Segala Rahasia MilikNya

Kau tahu, malam ini 18.41 hujan tercurah dengan derasnya. Aku baru saja hendak memulai anak soal untuk anak-anak didikku, tiba-tiba listrik padam. Halilintar dan guntur menggeliat memangsa di luar sana. Bahkan, acap kali berusaha menerobos celah pintu, jendela, dan pentilasi. Namun, aku hanya terdiam di atas nipan di ruang tamu. Menggenggam erat segelas kopi yang baru saja kubuat. Alunan nada lirih keluar dari bibirku. Perlahan aku menangisi mimpiku. Gemuruh langit yang dahsyat semakin membuncah memekik malam. Aku seakan diingatkan akan dahsyatnya guncangan yang pernah membuatku terhempas tanpa matras, yang telah melemparkanku ke sudut rumah sakit.

Setiap ritme yang kujalani selalu kusyukuri. Semenjak kepergian ayah, traumaku semakin besar terhadap rumah sakit. Disaat aku terjatuh dan kehilangan mental rasa percaya, aku bertemu dengan para psikiater terapi yang dengan ramahnya melayaniku. Disaat aku terjatuh, mereka membuatku luluh dan menemukan sisi lain dari rumah sakit yang pernah menjadi momok menakutkan bagiku. Karena motivasi dari mereka, aku bisa menjadi lebih baik menjalani hari-hari dari proses terapi.

Guncangan yang pernah membuatku terhempas tanpa matras, kukira telah berakhir. Ternyata, rasa trauma yang teramat dahsyat telah merenggut detik-detik hidupku. Aku difonis mengalami “____”. Namun, sampai detik-detik ini aku masih percaya bahwa aku baik-baik saja meskipun aku melakukan pembohongan pada diri. Aku memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan rumah sakit. Aku menutup telingaku dari kebisingan apa kata orang. Entah kenapa, hingga detik ini aku masih percaya ada kuasa yang lebih dahsyat yang sanggup memulihkan. Jikapun tidak, aku yakin dengan takdirku di dalamNya.

Seperti halilintar dan guntur yang menggeliat memangsa di luar, seperti itulah satu momen yang telah mengoyakkan tubuhku. Entah kenapa harus aku. Entah kenapa aku harus tahu. Berjuta umat di dunia ini, namun kenapa harus aku yang terpajangkan?
Tidak, aku tidak menyesalinya.
Aku hanya bertanya.
Hanya bertanya-tanya pada diriku.

Untuk kalian di luar sana, yang sedang terhempas dan hilang arah, tetaplah bersemangat. Jalani sisa waktu yang ada dengan senyuman. Buat kalian di luar sana, yang difonis dengan berbagai fonis, jadilah penyemangat untuk sesama walau dalam rentang waktu yang singkat. Jangan tunjukkan rundungmu, jangan tunjukkan tangismu, jangan tunjukkan lukamu. Tersenyumlah, seolah-olah kau jatuh cinta setiap hari, panjatkanlah doa-doa di setiap langkahmu. Berdoalah untuk mereka yang melukaimu, dan berdoalah juga untuk mereka yang terluka karenamu. Berbagilah selagi ada waktu. Bukankah harta yang kita miliki tidak akan pernah kita bawa pada akhirnya?


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jalan Tuhan adalah yang terbaik. Dia berhak memberi dan mengambil kepunyaanNya. Seperti ketika kepergian ayah, aku berteriak pada Tuhan, memohon untuk tidak mengambilnya dariku, aku memaksaNya untuk membuat mukzijat, tetapi Ia berkata, “Bukan rencanamu tetapi kehendakKu.””

-Ro

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?