Surat untuk Pujaan Hati
Setiap hari aku menunggu. Ya, menunggumu mengucapkan sebuah
kalimat sederhana. Namun, sayangnya aku tak juga mendapatkannya. Setiap hari aku merindukanmu, walau kutahu aku tak punya hak untuk sebuah rindu
padamu.
Ah, aku hanya terlalu percaya diri.
Kukira sajakmu adalah aku, kukira sungguh kamu akan datang padaku, kukira kamu
akan berjuang untukku.
Tidak.
Itu bukan untukku.
Kukira sungguh, tak akan ada kata selamat tinggal di antara kita; namun
nyatanya kamu memilih pergi untuk menghindari alurnya.
Aku tidak bisa mengejarmu lagi, tidak akan, walau sesak
menghujani.
Aku tidak mungkin baik-baik saja.
Aku merasa perih, namun aku akan menanggungnya.
Untuk hati yang remuk oleh pujaan hati, adalah sebuah tanggung jawab pribadi
untuk memulihkannya.
Aku akan selalu mengingatmu sebagai bagian hidup yang kumuseumkan dengan ukiran
pesan indah walau tak pernah kulihat dan kusentuh.
Pontianak, 4 Februari 2022
Rolah Sri Rejeki
Komentar
Posting Komentar