Wanita Panutan
Selamat hari lahir, Mama.
Sehat selalu dalam lindungan
Tuhan.
"Menjadi orang tua tunggal dalam
keluarga bukanlah hal mudah. Namun, aku percaya, Tuhan memperhatikan air mata
dan doa seorang janda yang berseru pada-Nya. Aku percaya, Tuhan adalah hakim
yang adil." #Ro
Aku bersyukur punya Mama yang penuh
kasih, selalu sabar menasihati, dan selalu ada kapanpun aku kehilangan rasa
percaya diri.
Banyak nasihat yang sering kali
membuatku merenung, lalu aku menemukan arah yang semakin jelas.
Kata Mama, sebagai anak wanitanya
haruslah mandiri, kuat menjejakkan kaki sendiri, harus menjadi suluh yang
menerangi, harus bijaksana dalam berpikir untuk mengambil keputusan sebagai
ujud wanita berpendidikan, dan yang utama adalah ajak Tuhan turut serta di
dalamnya. Meskipun begitu, sebagai seorang anak, rasanya aku tidak pernah cukup
dewasa di hadapan Mama, sampai kapanpun aku adalah seorang anak yang tidak
cukup usia untuk dikatakan dewasa.
"Sadarilah, semakin hari aku
semakin tua, kesabaranku tak lagi sama. Tetaplah mencintaiku, tetaplah sabar
denganku seperti aku selalu sabar membimbingmu sedari kamu kecil hingga
sekarang, Mama bahkan tidak pernah mencubitmu. Kamu mengenal hatiku sebelum
kamu mengenal hati yang lain. Jangan membuangku karena aku sudah tua."
adalah sebagian dari banyak pesan yang Mama sampaikan padaku.
Entahlah, sampai sekarang rasanya aku
tak cukup daya membahagiakan hati Mama. Tak punya banyak waktu untuk
menemaninya jalan-jalan ke mana-mana, rasanya aku selalu sibuk sendiri dalam
tuntutan kerja, terkadang aku terduduk dan merasa aku egois. Di balik itu, Mama
tidak pernah menuntut, bahkan selalu menjadi pribadi yang memaklumi
kesibukanku, bahkan selalu menanyakan lelahku, mengingatkanku untuk selalu
bersyukur.
Mama, aku selalu mencintaimu, bagian
dari kekuatan jiwaku, Mama.
Komentar
Posting Komentar