Pulihkan Hati, Mulailah dengan Ketulusan

Seseorang berkata, “Aku mau menikahinya meskipun aku belum mencintainya; aku sudah terlanjur membuatnya jatuh cinta meskipun ternyata setelah bersamanya hatiku biasa-biasa saja; ternyata masih tertinggal pada yang dulu.”

“Kau dapat merencanakan menikah dengan siapa, tetapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” – Sujiwo Tejo

“Mulailah segala sesuatu dengan keseriusan dan ketulusan, maka apapun hasilnya kamu akan tetap bersyukur. Hidup ini tidak melulu “harus”, tetapi jalani dengan sukacita tanpa ambisi dan ekspektasi berlebihan. Mengenai sebuah rasa, jangan pernah coba-coba; jika belum sanggup menjaga, berhentilah. Sendiri atau bersama pada akhirnya, syukurilah sebagai “Panggilan Hidup”.” – Ro  

 

Tanggapan terbuka dari saya, untukmu

Kamu bisa saja menjalin keseriusan dengan seseorang, meskipun hatimu tak serius merajut yang satu nama itu di hatimu.

Tetapi, itu adalah kepalsuan. Tidak habis pikir untuk pola pikir seperti itu, meskipun itu suatu kebebasan individu dalam berkeputusan.

Suatu hubungan bukan untuk main-main, coba-coba, apalagi mengisi kekosongan daripada tidak ada, atau mengisi ketimpangan setelah ditinggal kekasih yang nyatanya belum jua tergantikan.

Kenapa tidak nikmati saja kesendirian jika nyatanya hatimu belum terkosongkan untuk pemilik ruang yang baru?

Jangan memaksakan suatu hubungan hanya untuk sebuah status dan pengakuan di depan publik.

Terkadang, cinta itu tak melulu seberapa hebat ia, seberapa pamor ia, seberapa wah ia untuk kamu banggakan dan pamerkan sebagai yang “baru”, atau seberapa hebat kamu membuatnya jatuh cinta tergila-gila padamu; sementara kamu masih pada fase belajar menerima dengan sisipan hati masih tersangkut pada yang telah menjaga hatimu yang sesungguhnya. Berhentilah bermain-main.

Cinta tak melulu apa yang dipandang orang “wah”, cinta adalah suatu kenyamanan bersama yang saling mengupayakan meskipun dalam kesederhanaan, tanpa “hadirnya masa lalu yang sulit berlalu”. Jika masih meragu, berhentilah.

Hatimu hanya perlu menikmati masanya, bukan terburu-buru karena “apa kata orang”.

Pernikahan bukan suatu uji coba atau perjalanan yang hanya ditempuh sehari atau dua hari. Pernikahan juga bukan liburan yang menyenangkan sebulan dua bulan. Pernikahan adalah, “kamu siap menemaninya dalam setiap alur hidup tanpa menyisipkan kenangan yang masih kamu simpan rapi di dalam ceritamu sendiri”. Pernikahan, bukan tentang “suatu saat aku akan mencintainya jika kami telah hidup bersama setiap hari, aku akan semakin mencintainya ketika kami dianugerahi “anak”.” No! Tidak, tidak seperti itu. Pernikahan, bukanlah suatu imajinasi yang bisa kamu terka-terka perjalanannya. Karena “cinta yang tulus adalah, tetap menerima dan bersukacita meski hanya berdua selamanya”.

Jika hatimu masih di dua jalur, berhentilah berpura-pura bahagia. Pernikahan, bukanlah hidup untuk sehari atau dua hari bersamanya, namun banyak hari, dan kamu tidak dapat mensiasati hatimu akan menerima permainan yang kamu mainkan. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa suatu saat nelangsa dalam kepura-puraanmu tidak muncul tiba-tiba. Mundurlah, meskipun ia yang kamu bangga dan pamerkan akan terluka. Karena, “hidup akan lebih menyakitkan ketika seseorang tahu bahwa ia hidup bersama seseorang yang ternyata mencinta dalam animasi dan bayang-bayang”. Kamu bisa saja merahasiakan segalanya darinya, tetapi hidupmu tidak akan pernah damai selamanya, karena hati tidak akan pernah bisa berbohong kendatipun kamu seorang pembohong.

Pulihkan, bersihkan hatimu. Jangan pernah memulai sesuatu untuk masa depan dengan bayang masa lalu.

Cinta dan pernikahan bukan untuk coba-coba, belajar menerima menjadi cinta, atau sebuah keisengan untuk mengobati luka. Tetapi, jadikanlah cinta dan pernikahan sebagai sesuatu yang “dihormati”, “istimewa”, “berharga” dan “bernilai”. Dengan begitu, kamu menghargai dan mengapresiasi dirimu sendiri dalam ketulusan yang dapat kamu banggakan. - Ro Situmorang  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?