Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Hujan

  Aku jatuh cinta pada tetes hujan di ujung daun pinang Derai semesta membawa sejuk romansa hati yang terserang duka Lagi, tiup angin menyentuh daun sungguhlah dengan cinta Kali ini, angin begitu halus tidak beringas meninggalkan puing porak-poranda Tetes lembut meluncur membasahi tanah Menghidupkan pejuang baru yang segera menyapa semesta Sayangnya, pejuang baru tak pernah tahu bahwa semesta tak selalu selembut tetes hujan, tak juga sehalus sapaan angin yang membawa hawa dingin yang menghangatkan Pontinaka, 5 Februari

Kubalut Patahan Hatiku

Langit  tak begitu mendung, namun cukup suram untuk kupandang Dadaku sakit entah bagaimana aku harus mendeskripsikannya Air mata pun tak lagi dapat kubendung, mengalir tanpa dapat kubantahkan Berulang kali kukatakan, “Aku baik-baik saja.” namun nyatanya tak semudah mengatakan Aku harus memaksa untuk tetap waras walau sesungguhnya aku merasa aku hanya menolak kenyataan saja Ternyata, mencintai tak seindah kisah dalam drama yang selalu berujung bahagia Entahlah, apakah jenis drama cinta yang sedang aku perankan? Tidak, ini kelalaianku Harusnya aku tidak mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam mencinta Harusnya aku cukup memahaminya saja, bahwa cinta adalah cokelat pahit yang tak senikmat kata orang Kisah cintaku tak selegit sanset di penghujung hari Bahkan, aku gagal mendefinisikan cinta yang harus kuperjuangkan Sedari awal, akulah Si Pemula Aku tak pernah mengira akan jatuh begitu serius padamu yang tak pernah bersuara Aku terlalu bodoh untuk cinta yang jelas bertepuk se...

Surat untuk Pujaan Hati

Setiap hari aku menunggu. Ya, menunggumu mengucapkan sebuah kalimat sederhana. Namun, sayangnya aku tak juga mendapatkannya.  Setiap hari aku merindukanmu, walau kutahu aku tak punya hak untuk sebuah rindu padamu.  Ah, aku hanya terlalu percaya diri. Kukira sajakmu adalah aku, kukira sungguh kamu akan datang padaku, kukira kamu akan berjuang untukku. Tidak. Itu bukan untukku. Kukira sungguh, tak akan ada kata selamat tinggal di antara kita; namun nyatanya kamu memilih pergi untuk menghindari alurnya. Aku tidak bisa mengejarmu lagi, tidak akan, walau sesak menghujani. Aku tidak mungkin baik-baik saja. Aku merasa perih, namun aku akan menanggungnya. Untuk hati yang remuk oleh pujaan hati, adalah sebuah tanggung jawab pribadi untuk memulihkannya. Aku akan selalu mengingatmu sebagai bagian hidup yang kumuseumkan dengan ukiran pesan indah walau tak pernah kulihat dan kusentuh.   Pontianak, 4 Februari 2022 Rolah Sri Rejeki