Ateis


Shalom teman-teman, hari ini Ro ingin membahas sekilas dan singkat satu pertanyaan yang menurut saya sangat menarik. Seorang remaja bertanya, “Bagaimana tanggapanmu mengenai ateis?”


Entah mengapa tiba-tiba saja percakapan kami bisa menjurus ke arah sana. Saya lupa asal mulanya kenapa ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan itu. Lalu sahabatnya pun menimpali dan akhirnya perbincangan terfokus pada pertanyaan. Saya hanya tersenyum tipis sesekali mengangguk-angguk mendengarkan penuturannya hingga pada akhirnya ia mengatakan, "Saya sudah dibaptis,  namun sekarang saya sudah ateis." Lagi-lagi saya masih tersenyum dan serius mendengar penuturannya, "Kenapa kamu tidak mencerca saya? Selama ini saya takut mengaku ateis pada mereka yang beragama, mereka mencerca saya. Ketika saya beragama, kaum ateis mencerca saya karena terlalu bodoh memercayai adanya Tuhan. Sementara kamu, tampak santai dan biasa-biasa saja dengan semua penuturan saya?" Ia tampak heran. Baginya ekspresi saya berbeda dengan orang-orang yang ia tanyai sebelumnya mengenai perspektif ateis. Bahkan, tak jarang ia sendiri takut untuk mengatakan secara jujur bahwa ia sedang berada pada fase menjadi ateis setelah memeluk satu agama.

Ketika sebagian orang yang mengetahuinya berpindah keyakinan, mereka mencercanya. Ini bukanlah hal yang mudah baginya untuk jujur telah berubah dari seorang yang telah dibaptis menjadi seorang ateis. Dan entahlah, kali ini ia sepertinya mantap untuk menceritakan mengapa pilihannya jatuh pada konteks ateis. Pro dan kontra pun harus ia lalui dalam kehidupannya.

Tentunya, hal tersebut tidak terjadi begitu saja. Berasal dari keluarga yang memang tidak memercayai adanya Tuhan, membuatnya bising ketika selalu merasa tertuduh dengan dugaan terlalu dungu untuk memercayai adanya Pencipta. Keributan-keributan kecil hingga besar pun terjadi, dan ia cukup muak untuk memperdebatkan hal yang itu-itu saja. Yah, menurut saya ia hanya sedang "kehilangan radarnya".

"Ringkas cerita, saya menjawab dengan keterbatasan saya, "Mengapa saya harus mencercamu? Menjadi ateis bukanlah berarti kamu pendosa yang layak dicerca dan lebih buruk dari saya. Bahkan kamu tidak memahami penuh filsafat ateis; selama kamu tidak menganut pandangan "hedonisme, vitalisme, machiavellisme", menurut saya kamu sedang "kacau". Tetaplah menjadi orang baik, tetaplah mencari-Nya. Kamu hanya sedang terhilang dari peredaran. Masih ada kesempatan untuk kembali. Kamu masih terlalu muda untuk memutuskan segalanya secara sahih. Kamu hanya sedang tersesat dalam menemukan jalan-Nya. Sejauh apapun kamu menjauh, Dia dapat memanggilmu kembali. Belajarlah mengampuni orang-orang yang mencercamu. Yang terpenting adalah, 'jangan mengunci hatimu pada paham tersebut, lalu membuang kunci itu ke dalam lautan.' Kamu masih terlalu muda, masih ada kesempatan yang dapat kamu gunakan untuk menemukan-Nya. Untuk menemukan hadir-Nya."

Sejauh apapun kamu menjauh, Tuhan tetap dapat memanggilmu kembali. Maka, bukalah hatimu. Belajarlah mengampuni orang-orang yang mencercamu ketika kamu meletakkan kepercayaanmu pada-Nya dan bahkan ketika kamu sedang tersesat. Pandangan saya, hal kepercayaan adalah hubungan intim hati dengan Sang Mahakarya. Tuhan punya rancangan rencana untuk menjangkaumu kembali.

Dulu, saya juga sempat mengembara ke berbagai penjuru pengetahuan agama. Sampai akhirnya, saya tiba di satu titik “kehilangan arah”. Pada masa itu, saya menemukan satu sosok yang benar-benar hidup, yaitu Yesus Kristus.

Saya pernah depresi berat. Obat tidak ampuh untuk menenangkan. Rasa ingin bunuh diri pun pernah terlintas. Namun, pada masa-masa itu saya merasakan ada kuasa yang tak terbatas yang memberikan saya kekuatan walaupun secara manusiawi sudah tidak sanggup. Ia menemukan saya. Ia menunjukkan belas kasih-Nya ketika saya membuka hati berserah untuk dibentuk oleh-Nya. Sekali lagi, jika mengandalkan kekuatan pribadi, secara manusiawi saya tidak sanggup. Bahkan, jika saat ini saya ada di hadapanmu dan mendengar seluruh kisahmu, “Ini adalah kesempatan dari-Nya dalam hidup saya. Karena lagi-lagi, hidup saya yang lama sudah mati, dan tahun-tahun ke depan adalah bonus terindah dari-Nya.

Mengapa saya tidak mencercamu dengan pengakuan ateis? Ya, itu pula sebabnya mengapa saya tidak fanatik terhadap agama lain. "Saya sangat percaya bahwa kita punya panggilan hidup masing-masing. Saat ini, kamu mengatakan ateis, tetapi ketika Tuhan memanggilmu menjadi perpanjangan tangan-Nya, kamu tidak akan pernah sanggup menolak-Nya. Bersemangatlah. Teruskanlah pencarianmu "sampai kamu menemukan-Nya, atau Ia yang menemukanmu. Pahamilah, "Ia bukan lagi Tuhan jika rancangan-Nya dapat diselami oleh manusia.""

Di unjung pertanyaan dan pembahasan yang panjang lebar itu, ia tersenyum puas. "Baiklah,  aku akan meneruskan pencarian sampai aku menemukan-Nya atau Ia yang menemukanku."  ujarnya.

Yesaya 42:6 “Aku ini, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat menusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa.”

Salam kasih, Tuhan Yesus tetap mengasihimu.-Ro Situmorang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?