Tuhan adalah Sumber Pengharapan (Ro Situmorang)
Bicara
tentang kebaikan Tuhan Yesus dalam hidupku, jika dapat “diandaikan” aku adalah
seseorang yang memiliki banyak utang pada Yesus.
Kali
ini aku dapat berpijak di tempat ini, semua karena kasih-Nya. "Setiap langkahku
ada di mata-Mu. Aku tidak mengerti rencana-Mu dan aku tidak pernah tahu
pikiran-Mu, namun Engkau sangat paham betul rencana-Mu dalam hidupku."
Berulang
kali masuk rumah sakit sejak Agustus 2016, sampai akhirnya difonis oleh dokter,
dan akhirnya aku berkata, “Tuhan aku siap. Aku pasrah.”
Entah
apa yang ada dalam pikiranku, pada bulan Juli 2017, aku mengatakan pada mama, “Ma,
kalau nanti aku pergi dulu, aku kembalikan rumah, aku kembali semuanya yang
kupunya sama Mama." Mama diam tidak memberi jawab.
Setelah beberapa lama, mama bersuara, "Tuhan pasti tunjukkan obat yang
ajaib. Tuhan pasti pertemukan kita dengan dokter yang tepat. Tuhan bisa
melakukan mukjizat apa saja.”
Pada bulan
Oktober, akhirnya merasa cukup siap untuk operasi. Namun mama selalu
mengatakan, “Tidak. Jangan.” Namun, rasanya hari-hari semakin sulit, dan rasa
sakitnya tidak bisa diungkapkan. Meskipun demikian tidak banyak yang tahu bahwa
aku sudah setahun menjalani cek up. Mulai dari jalani terapi sampai cek
jantung. Dan akhirnya, aku mengatakan pada mama, “Ma, aku capek. Boleh nyerah
yah Ma.” Mama hanya diam. Mungkin dia juga bingung karena mendapati anak
gadisnya belajar untuk tidak berpengharapan.
Minggu
kedua pada bulan September, aku dan kakak mendaftar di unit RS lalu ke UGD. Pada minggu kedua tanggal 14 itu, kamar rumah sakit penuh. Dokter menyarankan untuk kembali
pada Senin mendatang, tanggal 18.
Pada minggu ketiga, ada satu kamar yang tersisa. Dalam hati, lega, syukurlah ada kamar. Dokter menganjurkan untuk tes lab, untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan ketika menjalani op. Selama proses menunggu itu, aku selalu tertawa seolah-olah memastikan aku baik-baik saja. Setelah hasil lab ku jadi, perawat memasang infus di tangan kananku. Dalam hati aku bicara, “Tuhan, aku berserah. Yang kutahu aku tidak sedang bermimpi, Tuhan.”
Ketika akan di dorang ke kamar rawat, dokter terlebih dahulu mencek keadaanku. Lalu
dokter mengatakan, pasien tidak layak op. Kondisinya tidak tepat, bisa terjadi
pendarahan dan ini sangat bahaya. Selain itu, pasien terlalu depresi. Op harus
ditunda dan akan diupayakan minggu mendatang.
Minggu
ke-4 aku dan kakak kembali ke RS dan mendaftar seperti sebelumnya. Namun,
dokter jaga waktu itu mengatakan bahwa dokter op sedang delay, dan beliau berhalangan untuk op besok. Lalu dokter tersebut
membuat janji via telepon, "Saya akan op dan rawat kamu tanggal 2 Oktober.”
Pada saat
itu saya benar-benar pasrah. “Tuhan aku pasrah”. Lalu aku mengatakan pada
kakak, “Kak, nanti tanggal 3 aku dibius dari kamar saja, jangan tunggu di kamar
op. Aku siap mau diapakan saja.” Dan ternyata pada tanggal 28 September kakak
mendapat panggilan dari dinas untuk mengikuti sebuah kegiatan selama 15 hari. Dan
untuk kali ke-4 aku batal op.
Dari
itu, mama mengatakan, “Tidak ada lagi op op an. Kita pulang, kita berdoa. Cukup.
Tuhan tidak mau kamu dioperasi. Makanya sudah sampai 4 kali selalu tidak bisa.”
Dan
hari ini, aku masih bisa tersenyum, semua karena kasih-Nya. Mukjizat masih ada di
tahun 2017 dan pada tahun-tahun mendatang. Tetap percaya dan teruslah berdoa.
Ini
kisahku, apa kisahmu?
#Ro
Semangat..!
BalasHapus