Jika Tuhan Ada

Siang tadi suasana tampak biasa-biasa saja, namun aku masih dapat menyergap kesunyian yang menguntit. Ini cukup menginspirasi imaji yang selalu berkelana meninggalkan raga. 

"Gua mau terbang sendiri”. ujar seorang anak muda. Ia duduk tepat pisah sebangku di sebelah kananku. Aku refleks menoleh padanya. Ia tersenyum ragu, namun aku tak membalasnya.

“Terlalu berat”. ujarnya lagi, sembari menyilangkan kedua kaki dan memasukkan kedua tangan ke saku celana. Aku pura-pura tak mendengar. “Kamu tahu, aku membenci hidupku”. ungkapnya lagi.

Kali ini, aku yakin ia berbicara denganku yang asik dengan hand notes; menuliskan segala hal apa pun yang seketika terlintas di pikiran (aku lebih mahir menulis ketimbang harus bicara hal tak penting). “Ajari aku cara membenci”. jawabku datar tanpa memandangnya.

Tak lama dari itu, aku menoleh padanya yang sebenarnya enggan, kami beradu pandang. Aku tak dapat mengartikan sorot matanya; hancur. Aku berburu menurunkan pandang, aku tidak mau menemukan apapun yang menjadi kelesahnya.

“Kamu? Ah, aku membenci hidupku yang berulang kali gagal. Aku punya segalanya, tetapi aku gagal”. Ia mengakrabkan diri bercerita.

Kali ini, aku memberikan senyum terbaikku padanya, sebagai tanda perkenalan. “Aku sering gagal, tetapi aku masih hidup; artinya, masih ada kesempatan. Aku sering disakiti, aku sering diabaikan, aku sering dicap dengan cara pandang orang; ya katanya aku sombong dan angkuh, karena aku lebih banyak diam daripada bicara dikehidupan nyata, namun bukan berarti aku seorang bodoh dan tidak paham. Tetapi, aku masih saja tidak tahu caranya membenci. Karena bagiku, jika mereka tahu bagaimana “rasa sakit”, mereka tidak akan menyatiki, dan pastinya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Logikaku “untuk apa mengumpulkan jerami sebagai pondasi, jika masih ada kayu yang kokoh; untuk apa mengumpulkan luka jika di hatiku ada kasih”. Itu, cukup bagiku.”

“Kamu Kristen? Tolong jelaskan ke aku, jika Tuhan sungguh ada kenapa Ia tidak menahanku? Katanya Tuhan itu baik, kenapa Dia tidak tolong aku?” ujarnya serius sembari menggerak posisi menghadapku.

Aku menghela napas panjang, mataku menjelajah ke seluruhan ruang tunggu dan berhenti di satu titik, “Dia mau menolongmu, tetapi kamu tidak memberi hati untuk-Nya. Ibarat, pintu rumahmu sudah diketuk tetapi kamu tidak mau membuka pintu. Bagaimana mau masuk ke dalam?” aku menaikkan alis kananku padanya dengan setengah lirikan, yang seketika beralih fokus pada beberapa yang lalu-lalang.

“Kalau Tuhan sungguh ada, kenapa Dia tidak mengubah hatiku untuk membuka pintu itu?” ujarnya ngotot, dan mengharap jawaban pun melayang sempurna untuk sebuah tanya-tanya yang mungkin selama ini dipertanyakan.

Aku sejenak menundukkan kepala, menarik napas lebih dalam, “Aku tak mahir agama, tetapi aku percaya Tuhan selalu menyertaiku. Dengarkan baik-baik; manusia dianugerahi kehendak bebas, itu sebabnya semua manusia adalah pendosa. Kendatipun Tuhan menghantarkan mukjizat ke hadapanmu, tetapi jika kamu membuang dan memilih jalan lain, maka mukjizat itu tidak akan pernah kamu terima. Pertanyaannya; Kenapa bisa? Kan Tuhan maha memberi? Bukankah tidak ada rencana Tuhan yang gagal?. Jawabannya; karena manusia diberi “kehendak bebas”. Itu sebabnya pula, kenapa “penyesalan” ada dalam hidup. Tuhan memantau setiap detail hidup kita, tetapi tidak semua gerak alur hidup kita sampai jadwal mandi kita diatur sama Tuhan kan? Atau, Tuhan menjadi “alarm” yang bisa kita atur sesuka hati? Kita manusia hanya sering tidak peka, egois, gengsi, bahkan rakus; itu adalah ciri manusiawi, bukan berarti Tuhan tidak peduli. Tetapi, sudahkah kita mengucap syukur untuk apa yang masih kita punya; daripada menghitung kegagalan, atau meratapi luka, bahkan menangisi suatu kehilangan? Sering kali, kita lupa jika kita masih “punya banyak” untuk dapat disyukuri.”

Ia terdiam dan kembali pada posisi duduk semula, aku pun terdiam. Mungkin tanpa kusadari, aku terlalu serius menceramahinya. Lama jeda sunyi di antara kami, aku kembali mengeluarkan catatan sembari merenung, “Mungkin saja kata-kataku sudah melukainya. Mungkin aku salah bicara. Mungkin aku terlalu mengguruinya. Mungkin,,, arggggg....” bisikku dalam benak, aku menggigit bibir sekuat mungkin, karena rasanya ingin berlari tetapi tidak mungkin.

Menit berlalu begitu saja, hingga aku menarik koper menuju gateway. Seketika ia berlari memecah sunyi di antara kami, “Tuhan memantau hidup kita, tetapi Tuhan tidak mengatur jadwal mandi kita. Aku mengerti.” ujarnya tersenyum, “Terima kasih.” ujarnya kembali sembari menundukkan kepala dengan tangan di dada.

 

Pesan yang kudapat,

“Tuhan teramat baik buat saya. Bahkan, aku tidak mengerti kenapa aku bisa membuat analogi “Tuhan tidak mengatur jadwal mandi kita, tetapi Dia selalu ada kapan saja kamu ingin menemui-Nya. He always look at you and me.” 

 - Ro Situmorang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?