Tuhan, Pulihkanlah
Entahlah, ada rasa sedih yang menyusup di hati ketika mendengar satu
persatu tenaga medis dipanggil oleh-Nya. Ya, sebagai manusia yang diciptakan
kita tidak punya hak untuk menuntut tidak setuju akan keadaan ini. Ia yang
mencipta, Ia yang berhak penuh pada ciptaan-Nya, Ia yang memberi dan Ia pula
yang berhak mengambil.
Aku pernah trauma terhadap dokter, namun ketika jatuh sakit untuk waktu
yang cukup lama, dalam kondisi itu aku menemukan sosok dokter yang sebenarnya. Aku
mulai menemukan kembali bahwa di masa itu masih ada dokter yang sungguh
melakukan pelayanannya. Begitu pula di masa ini.
Dua tahun lebih menjalani pengobatan medis, aku bertemu sekitar dua puluh lebih dokter; umum dan spesialis yang memiliki disiplin ilmu berbeda. Aku yang masa
itu dalam kondisi sangat tidak baik, secara perlahan tumbuh semangat untuk
pulih oleh keramahan dan dukungan tenaga medis yang merawat.
Beberapa kesan dokter yang masih kuingat jelas, yaitu dokter bedah mulut. Ketika
itu, rahang kiriku jatuh dan mengalami otot tegang. Beliau melihat namaku, lalu beliau
masih sempat-sempatnya menyanyikan selirik lagi berjudul “Situmorang” di
hadapanku, “Kamu ini orang Batak ya? Hem,,, orang Batak itu suka menyanyi. Kamu
jangan sering-sering menyanyi satu album, biar rahangnya tidak tegang dan lelah
begini ototnya.” ujar Beliau dengan keramahannya. Lalu beliau merujuk ke
dokter fisioterapi untuk penanganan lebih lanjut.
Aku tiba di ruang fisio. Ketika itu, aku memasuki ruang lalu ada seorang
tua mengajukan pertanyaan, “Kamu masih muda kenapa sudah berobat ke sini?” Beliau
menyadari tempat itu biasanya hanya dipenuhi orang tua yang sudah lanjut usia. Aku
hanya tersenyum kecut sedikit malu, karena memang pada saat itu pasien yang ada
di ruang rata-rata adalah orang yang sudah tua atau pasien cedera tulang. Seketika
pertanyaan itu dijawab oleh dokter rawat, “Ini pasien khusus, Pak. Tidak sama
seperti Bapak. Dia ini pasien perawatan kecantikan.” ujar Dokter mencairkan
suasana sembari tersenyum. Aku pun tersenyum senang mendengarnya. Si Bapak
menyambut pernyataan itu dengan rasa percaya, “Oh, jadi bisa juga ya perawatan
kecantikan di sini?”
Aku menjalani tujuh belas kali fisioterapi, namun saat terakhir menjalani
fisio aku tidak bertemu Si Bapak itu. Sepertinya jadwal kami berbeda. Aku hanya
ingin mengatakan padanya bahwa aku bukan pasien perawatan kecantikan, namun aku
juga adalah pasien yang sama seperti mereka.
Akhirnya, Desember 2019 aku memutuskan untuk menjalani operasi pada bagian
tubuh yang mengalami kerusakan karena imun tidak kuat melawan kondisi masa itu. Dan di sini, selalu Tuhan sungguh amat baik. Lagi-lagi aku dipertemukan
dengan dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat yang ramah dan baik. Puji Tuhan,
sebulan kemudian hasil lab keluar dan aku dinyatakan sudah pulih.
Di sini, aku sungguh merasakan kerja dalam kebaikan dari tenaga medis baik
itu dokter dan perawat, semuanya menyadarkanku, “Masih ada dokter yang mengabdi
dengan ketulusan dan keikhlasan.”
Doaku, semoga masa ini segera dipulihkan. Tuhan jaga para tenaga medis. Semoga
mereka yang telah berpulang menerima balasan kemurahan kasih kurnia Tuhan. Untuk
setiap keluarga yang ditinggalkan, kiranya ketabahan dan keikhlasan diberikan
oleh Tuhan di tengah-tengah keluarga.
Untuk negeriku Indonesia, biarlah Tuhan yang
mencurahkan hujan kasih-Nya untuk membersihkan dan memulihkan Indonesia,
menjaga dan melindungi setiap orang yang percaya dan berseru pada-Nya. Amin.
- Ro Situmorang
Komentar
Posting Komentar