Kubalut Patahan Hatiku

Langit tak begitu mendung, namun cukup suram untuk kupandang
Dadaku sakit entah bagaimana aku harus mendeskripsikannya
Air mata pun tak lagi dapat kubendung, mengalir tanpa dapat kubantahkan
Berulang kali kukatakan, “Aku baik-baik saja.” namun nyatanya tak semudah mengatakan
Aku harus memaksa untuk tetap waras walau sesungguhnya aku merasa aku hanya menolak kenyataan saja

Ternyata, mencintai tak seindah kisah dalam drama yang selalu berujung bahagia
Entahlah, apakah jenis drama cinta yang sedang aku perankan?

Tidak, ini kelalaianku
Harusnya aku tidak mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam mencinta
Harusnya aku cukup memahaminya saja, bahwa cinta adalah cokelat pahit yang tak senikmat kata orang
Kisah cintaku tak selegit sanset di penghujung hari
Bahkan, aku gagal mendefinisikan cinta yang harus kuperjuangkan

Sedari awal, akulah Si Pemula
Aku tak pernah mengira akan jatuh begitu serius padamu yang tak pernah bersuara
Aku terlalu bodoh untuk cinta yang jelas bertepuk sebelah tangan, yang telah aku titi sendiri
Kukira ini hanyalah bohongan, ternyata hati ini serius

Selamat jalan, selamat berjuang
Aku tidak akan menunggu untukmu, namun jika nanti kamu temui aku masih sendiri artinya aku masih berjuang untuk hidup sembari menikmati rasa sakitku sendiri
Aku akan berjuang untuk tetap berdiri walau ketika oksigen seketika terasa kosong dalam ruangku
Aku akan tetap hidup walau sesungguhnya aku ingin segera berakhir
Aku akan bangkit, walau dengan cara yang tak kupahami
Selamat jalan, aku tidak akan menunggu untukmu

 

Pontianak, 5 Februari 2022
Rolah Sri Rejeki

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?