Kasih Karunia


Shalom, damai kasih-Nya selalu tertanam di dalam hati kita.

Hai, kali ini aku mau membagikan kesaksian aku mengenai kasih karunia Tuhan Yesus yang luar biasa. Harapanku, iman kita semakin dikuatkan dalam menghadapi segala situasi. Amin.

Hampir selama tiga tahun aku mengalami depresi berat. Ini sangat sulit untuk aku jalani. Tidak ada yang mengerti, tidak ada yang dapat memahami. Ya, ini sangat sulit  bagiku, tidak ada satupun yang bisa menjadi tempat bercerita. Selama hampir tiga tahun pula aku ke luar dan masuk rumah sakit. Aku betul-betul pasrah akan hidup. Aku lelah, sampai akhirnya aku betul-betul mahir untuk ikhlas apapun yang harus aku hadapi. Ini adalah ujian iman yang luar biasa dalam alur hidup. Puji Tuhan, karena kasih-Nya aku masih dapat hidup hingga sekarang.

Hampir setiap hari aku bertanya pada Tuhan, “Lord, apakah hari ini masih dapat aku lalui? Apakah sejam atau dua jam kemudian aku masih baik-baik saja? Apakah hari besok masih ada?” Ya, itulah pertanyaan yang selalu aku utarakan pada Tuhan, karena bagiku ini terlalu menyakitkan. Aku harus merasakan sesak tiba-tiba, menggigil tiba-tiba, terkadang tubuhku lunglai tiba-tiba, belum lagi asam lambung naik, maag kambuh, sehingga membuat semuanya seakan tak terkoodinir.

Apakah aku tidak percaya pada Tuhan?
Aku sangat percaya bahwa Tuhanlah satu-satunya pengharapan yang dapat memulihkan hidup, yang dapat membasuh bersih batinku. Tetapi, tidak ada yang instan. Semua tahap butuh proses. Berawal dari ini pula, sekarang aku mengerti, ketika orang lain mengalami depresi berat kita tidak boleh mengatakan, “Ah, semuanya terlalu dipikirkannya.”/“Dia terlalu berlebihan, masalahnya hanya masalah biasa.”/“Dia belum mengenal Tuhan, itu sebab hidupnya makin parah.” dan masih banyak lagi tanggapan yang terlontar. Di sini aku mendapat pelajaran, hanya orang yang pernah mengalami hal serupalah yang tahu bagaimana "rasa sakit"nya. Bahkan, Si Pengidap pun sadar ia harus bangkit, tetapi ini butuh waktu, ini adalah perjuangan. Pahamilah, bahwa untuk mengalami move dari situasi, setiap orang memiliki tempo atau durasi waktu yang berbeda. Sekarang, utamanya adalah mari beri motivasi, beri semangat, selalu support, beri waktu luang untuk mendengar keluhnya, dan tolong jangan pernah menjudge negatif. Tolong, tebarkan hal positif untuk menguatkan imunnya.   

Aku depresi. Aku tinggal di rumah sendirian. Aku tidak bisa bercerita pada orang-orang di kantor tentang keadaanku, di satu sisi aku juga pribadi yang introvert. Aku juga tidak dapat bercerita terus terang pada keluarga, ini hanya akan dianggap hal yang dilebihkan kekacauannya. Aku hanya dapat bercerita pada Tuhan yang menjadi satu-satunya harapan dapat membebaskanku dari depresi. Tak jarang, entahlah ketika di rumah aku merasa ketakutan, ada rasa sedih yang mendalam, hacur yang tidak aku sukai, pergolakan batin, usaha untuk membangkitkan diri sendiri tetapi tidak mudah. Sesak yang tiba-tiba hadir membuat menit seakan sulit bergerak, semua terasa hampa, kosong, ketakutan, panik, ini sangat menyakitkan. Bahkan, rasa frustasi untuk hari esok pun terlintas. Namun, di balik itu semua, jantungku (batin) berbicara kembali, “Kamu pasti sanggup. Ini sulit tetapi harus dilewati. Kamu sanggup, sebab Tuhan akan memampukanmu, Ro. Lakukanlah penyerahan diri penuh. Apapun hasilnya, biarlah Tuhan sebagai hakim yang adil atas hidupmu.” Kalimat itu seakan mengalun setiap kali merasa sungguh tidak sanggup jalani hari ke sehari. Kalimat itu pulalah membuatku bisa bertahan hingga sekarang.

