Tuhan Yesus Mau Kamu Setia Sampai Akhir
Bagi
saya manusia sangat unik. Ya... unik. Bayangkan saja, manusia itu ketika
mendapat masalah pasti mengatakan, “Tuhan tahu aku sanggup.” Bahkan tidak
jarang, sesama manusia juga mengatakan pada sahabatnya yang sedang bermasalah
atau hal apa pun itu, “Tuhan tahu kamu kuat, kamu sanggup.”
Menyoroti
kalimat yang sering kali muncul di kalangan masyarakat, saya hanya ingin
mengatakan, “Kamu punya masalah apapun, keuangan, sakit, masalah apa pun itu,
bukan berarti karena hal Tuhan tahu kamu sanggup menjalaninya. Coba siapkan waktu
untuk koreksi kembali, apakah semua masalah itu datangnya dari Tuhan? Satu di
antara contoh yang dapat saya beri; seseorang mengidap penyakit HIV karena
kebiasaan berhubungan sex bebas, lantas apakah itu layak dikatakan karena Tuhan
tahu seseorang tersebut kuat untuk menjalaninya? Apakah ujian penyakit itu dari
Tuhan? Atau, itu adalah penyakit yang muncul dampak dari lemahnya iman
seseorang dalam mengatasi nafsu?”
Lantas
tidak hanya itu, contoh lainnya, ketika seseorang terkena penyakit kanker
karena kebiasaan makan makanan yang tidak sehat, apakah itu juga ujian dari
Tuhan karena orang tersebut sanggup? Atau, seseorang yang mengalami cacat fisik
sedari lahir, itu adalah kesengajaan Tuhan karena seseorang tersebut sanggup? Atau,
ketika seseorang lahir dengan sempurna dan setelah dewasa mengalami kecelakaan
dan akhirnya seseorang tersebut kehilangan fungsi organ tertentu, lantas juga
akan dikatakan karena Tuhan tahu seseorang itu sanggup?
Di
sini saya mau memberi tahu pembaca terkasih sekalian, apa pun masalahmu, apa
pun bebanmu, apa pun kendala yang terjadi dalam hidupmu, mungkin saja kamu
difonis penyakit yang sangat berbahaya, mungkin saja kamu kehilangan orang yang
kamu kasihi, mungkin saja kamu kehilangan saham triliunan, mungkin kamu harus
kehilangan apa yang sudah kamu usahakan dan jaga selama ini, semuanya bukan
berarti karena hal Tuhan tahu kamu sanggup untuk melewatinya. Lihat dulu
konteksnya. Ada hal yang terjadi atas seizin Tuhan, ada pula hal yang terjadi
akibat dari kelakuan diri sendiri.
Di
sini, saya mau memberi tahu kepada pembaca sekalian, Tuhan memberi suatu
pencobaan bukan berarti karena hal Tuhan tahu kamu sanggup. Karena lebih dari itu
Tuhan adalah mahatahu. Akan tetapi, segala masalah yang hadir dalam hidupmu,
adalah proses pendewasaan diri. Apakah kamu akan kembali padaNya? Apakah kamu
akan tetap mempertahankan iman percayamu selama kamu dalam masa sesak? Apakah kamu
aku tetap memilih “percaya saja” pada Tuhan?
Apa
pun masalah kita, apa pun hal pelik yang terjadi dalam kehidupan kita, saya mau
beritahu, “Bukan karena hal Tuhan tahu kamu sanggup, tetapi semuanya adalah proses
pendewasaan apakah kamu akan tetap “percaya padaNya” apapun yang terjadi dalam
hidupmu. Bahkan, ketika masalah itu tidak selalu berakhir pada hal positif. Contohnya; kamu harus kehilangan orang yang kamu sayangi, kamu harus kehilangan
fungsi organ tertentu, kamu kehilangan seluruh kekayaanmu, dan di balik itu
semua kamu tetap memilih, “Saya percaya Tuhan Yesus yang mati di kayu salib
untuk dosa-dosa pelanggaran saya.” Bukan menjadi seseorang yang ketika sakit,
bahkan ketika pihak rumah sakit menolak, lantas memilih untuk berobat pada para
peramal, para tukang tenung. Namun, yang Tuhan Yesus mau, ketika kamu sakit
parah kamu tetap berkata, “Tuhan apapun yang terjadi dalam hidup saya, saya
serahkan semuanya padaMu. Saya ciptaanMu, maka semuanya kembali pada
perkenananMu.”"
