Si Burung Gereja


“Terkadang kebaikan tak jarang disalah artikan, hingga tak sadar telah melanggar batas-batas privasi.” -Ro Situmorang

Hampir setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan diri untuk menghamburkan nasi di halaman depan dan belakang rumah. Hal ini aku lakukan agar  burung-burung itu dapat sarapan sebelum memulai penerbangannya mencari ulat atau biji-bijian. Aku kasihan membayangkan kalau-kalau mereka tidak mendapat makanan saat kondisi perut lapar. Setidaknya, nasi yang kutaburkan cukup untuk mengganjal perut mereka.

Tetangga tampak heran melihat kebiasaanku. Sepertinya mereka berpikir aku sedang melakukan ritual untuk penjagaan rumah. Hahaha,,, tentu saja sama sekali tidaklah demikian. Semuanya berawal ketika burung-burung itu mencuri makanan Lembu (anjing peliharanku), juga selalu memakan sisa remah di pencucian piring di belakang. Lagi-lagi, aku hanya kasihan.

Makin lama jumlah burung itu semakin bertambah, seolah sudah tahu jadwal menghamburkan nasi untuk mereka. Mereka juga sudah seperti alarm yang membangunkan di pagi hari. Mereka akan terdengar riuh di atap jendela kamar. Tidak pernah terlambat, bunyi riuh mereka sudah pasti menunjukkan pukul 05.30. Yang artinya, jika aku terbangun pukul sekian, aku ketiduran alias kesiangan.

Tak kusangka, burung-burung itu mejadi jinak-jinak liar di halaman rumah. Tak jarang pula mereka berteduh di atap. Namun, malangnya, kucing tetangga sering mengintai mereka yang terlalu jinak. Aku mendengar jeritan beberapa dari mereka ketika kucing itu berhasil menangkapnya; terasa ngilu dan pilu mendengarnya. Aku menggerutu pada kucing itu, “Carilah burung yang lain, jangan mengganggu mereka.” Entahlah, aku tidak peduli kucing itu paham atau tidak bahasaku, namun hingga sekarang kucing itu tak lagi naik ke atas bubungan.

Ya, kedekatan terkadang membuat lupa batasan privasi. Burung-burung itu membuat sarangnya di talang air. Entahlah, aku pun mengomeli mereka dengan memberi penjelasan, “Jangan di situ, hujan akan turun dan sarang kalian akan rusak. Lantas, air yang masuk ke tong juga akan kotor.” Namun, burung itu tidak peduli (mana mungkin burung itu paham bahasaku). Hujan deras yang datang mendorong sarang mengikuti aliran air dan masuk ke tong, kotor. Lagi-lagi, keesokan hari aku mengomel pada burung-burung itu. Seolah tak mau kalah, lagi-lagi mereka membuat sarang yang sama di dalam talang. Sebulan kemudian, talang itu rusak hingga air tak lagi melewatinya. Burung-burung itu tampak menikmati kemenangannya.

Aku membongkar talang dan membersihkan sarang mereka dari dalam. Burung-burung itu tampak heboh melihatku membuang sarang mereka yang kurasa sudah tak layak, dan talang itu tidak lagi terpasang. Lagi-lagi aku berkata pada mereka yang riuh melihatku, “Pindahlah ke rumah tetangga sebelah, jangan di sini. Percuma, rumah kalian rusak, airku kotor.” ujarku tanpa peduli apakah mereka paham atau tidak.  

Ini adalah hari ketiga aku merasa ada yang aneh setiap kali masuk ke dalam kamar. Ada waktu-waktu tertentu aku mendengar seperti ada rongga yang bergerak, ada cakar-cakar halus. Aku mendengar itu semua seperti di dalam kepalaku. Aku terdiam. “Tetapi kepalaku tidak pusing, aku tidak sakit. Apa di rambutku ada kutu? Kutu sebesar apa sampai-sampai dia bergerak terdengar seperti rongga atau seperti ayam yang sedang merapikan telur yang dieraminya?” Pertanyaan yang tak henti di kepalaku. “Mungkin suara gerak cecak.” jawabku kembali.

Siang ini, setelah menyelesaikan aktivitas, aku masuk ke kamar dan hal serupa berulang. Tepat seperti gerak terjadi dalam kepala. Aku sejurus terdiam, memastikan apakah gerakan dan bunyi itu di dalam kepalaku atau bukan. Aku baringkan tubuh di tempat tidur sembari menerawang langit-langit rumah. Aku terperanjat ketika mataku terhenti pada pintu kecil langit-langit kamar, “Astagaaaaaaaa,,, kenapa malah pindah ke situ?” pekikku dalam hati, aku terduduk mendongak ke atas, mata melotot, mulut berbuka.

Ya, ternyata burung-burung itu tidak mau kalah. Kusuruh pindah ke rumah tetangga, mereka malah pindah ke dalam bubungan. Sejurus aku terdiam lagi, “Hufff,,, mereka lupa privasi. Kenapa mereka harus membuat rumah di dalam rumahku? Apa rumahku terlihat asik untuk mereka tempati?”
Sekarang aku tahu, bunyi kresek dan seperti rongga bergerak di dalam kepalaku adalah suara dari pekerjaan mereka di atas sana. Aku mengadu pada mama akan kelakuan mereka, burung-burung itu. “Itu artinya rumahmu membawa rejeki, banyak rumah yang bisa mereka masuki tetapi mereka  memilih tinggal dalam rumahmu.” Penuturan mama sejenak membuatku tersenyum, aku tahu itu hanya bahasa menenangkan agar aku tidak resah, dan entahlah,,, aku pun tidak tega untuk menghancurkan sarang itu. 
“Mereka punya keluarga, mereka punya anak. Mereka butuh tempat perteduhan.” gumamku sembari menelungkupkan wajah.  

Burung-burung itu, burung gereja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?