Aku tidak lagi bertanya pada Tuhan sampai kapan aku akan hidup atau bertahan, namun aku mulai memperkatakan, “Tuhan, kupasrahkan hidup dalam tangan-Mu. Jika Kau ingin mengambilku, jemputlah aku dengan tenang. Sekiranya aku tidak menjadi masalah atau beban untuk orang-orang di sekitar hanya karena tubuh yang semakin melemah (terkadang aku pingsan yang membuat mereka panik). Kupasrahkan hidup dalam tangan-Mu. Apapun yang terjadi atasku biarlah Tuhan Yesus yang ambil alih hidupku. Aku percaya, salib-Mu lebih berat dari apa yang kurasa sekarang. Untuk itu, aku mau imani aku pasti sanggup. Aku sanggup. Aku sanggup. Aku sanggup. Aku sanggup beserta-Mu. Kau yang menuntun, yang memapahku hingga aku dapat berdiri kembali. Engkau penyembuh dari semua apa yang aku alami. Sebab, tidak ada satu perkarapun di muka bumi ini tanpa sepengetahuan-Mu. Terjadilah padaku seperti apa yang terbaik dari pada-Mu untukku. Amin.”

Ya, untuk melewati masa depresi bukanlah hal yang mudah. Depresi adalah gangguan psikologis berat yang diakibatkan suatu peristiwa, tekanan, penolakan, tidak dihargai, serta tidak dianggap. Untuk itu, melewati masa ini tidaklah dapat sekejap. Aku, kamu (kita) butuh Tuhan Yesus sebagai sandaran.

Depresi yang aku alami ternyata menyerang imun yang berdampak pada rusaknya jaringan dalam tubuh. Hal itu mengakibatkan aku harus menjalani operasi. Berulang kali masuk daftar pasien operasi, namun selalu batal. Di sini aku bertanya-tanya pada Tuhan, dan aku menemukan ‘sesungguhnya aku belum memiliki hati yang ikhlas’ bahwa dalam setiap pergumulan ada harga yang harus dibayar. Tuhan yang maha menyelidiki mengetahui lukaku belum pulih, belum saatnya, sampai nanti luka itu sudah tidak terasa lagi, itu adalah waktu yang tepat bagi-Nya.

Aku berdoa agar Tuhan memberikanku kesanggupan untuk menjalani operasi. Ini adalah pergumulan yang berat bagiku. Hingga, Desember 2019 tepatnya tanggal 21, akhirnya aku menjalani operasi jaringan tubuhku yang rusak dampak depresi. Saat itu, aku sudah merasa jauh lebih baik. Aku merasa hati dan jiwa telah pulih. Yang kutahu, kekuatan dari-Nyalah yang memberi kesanggupan.

Sebelum menjalani operasi, aku menuntaskan bacaan Alkitab akhir tahun itu. Aku angkat pujian penyembahan di ranjang rumah sakit, membaca Alkitab, dan berdoa. Aku menyampaikan permohonan pada Tuhan. Ketika itu, Tuhan taruh kata di hatiku, “Komitmen”. Aku meresponnya, “Aku harus punya hubungan yang lebih baik lagi dengan Tuhan.” Lalu, Tuhan taruh lagi dalam hatiku, “Bernapas karena Anugerah.” Hal inilah yang memantapkanku kuat dan pasrah ketika didorong memasuki ruang OK yang dipenuhi lampu-lampu ruang operasi.