Mungkin
di luar sana, ada seseorang yang sakit karena perlakuannya sendiri, karena
kecerobahannya sendiri, saya mau beri tahu Saudara, bahwa Tuhan Yesus selalu
menunggu Saudara untuk kembali. Tuhan Yesus tidak memandang seberapa kotornya
Saudara, seberapa hancurnya Saudara, dan seberapa tidak layaknya Saudara di
mata manusia. Ketahuilah, Tuhan Yesus sanggup membersihkan dengan bilur-bilurNya.
Apa pun yang terjadi, kembalilah. Jika Saudara diberikan mujizat kesembuhan,
artinya Tuhan ingin kamu menjadi sarana untuk menyampaikan kesaksian tentangNya.
Dan jika pun Tuhan berkata, anakKu waktumu sudah usai, maka kamu akan tiba di
Kerajaan Surga.
Mulai
sekarang, berhenti mengatakan, “Karena Tuhan tahu saya/kamu sanggup.” Sanggup tidak
sanggup kamu melewatinya, Tuhan mau melihat proses itu apakah membawa pada
pertobatan, penyerahan diri sepenuh, merendahkan diri, sampai pada batas akhir
kamu tetap setia pada Tuhan Yesus. Setia pada Tuhan Yesus sampai akhir, itulah
yang utama. Bukan seberapa besar masalahmu, bukan hal Tuhan tahu kamu sanggup.
Mengapa
saya berani mengatakan seperti itu? Sebelumnya sebelum saya membagikan ini pada
pembaca sekalian, saya sudah lebih dahulu mengalaminya. Apakah gampang? Tidak. Namun,
di sini iman kita dibentuk. Melalui pencobaan, saya sadar fokus utama dalam
hidup adalah percaya pada Yesus Kristus, Tuhan, Allah yang hidup.
Suatu
hari, ayah saya difonis penyakit kanker hati stadium akhir. Tidak sedikit orang
mengatakan, “Tuhan tahu ayahmu sanggup melewati, ayahmu pasti sembuh.” Sesungguhnya
itu hanyalah susunan kata pelibur lara, dan yang Tuhan mau adalah bagaimana
saya harus ikhlas mendoa bahwa Tuhan sungguh baik dalam keluarga saya. Tidak hanya
itu, ketika Januari 2017 saya difonis sakit, dan saya harus menjalani terapi
berulang kali, bahkan saya hampir menyerah untuk melewati satu hari untuk satu
hari, dan sampai akhir saya pasrah dan memilih “percaya saja” pada
perkenananNya. Bahkan, hingga saat ini jika saya masih bisa menulis ini untuk
pembaca sekalian, ini adalah kasih karunia Tuhan dalam hidup saya. Itu
sebabnya, bagi saya setiap hari adalah kesempatan yang dahsyat dari Yesus yang
hidup dalam hidup saya. Bagaimana saya belajar untuk mengidolakan satu pribadi,
Yesus Kristus.
“Apa
pun yang terjadi dalam kehidupanmu, ingatlah bahwa itu bukan berarti karena hal
Tuhan tahu kamu sanggup. Sebab, sedari permulaan Ia adalah Allah yang Mahatahu.
Namun, Tuhan Yesus ingin seberapa beratpun masalahmu, pergumulanmu, dan sampai
pada batas akhir, kamu tetap katakan “Tuhan Yesus mengasihi saya, Tuhan Yesus
mencintai saya, saya tidak akan meninggalkanNya. Sampai pada masa akhir saya,
Tuhan Yesus tetap menjadi sandaran dalam kehidupan saya.” – Ro Situmorang
Ma'am, thanks for writing this. 😃
BalasHapus