Siapa Aku yang Hanya Simfoni

Aku Punya Cerita
Edisi XVII
Jumat, 12 Juni 2015
Pukul 23.45

Saya adalah pembelajar Bahasa Indonesia, namun sesekali saya juga pembelajar Bahasa Inggris pada anak didik saya. Terkadang, saya juga pembelajar matematika dasar pada anak-anak tetangga saya yang ibunya tidak sempat membelajarkan mereka di rumah. Di samping itu, saya juga membimbing mahasiswa dalam penulisan skripsi. Terkadang, hal itu membuat saya tidak habis untuk henti berpikir, “Tujuan utama saya adalah menjadi seorang penulis, pembawa berita di satu antara stasiun televisi, atau mc di sebuah acara penting publik.” Namun, fakta yang saya temui dalam perjalanan hidup saya sangat berbeda dari apa yang saya impikan. Saya malah membiarkan tiga novel saya menggantung, namun hati saya mengatakan semuanya telah selesai saya kerjakan. Di satu sisi, saya membiarkan cerpen dan prosa saya bertaburan, dan naluri saya berkata itu adalah hak milik orang dan saya tidak berhak memeluknya. Siapa saya sebenarnya?

Sejujurnya, tak sedikitpun tersirat di hati saya untuk menjadi seorang pembelajar. Namun, fakta menyeret saya ke dalamnya. Saya adalah manusia penyendiri, saya lebih suka berhadapan dengan abjad pada tuts laptop, atau memainkan piano seharian, atau,,, memainkan kunci dasar gitar. Saya suka menghabiskan waktu di dalam kamar, intinya bergelut dengan abjad dan musik. Hal tersebut tidak jarang membuat saya dicap “sombong” oleh teman sekantor saya, karena saya tidak terlalu pandai untuk berkomunikasi sesuai selera mereka di kantor. Dan menurut hemat saya, ya kalau tidak penting ya tidak perlu bicara. Namun pandangan tersebut berbanding terbalik dengan anak-anak didik saya. Saya selalu dianggap pembelajar yang ramah, selalu tersenyum, dan selalu bahagia di depan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka menunggu kehadiran saya di depan pintu kelas, menyambut saya penuh dengan sukacita. Oleh sebab itu, muncul dua benturan berbeda antara pandangan teman sekantor dan anak didik saya mengenai saya.

Menurut pikiran saya, dunia seorang penulis memang berbeda. Bahkan, harus rela jika mereka mengatakan,

“Anda mengalami kelainan jiwa.”

Untuk hal itu, ya diam saja. Jangan menaruh sakit hati pada mereka. Faktanya tidak begitu, hanya saja mereka mungkin belum memahami tingkat tahap pembicaraan yang harus dikomunikasikan adalah yang seperti apa.

Hidup ini bebas. Jadi, menurut saya, kita bebas mengekspresikan diri sesuka hati kita di lingkup manapun, selama hal tersebut tidak merugikan orang lain dan melanggar norma. Apakah kita mau diam, memilih ramah, atau tersenyum. Tidak ada batasan untuk menjadikan kita makhluk yang selalu sempurna. Kita bebas mengotak-kotakkan, atau menyegikan, bahkan mensejajarjenjangkan ekspresi. Itulah warna, itulah seni. Tapi manusia selalu saja terikat oleh logikanya.

Timbul pertanyaan,

“Mengapa tidak sesekali berusaha mengalahkan logika dan membuka hal baru yang bisa berterima oleh logika?”

Manusia terlalu banyak protes, namun tidak berusaha memerotes dirinya terlebih dahulu. Maksud saya begini, ketika Anda ingin mengajukan sebuah penilaian terhadap orang lain, ajukan terlebih dahulu penilaian tersebut pada diri Anda. Apakah Anda sudah lebih baik?


“Kau adalah pelangi, Kau adalah warna di telaga biruku. Kau yang membuatku lebih berarti memahami kejamnya menit yang berganti, hingga semua terdiam dan tak bicara lagi, karena Kau tunjukkan siapa aku yang menjadi milikMu.” #Ro      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?