RencanaNya Selalu Indah Bagiku


Aku Punya Cerita
Edisi XVII

Pada jeda kali ini, saya akan bercerita kembali mengenai diri saya J
Dan kali ini, tentunya mungkin tidak pernah dibayangkan oleh orang lain.
Cerita ini cukup panjang, tetapi akan saya persingkat saja. J

Jadi, dulu ketika SMA, saya sempat memiliki cita-cita menjadi seorang “SUSTER”. Ya, suster yang biasanya akan kamu jumpa di biara-biara atau persekolahan Katolik. Namun, latar belakang saya sebagai seorang Kristen, tentunya tidak memungkinkan saya untuk menjalani kehidupan membiara sebagai seorang suster.

Ya ha,,, memang mungkin cukup tidak logis dengan impian saya yang satu itu. Bahkan, tidak seorangpun keluarga saya yang mengetahui cita-cita saya yang satu itu. Ditambah pula, ketika saya duduk di bangku SMA saya ditawari beasiswa kuliah ke mana saja dengan catatan saya berpindah menjadi seorang Katolik. Namun, Ibu saya menolaknya (ini kisahnya cukup panjang).

Dulu, sempat terbersit di pikiran saya untuk berpindah agama, terutama ada tawaran beasiswa. Namun, seiring pengenalan saya akan iman Kristiani membuat saya malah semakin kuat dengan iman yang saya jalani. Akan tetapi, saya berpikir bahwa hidup menyendiri atau memutuskan menjadi “single” bukanlah hal yang salah. Saya pikir, saya tidak harus berpindah agama dan menjadi seorang suster. Cukup mendalami iman Kristiani dan menjalani kehidupan saya dengan penuh suka cita; saya rasa itu jauh lebih tepat.

Dalam proses menjalani kehidupan, saya mulai menemukan mukjizat dari Tuhan, kuasa pertolongan dariNya. Meskipun saya terlahir di keluarga Kristen bukan berarti saya mengenal dan tahu dengan baik sebuah “keselamatan yang dahsyat dari Tuhan Yesus”. Sewaktu kecil, yang saya tahu “saya seorang Kristen, Tuhan Yesus baik, Dia disalib untuk menebus dosa saya.” Hanya itu. Hahahaaa… saya belum merasakan apa yang dimaksud dengan lawatan kuasa Roh Kudus apalagi mengimani yang tidak dilihat. Apakah Roh Kudus bekerja dalam kehidupan saya? Atau hal lainnya yang sering muncul dalam benak seorang Kristiani yang sekadarnya saja.

Semuanya berubah ketika saya mulai melanjutkan pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Setahun sebelumnya saya sempat berhenti kuliah (suatu saat akan saya ceritakan jika saya ingin) dan hal itu sangat membebani hidup saya. Bahkan, sempat berpikir untuk menyudahi pertualangan hidup saya. Ya, waktu itu saya belum mengenal Tuhan Yesus dengan baik. Pandangan saya masih gelap, sebatas pemikiran saya. Saya belum bisa menilai peristiwa dalam hidup saya sebagai pelajaran yang membawa saya lebih dekat dengan Tuhan.

Baiklah, singkat cerita saya kuliah. Saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Sedikit bergaul sehingga tak jarang dianggap sombong atau sok pintar dan apalah itu. Namun, saya tak ambil pusing hal demikian. Sewaktu kuliah, saya juga mengenal diri saya sebagai manusia malam, yang artinya saya tidur setelah larut subuh. Pada masa inilah saya mulai mengenal Tuhan kembali, yang artinya dalam konteks "penemuan". Saya mulai rajin membiasakan diri mendengar lagu rohani, rajin berdoa, bahkan tengah malam pun saya bisa berdoa. Pada saat itu saya sungguh merasa bahwa Tuhan Yesus itu sangat dekat dengan saya. Banyak pengalaman-pengalaman spiritual yang saya alami dalam hidup. Yakni, apa yang mustahil bagi saya itu mungkin bagi Tuhan. Saat saya merasa saya tidak bisa, tetapi Tuhan menunjukkan hasil yang saya kerjakan sangat memuaskan. Bagaimana Tuhan menuntun saya melalui mimpi, perasaan, dan kepekaan terhadapat situasi lingkungan. Bahkan, ketika itu saya membuat list doa dan permohoman yang menjadi kebiasaan saya sampai saat ini; satu persatu Tuhan menjawab permohonan saya. Mulai masa itu pula, saya mulai belajar memotivasi teman-teman saya, baik yang seiman maupun berbeda. Dan saya bahagia, mereka dipulihkan. Dan saya sangat percaya, bahwa kuasa doa sangat luar biasa.

Saya bangga mengatakan, "Seorang Ro sangat bersyukur dan bangga menjadi Kristen, yaitu Pengikut Yesus Kristus yang mati di kayu salib untuk mengampuni dosa saya. Saya menjadi Kristen bukan karena orang tua saya Kristen atau keluarga saya lainnya adalah Kristen, tetapi saya menjadi seorang Kristen karena panggilan Tuhan Yesus dalam hidup Ro, karena Tuhan memenangkan hati saya untuk di desain sebagai perpanjangan tanganNya, karena kuasa Tuhan yang luar biasa yang menyelamatkan hidup Ro." 

Semakin hari dan berganti tahun, saya semakin akrab dengan Tuhan. Ya, saya menyadari Tuhan Yesus sesungguhnya dekat dengan mereka yang patah hati, pada mereka yang berseru padaNya, pada mereka yang ketika terjatuh ingat menyebut namaNya, apalagi pada mereka yang selalu berserah dan mengandalkanNya.
Saat ini, ya tepatnya saat mengetik ini, masih juga sesekali terbersit pikiran saya tentang impian sebagai seorang suster, dan ya,,, saya rasa pikiran saya kala itu sangat dapat dijengkal. Namun, saat ini saya berpikir, menjadi pelayanNya, bukan hal single atau tidak, tetapi bagaimana membentuk hati yang menyerahkan hidup pada pelayanan rohani, membantu mereka yang tidak mampu, menjadi penyemangat atau pun memotivasi hidup mereka yang rapuh.  -Ro

“Tuhan Yesus dekat, bahkan sangat dekat dengan mereka yang selalu berseru dan berserah padaNya. Rancangan Tuhan tidak pernah gagal, walaupun cara pandangmu memandang hidupmu telah gagal. Tuhan hanya ingin kamu percaya padaNya dalam segala kesesakan hidupmu, dan selalu mengucap syukur akan anugerahNya yang dilimpahiNya dalam hidupmu.” #Ro

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?