Rajawali Tidak Terbang Bersama Merpati
"Rajawali Tidak Terbang Bersama Merpati”
Entahlah, aku tidak suka dengan kalimat itu. Jika ia sungguh rajawali, kenapa harus bermegah?
Rajawali memang terbang tinggi, tinggi sendirian. Lantas, apa salahnya jika ia melangkah bersama merpati? Apakah sayap kokohnya lantas tak berfungsi? Apakah itu akan menurunkan derajatnya?
“Rajawali yang sesungguhnya
akan tetap menjadi rajawali. Halnya, permata akan tetap permata sekalipun ia
tersembunyi di dasar kedalaman.”
Siapa yang lebih tinggi, ia
harus dapat merendah. Karena yang rendah (di bawah) tidak selalu bisa menggapai
yang tinggi. Artinya, ketika kamu berada pada puncak kejayaan jangan lupa untuk
melihat mereka yang berkekurangan. Siapapun mereka, berbau atau tidak bermegah,
selalu ada pembelajaran yang dapat dipetik dari.
Sini, kubisikkan;
“Sebagian dari bahkan seluruh,
hidup kita adalah takdir; rahasia waktu yang tidak bisa ditebak alurnya sampai
akhirnya kita tiba pada masa demi masa yang adalah bagian kita.”
Siapa yang merencanakan
hidupnya menjadi miskin, hancur, dan tidak berpengharapan?
Semua orang berusaha, semua
orang berjuang; dengan kapasitas diri yang pada akhirnya berhasil bertahan atau
sebaliknya, menyerah.
Semua orang berusaha, semua
orang berjuang; ada yang sukses karena terlahir dari keluarga berada, ada pula
yang hancur karena kekayaan orang tua. Ada yang berhasil berjuang dari keluarga
yang sederhana, bahkan tidak sedikit yang sukses meskipun dibuang oleh orang
tuanya. Sebagian lagi, kekayaan dan kesederhanaan tidak menjadikannya
siapa-siapa.
“Siapa bermegah, sesungguhnya
ia tidak punya apa-apa. Rajawali memang terbang tinggi, namun bukan berarti
merpati tidak berarti.” Lingkungan (pergaulan) memang menentukan siapa dirimu,
namun bukan berarti “siapa dirimu” menjauhkanmu dari lingkungan.
“Menjadi seorang “presiden”
adalah kemuliaan dan kebanggaan, namun jika semua adalah “presiden” lantas siapa yang
akan dipimpin?”
Jika seluruh manusia di muka
bumi adalah “seniman”, lantas siapa yag menjadi petani, pedagang, atau kurir?
Masihkah uang dapat diperhamba sebagai tolok ukur kejayaan? Masihkah
barang-barang ternama menjadi sebuah kebanggaan dan menajadi standar pergaulan?
Kita, aku, kamu, kalian,
mereka; semuanya, mengenal atau tidak saling mengenal adalah serangkaian yang
harus saling berpegangan. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih
rendah. Tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang nista. Kita, siapapun diri
ini, hanya sedang memperjuangakan takdir yang adalah bagian dari panggilan
hidup masing-masing.
“Hidup adalah kesempatan untuk
berbuah, dan jadilah berkat.” #Ro
181220, 03.08 am; sebuah
perenungan pribadi di pukul yang sunyi ditemani suara jangrik yang merdu dan
dentingan sisa-sisa tetes rinai di subuh berembun.
Ini pikiranku, pikirkan
pikiranmu.
Salam,
Komentar
Posting Komentar