah yang tidak
dapat kuungkapkan, hanya terasa.
Hari
ini, 28 Maret 2014 pukul 17.00, aku menyemangati diri untuk melangkah keluar. Menatap
dan menyakinkan langit masih berwana biru.
Kaki
ini mulai berdendang untuk menelusuri lorong jalan yang cukup padat yang tercipta
oleh macetnya jalanan. Oia, sebelumnya aku harus beritahu kamu dulu bahwa
sesungguhnya di kotaku ini, kamu tidak akan pernah menjumpai oplet, bus kota,
bajaj, atau pangkalan ojek, jika waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, tentunya
hingga subuh kembali berulang. Upsss, . . . maaf sebelumnya, tapi sebut saja,
_______kotaku.
Bahkan anak sekolah saja sudah tidak ada yang mau naik angkutan semisalnyapun masih ada, ___gensi, bus sekolah misalnya.
Saat ini, pemerintah memarakkan kembali penggunaan sepeda di jalanan. Digelar olahraga sepeda, bahkan. Ya, disemarakkan kembali. Namun, menurut pandangan saya penggunaan sepeda di sini sudah berubah sebagai unjuk dari, ___sepeda saya keren.
Yeah, sudah. Lupakan saja. Bukan itu yang ingin aku ceritakan padamu.
Setibanya simpang empat jalan Ampera, ya nama jalan itu jalan Ampera. Saat ini, aku menggunakan kendaraan roda dua yang cukup banyak beredar di mana-mana, sepeda motor. Cukup jauh dari rumahku, 35 menit. Emmmm. . . sudah dua kali aku melintas di sana selama beberapa saat untuk mencari sebuah alamat. Ya, untuk yang kedua kalinya aku melihat seorang kakek tua yang sedang berdagang pisang menggunakan sepeda, di tepi belokan jalan.
Hah, . . . sepedanya pun sudah tak layak lagi disebut sepeda.
Tampak sesaat sebelum, beliau menghentikan sepeda di persimpangan itu, di pinggir jalan raya, tepat belokan menuju jalan Danau Sentarum, ya di sana. Aku yang baru saja bertemu dengan teman wanitaku di perjalanan, melihatnya seolah-olah sedang merapikan atau memperbaiki sepedanya. Tapi, aku rasa tindakan itu dilakukan bukan karena beliau ingin memperbaiki sepeda tersebut, _____namun beliau berharap ada orang yang sudi singgah dan membeli pisang jualannya yang, ______dapat dikatakan setengah sudah busuk. Hanya ada empat ikat pisang Nipa yang masih layak konsumsi.
Aku bersama teman sudah sempat melewati si tua itu. Yah, . . . jika dilihat dari parasnya dapat ditebak umur beliau berkisar 70 tahun ke atas, badannya kurus dengan topi lusuh di kepala. Setelah melewatinya, entah kenapa hati kami seakan-akan tersentuh. Secara pribadi, aku menangis. Aku membayang jika itu adalah Ayahku. Membayangkan jika orang tuaku berada pada posisi itu, _______ah, sedih. :(
Kami kembali berbalik, meninggalkan kendaraan kami di daerah yang telah melewati beliau, sekitar 100m. Kami menemuinya. Berjalan kaki. Tanpa basa-basi kami langsung memilih pisang itu, Rp 10.000,00/ikat _____sebenarnya tidak ada pilihan.
Aku tidak suka makan pisang. Ya, sebenarnya aku tidak suka makan pisang. Sangat tidak suka. Namun, __membeli__ hanya itu cara untuk dapat membantu beliau ketimbang harus memberinya uang secara cuma-cuma dan mungkin akan menyinggung perasaannya. Apakah pisang tersebut akan dimakan atau dibagaimanakan, itu urusan belakangan.
Sesungguhnya,
ada beberapa pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada beliau, akan tetapi urung
kerena menyadari beliau tidak terlalu jelas untuk mendengar. Aku ingin
bertanya, apa ia punya istri, anak atau cucu? Apa istrinya masih ada? Bagaimana
keadaan anak atau cucunya? Apakah mereka memperhatikan beliau? Apakah jualan
pisang tersebut cukup membantu? Apakah penghasilannya mencukupi untuk makan
sehari-hari? Apakah-apakah-apakah dan apakah? Banyak apakah yang ingin kusampaikan,
namun hati ini terasa teriris. Ribuan manusia, ribuan muda-mudi, orang tua,
kaya dan menengah, yang memungkinkan untuk memintas di sana, tapi apakah mereka
merasakan getar pahit si kakek tua itu? Sepemandanganku; dengan santai, dengan
aman, dengan bahagia, dengan tertawa, mereka memintas di sana tanpa melihat si
kakek tua yang terduduk sambil meratapi sepedanya yang tampak tidak memiliki
ban, kempes.
Seperti ini ya hidup yang serba modern, atau dipaksa modern, atau . . . terpaksa modern?
Miskin perasaan, miskin hati nurani, bahkan tidak peka pada diri sendiri. Lantas, pemerintah memperhatikan rakyat bawah itu, ___pemerintah yang kek mana yah?
Miskin perasaan, miskin hati nurani, bahkan tidak peka pada diri sendiri. Lantas, pemerintah memperhatikan rakyat bawah itu, ___pemerintah yang kek mana yah?
Semoga
Tuhan mempertimbangkan jerihmu, Kek.
*kemarin
aku berpikir hidup ini membosankan, jenuh, sebal dengan diri sendiri. Namun,
setelah melihat beliau, ____________ kamu harus selalu bersyukur, Ro!
*Ro
Komentar
Posting Komentar