Menurutku, rumah sakit itu cukup elit. Entah mengapa dari sekian rumah sakit yang kujalani akhirnya aku berada di rumah sakit yang tidak terbayangkan olehku sebelumnya. Ini adalah bagian dari anugerah dan campur tangan Tuhan. Dokter dan perawatnya ramah. Tidak banyak yang kuingat di ruang operasi, aku hanya bertanya pada dokter anastesi, “Itu bius, Dok?” ketika aku melihatnya memasukan suntikan cairan pada selang infus di tangan kiri. “Tidak, ini hanya untuk membuat relaksasi saja.” ujarnya sembari tersenyum, dan aku terlelap.

Aku terbangun di ruang observasi. Di ruang itu, Mama dan saudaraku sudah menunggu. Tentunya, ada dokter serta perawat. Mereka berusaha membangunkanku. Konon katanya, pasien setelah operasi wajib sadar kembali sesuai batas waktu yang telah diperkirakan dokter. Namun, ternyata aku sudah melewati batas waktu normal pasien operasi. Dokter dan perawat sempat khawatir dan berusaha segala cara menbangunkan. Di saat yang sama, aku merasa aku berada di alam lain. Aku berada dalam alam roh. Aku melihat sebuah gerbang berbentuk mulut gua yang sisi-sisinya diselimuti awan putih. Aku mendekat pada gerbang itu, di situ tubuhku melayang. Tidak berjalan seperti manusia. Jadi, ke mana-mana ya melayang. Di situ, juga ada satu ujud manusia berjubah berada di sampingku, seolah-olah menjadi tourguide, tetapi kami tidak saling bicara meskipun kami bersama. 

Tempatku waktu itu, jika diukur dengan waktu dalam kehidupan manusia, jaraknya bermil-mil bahkan tak terukur. Namun, dalam alam roh tidak ada jarak yang terlampau jauh, dalam alam roh tidak ada waktu, semua abadi. Kecepatan tempuh ke mana saja dalam alam roh, jauh melebihi kecepatan cahaya. Ketika aku memasukkan kepala ke dalam gerbang gua, aku melihat ada jutaan bahkan tak terhitung bintang di langit. Di sana seperti ada semesta yang sulit untuk aku katakan betapa indahnya. Aku melihat ada sebuah istana, sangat megah. Istana putih, mengambang diliputi awan pada bagian dasarnya. Tidak ada tanah di sana. Indah, sungguh indah. Di istana itu, banyak orang dan menggunakan baju serba putih semua, mereka seperti sedang koor, bernyanyi.

Aku penasaran, setelah mengamati, aku melayangkan tubuh masuk ke dalam dan hendak menuju ke istana itu. Namun, sesuatu yang kuat (sosok yang menemani), seperti cengkraman tangan yang kokoh menarik punca bajuku dari belakang. Aku ditarik ke luar, dan dalam jarak yang bermil-mil itu aku merasa dimasukkan kembali ke dalam tubuh. Di saat itu lah, aku tersadar.

Aku sadar, namun tidak serta merta dapat membuka mata dan berbicara. Tetapi, aku sangat hafal suara orang-orang  di ruangan. Aku mendengar Mama memanggil-manggilku, aku dengar suara saudaraku, aku mendengar suara perawat dan dokter yang berusaha membangunkan. Dan aku mendengar perawat wanita berkata, “Dokter, jantungnya sudah normal.” “Iya,” jawab Dokter singkat bersemangat, “Terus, tekan biar sadar.” ujarnya pada perawat pria agar menekan telapak tangan kananku di bagian tengah antara jempol dan telunjuk. “Sudah saya tekan sekuat mungkin, Dok.” jawabnya lelah. Sepertinya perawat itu sudah sedari awal bertugas menekan, ia sudah berusaha sekuat mungkin tetapi aku tetap tidak sadar, tidak merasa apa-apa. Aku sempat berpikir, “Ada apa dengan jantungku?” Di saat itu, aku belum bisa membuka mata, dan akhirnya aku menangis. Di saat itu pulalah mereka lega, karena setidaknya aku dapat merespon mereka dengan air mata. Tidak lama berselang, akhirnya akupun mulai bisa membuka mata dan sadar sepenuhnya.

