“Akunya Bukan Mahakarya dan Mahakaya, tapi Dikaryai dan Dikayai.”
Aku Punya Cerita
Edisi XVIII
PUSDA, 14 Juni 2015
Pukul 13.01
Edisi XVIII
PUSDA, 14 Juni 2015
Pukul 13.01
“Apapun getir yang akunya rasa, katakan, “Aku pasti bisa! Akunya bukan mahakarya dan mahakaya, tapi dikaryai dan dikayai.”” #Ro
Sahabat baik, hati nurani, selalu mengajariku, katanya, “Segala yang terjadi adalah yang terbaik, jangan pernah kecewa walaupun tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan dan doakan.” Ya, terkadang segala sesuatu tidak harus indah, tidak harus selalu seperti apa yang kita inginkan. Ada baiknya sesuatu tersebut terjadi sesuai dengan keinginan yang lain. Karena yang lain juga punya rasa ingin, mereka juga punya doa, punya harapan. Jadi, sabar saja. Anggap saja sedang menunggu antrian, dan jika akunya tetap pada pertahanan, yakin pasti terwujud juga.
Sesungguhnya kemudahan dan kesusahan adalah bunga yang indahnya sama, hanya warnanya berbeda. Tidak ada yang rumit dan tidak ada yang sukar jika dimulai, diusahakan, dan didoakan. Ingat, jangan berdiam diri. Walaupun membutuhkan waktu yang lama, yang pasti sudah melakukan tindakan yang disebut usaha. Ibarat menampung air, mengisi tong besar menggunakan botol aqua gelas. Jika hal itu dilakukan dan dilakukan terus, pasti tongnya bisa berisi penuh. Nah, yang akunya butuh hanya “waktu” dan “sabar”.
Oia, sabar itu bila dirujuk dari bahasa Arab, artinya pahit. Ya, memang sabar itu pahit. Tapi pahit yang bagaimana dulu? Semuanya bergantung akunya untuk menjadikan pahit itu menjadi pahit, atau pahit yang menjadi hambar, atau pahit yang menjadi manis.
Hidup ini ada di dua dimensi. Antara nyata dan tak nyata. Jadi, ya tidak heran jika ada orang yang tidak percaya adanya Tuhan, dan hanya percaya pada usaha. Ini itu usaha. Ehmmm,,, menurut akunya ya tidak tersalahkan, walaupun itu tidak benar. Karena ada juga yang tidak mengenal Tuhan, tetap hidup dalam kebahagiaan. Tidak harus berhadapan dengan kata sabar yang mengandung pemaknaan yang sukar terpahami. Nah, sekarang tinggal pilih mau jadi yang seperti apa. Jika percaya Tuhan ada, ya jangan putus asa. Jika percaya pada Tuhan, berarti akunya tidak punya apa-apa. Terima saja faktanya. Akunya bukan mahakarya dan mahakaya, tapi dikaryai dan dikayai.
Komentar
Posting Komentar