Penumpang yang Bijak dan Dewasa
Waktu itu saya mendapat kabar
bahwa pesawat di negara saya jatuh. Butuh waktu yang cukup lama dari kejadian
itu, saya menghubungi ibu sekalian menanyakan peristiwa yang sama. “Aku
bersedih, aku menangis.” tutur saya pada Ibu. Saat itu Ibu bertanya kembali, “Untuk
apa kamu menangis dan bersedih, memangnya ada siapamu di sana?” seolah Ibu
menyatakan bahwa garis takdir tak bisa diubah kecuali kuasa Tuhan. “Bukan, aku
hanya membayangkan ketika kita pulang ke kota Medan (nama kota di kepulauan
Sumatera Utara, Indonesia) kala itu, waktu sudah cukup sore, lalu angin senja
cukup kencang di atas sana. Aku memegang tangan Mama dengan keringat dingin,,,
pesawat terus berputar-putar di atas sana.” Lalu Ibu menjawab, “Ya, memang
menyedihkan, tetapi siapa yang dapat menghindari panggilan kematian?”
Sedikit berbagi pengalaman,
dulu saya pernah memfoto dari ketinggian sana menggunakan kamera tangan. Dan harus
saya akui, itu bukanlah tindakan yang tepat. Berawal dari insfirasi yang muncul di
atas sana dan juga keinginan untuk mendeskripsikan suatu kehidupan. Setelah
saya sadari, saya tidak pernah mengulangi dan memutuskan untuk menghapus
tulisan itu. Ya, tentu saja karena bertolak dengan kata hati saya. Saya mulai membayangkan jika
saja hal itu berdampak buruk, bagaimana? Hanya demi "sekadar tulisan hasil imaji"?
Ah, saya pikir itu tidak setara dengan satu nyawa manusia. Terlebih ketika
menjalani penerbangan domestik yang bisa saja mencapai 20.000 kaki lebih, sudah dapat dipastikan bahwa tentunya
pemandangan penerbangan non-domestik jauh lebih menggiurkan, ditambah pula jika kita
tiba pada perbatasan malam dan pagi atau siang. Namun, coba pikirkan, bagaimana
jika terjadi hal yang tidak diinginkan?
Jujur saja setiap kali menaiki
pesawat, hal yang paling menjengkelkan bagi saya adalah pengguna ponsel yang
tidak peduli bahwa radiasi ponsel sangat berpengaruh pada sistem navigasi. Saya
kerap kali menggerutu ketika melihat masih saja ada penumpang yang bertelepon
ketika sudah memasuki pesawat. Bahkan, ketika pengisian bahan bakar, masih saja ada yang sempat-sempatnya untuk bertelepon; ditegur tidak peduli, sampai petugas yang
menegur langsung dan itupun responnya tidak lazim. Saya selalu bertanya-tanya,
sepenting itukah? Tidak hanya itu,,, ketika mikrofon berbunyi tanda pesawat
akan mendarat kurang lebih lima belas menit lagi, saya tidak jarang melihat penumpang sudah
mulai gelisah memeriksa tas mininya… dan yang paling menjengkelkan tak jarang
dari penumpang sudah mempersiapkan ponsel di tangannya.
Seketika pesawat meluncur
mendarat, maka sekejap akan terdengar bunyi aktif ponsel di dalam pesawat. “Hei!
Sepenting itukah untuk bergesa mengaktifkan ponsel? Tidak bisakah sebentar saja
untuk mendisiplinkan diri dengan peraturan yang telah disampaikan? Ingat, di
pesawat itu tidak hanya kamu sendiri, ada puluhan bahkan ratusan nyawa di
dalamnya. Memangnya kamu kira masuk di dalam pesawat itu sedang simulasi
menaiki mainan odong-odong? Sekalipun instruktur memberikan tata cara
penyelamatan diri, apa kamu yakin kamu sanggup menyelamatkan diri dalam kondisi
terdesak? Ingat, di luar sana bukan daratan yang bisa dilompat begitu saja.
Ingat, di luar sana ada langit bebas "gravitasi", kamu tidak punya tempat untuk
berpegang.
Tidak hanya itu, saya juga
heran melihat banyaknya para penumpang “alay” (maaf) yang kerap memfoto langit
lalu membagikannya di sosial media dengan status alaynya. “Sepenting itukah? Kamu
sedang di ketinggian, bukan sedang bermain-main. Keputusan menaiki pesawat
adalah perihal nyawa seperangkat dengan segala konsikuensinya.”Tidak hanya itu,
tidak jarang juga, di negara saya, penumpang hanya memode flight pada ponselnya supaya tetap bisa memainkan game (permainan) atau sekadar mendengar mp3 dari
ponsel. Apa sepenting itu, durasi waktu yang tidak begitu lama harus dihabiskan
dengan hal yang sama sekali tidak berfaedah? Cobalah mulai sekarang mengubah
polanya, jika Anda melakukan penerbangan pagi, maka bawalah buku yang bisa Anda
baca di atas sana jika hanya sekadar menghindari kebosanan atau gabut (gak ada
buat).
Mulai dari sekarang, jadilah
penumpang pesawat yang bijaksana wahai saudara-saudaraku. Ingat, setiap kita
selalu dinantikan keluarga kepulanganya untuk berkumpul bersama, bukan dalam
kondisi ataupun pemberitaan yang tidak diharapkan. Saya berbagi pengalaman ini,
agar kita saling mengutamakan keselamatan bersama. Mulailah berbenah diri. Mendisiplinkan
diri. Jangan mengulangi kembali kecerobohan yang tidak berguna, tidak ada kata
terlambat untuk kita mulai sekarang. Jika kita memiliki orang tua, harapan saya
kita sebagai generasi muda tidak lupa dan lelah untuk mengingatkan orang tua
kita yang melakukan penerbangan bagaimana cara menon-aktifkan ponsel.
Sederhana, kita hanya perlu hati dan aplikasi tindakan untuk mendisiplin diri. Renungkan,
mematikan ponsel kita di saat memasuki pesawat tidak merugikan kita serupiah
sekalipun. Utamakan keselamatan. Mari, jadilah penumpang yang bijak dan dewasa. –Ro Situmorang
Komentar
Posting Komentar