Hal utama yang tertanam di hatiku, “Tuhan Yesus sungguh baik. Teramat baik. Kehidupan abadi itu sungguh nyata, rohani sepenuh tanpa keinginan duniawi. Murni, suci, bersih.”
Hal yang sampai sekarang tertanam di hatiku,
1.   Tuhan mau aku tidak meragukan kasih-Nya sedikitpun dalam situasi apapun.
2.   Hiduplah bersandar pada kasih karunia Tuhan.
3.   Ketika menjadi manusia, hiduplah 100% manusia yang rohani bukan duniawi (sebagai manusia, kita akan jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, namun ingatlah selalu untuk bertobat dan mengaku dosa di hadapan kaki Allah); ketika kita meninggal kita akan hidup 100% roh, pilihannya hanya ada dua, surga atau penghukuman abadi. Jika kamu percaya pada-Nya, kamu akan masuk istana-Nya menjadi penyembah-Nya selamanya. Jangan ragu dan bimbang hatimu.
4.   Selama ini aku takut mati, aku memikir Mama, saudaraku, orang-orang yang kukasihi. Ternyata cara pandangku salah. Dalam alam roh, kita tidak lagi mengingat kehidupan dunia kita. Kita hidup abadi memuji Tuhan.
5.  Hanya orang hiduplah yang mengingat orang mati. Itu sebabnya dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkata pada pengikutnya, “Biarlah orang mati yang menguburkan orang mati, ikutlah Aku.” Ketika kita meninggal, kita adalah tunggal, kita adalah roh yang akan bertemu dengan roh lainnya tetapi bukan untuk saling berbicara layaknya di dunia. Dalam alam roh kita akan memuji Tuhan. Tidak ada sakit hati, tidak ada lagi marah, tidak ada dengki dendam, tidak ada jatuh cinta, tidak ada menikahi dan dinikasihi, tidak ada haus dan lapar.
6.    Dalam kehidupan roh tidak ada waktu, tidak ada jarak yang terlampau jauh.
7.   Hanya Tuhan yang dapat membukakan penglihatan roh untuk mengingat keluarganya seperti halnya peristiwa Lazarus. Tuhan memberikan kesempatan kepada Si Kaya supaya dia mengetahui kejadiannya, untuk menjadi contoh tertulis kepada kita yang masih hidup sampai sekarang. Contoh, supaya kita berbuat baik. Zaman sekarang ini, Tuhan tidak lagi menunjukkan diri-Nya secara langsung kepada manusia, tetapi bagaimana "manusia bisa percaya kepada Tuhan walau tidak melihat Tuhan itu bentuknya seperti apa". PERCAYA walau tidak melihat; urapan Tuhan ada.

“Aku bersyukur aku dipulihkan, aku dimenangkan oleh-Nya. Segala roh depresi, hal-hal yang tidak berkenan, aku tolak dalam nama Yesus. Hidupku adalah hidup yang dimenangkan oleh Darah Yesus. Amin.”

Aku percaya kasih karunia Tuhan tetap nyata di tahun 2020 ini dan tahun-tahun yang akan datang hingga masa panggilan Tuhan. Mukjizat akan terjadi, pemulihan akan terjadi di seluruh dunia.
Tahun ini adalah tahun pelipatgandaan kasih karunia Allah.
Ayo berdoa, berserah pada kasih-Nya, sebab Ia selalu memantau kita.
Tetap percaya sesulit apapun situasi kita.
Tuhan memberkati dan melindungi kita semua.
Biarlah damai sejahtera yang dari pada-Nyalah yang menaungi kita. Amin.

                                                                                                                           -Ro Situmorang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?