Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Mental Healt

Untuk dapat mengembalikan rasa percaya kepada orang lain adalah, hal sulit. Cenderung tidak disadari sikap dan perilaku respon terhadap orang lain adalah bentuk dari gangguan mental yang ada pada diri. Bahkan, tidak sedikit orang tidak bisa menerima dan mengakui bahwa ia mengalami gangguan mental. Ini karena mental itu sendiri sedang berada pada posisi tidak baik-baik saja, namun seolah sudah menjadi hal biasa bagi pribadi tersebut. Sebaliknya, ada pula yang dapat menyadari. Apa yang harus dilakukan dalam menyembuhkan mental terutama mengembalikan “rasa percaya”? Menghubungi psikiater? Ya, ini adalah alternatif yang dianggap baik bagi sebagian orang, dan ini juga dapat dikatakan cukup ampuh, bahkan menurut saya ini adalah “pelarian terbaik” untuk sementara waktu karena kamu betul-betul butuh pertolongan atau penanganan. Namun, mengunjungi psikiater tidaklah selalu menjadi solusi terbaik jika kamu tidak berusaha ke luar dari zona tersebut. Pada akhirnya, muncul pula rasa ketergant...

Inikah Dewasa?

  Hari ini 14:10, di luar hujan. Muncul dalam pikiranku, “Apa ini yang dimaksud dewasa seiring usia?” Entahlah, akhir-akhir ini aku semakin senang menjauh dari media sosial. Cukup membalas beberapa pesan penting yang masuk. Tidak lagi tertarik ini itu di medsos, tetapi lebih ke prioritas diri. Sekarang ini mikirnya hanya; tubuh yang sehat, penghasilan yang memadai, dan rumah yang damai. Belajar menarik diri dari kehidupan orang-orang dan fokus pada kesibukan diri sendiri.   Kembali seperti yang dulu; nyaman dengan lebih banyak diam, belajar memberi pada mereka yang minta-minta di jalanan, dan tentunya lebih banyak bersyukur. Pada akhirnya, kembali pada konteks “lebih mencintai diri, menerima, dan menghargai”, karena kenyataannya kita tidak sungguh punya sahabat yang begitu baik di dunia ini selain diri sendiri dan Tuhan Yesus. Ro Situmorang

Melepasmu, Sahabat

  Surat untuk Sahabat Selamat jalan, damai bersama Bapa di Surga. Maaf untuk sebuah sapa yang begitu lama tak lagi bertutur sapa di antara kita. Semua berawal di hari valentine dua tahun silam. Entah kenapa aku tidak suka valentine, aku tidak suka, dan beliau mengucapkan, “Selamat hari valentine Rolah.” “Tidak, aku tidak suka valentine. Aku tidak percaya valentine.” jawabku ketus sembari berlalu. Aku salah, aku yang salah waktu itu. Semenjak itu, kita tak lagi bertegur sapa seperti biasa dan jarak pun seketika menjauhkan. Sesunguhnya aku tidak sedang membenci siapapun, apalagi beliau; hanya saja aku sedang tidak berdamai dengan diriku sendiri. Waktu itu suasana hatiku memang sedang “pecah”. Aku menjadi tidak suka ucapan dalam bentuk apapun. Bahkan setiap setangkai bunga yang diberikan orang lain di hari itu, aku kembalikan pada pemiliknya. Setiap cokelat yang datang selalu kukembalikan kepada yang punya, bahkan aku memintanya untuk memberi pada yang lain. Aku sungguh sedang t...

Kusebut Kamu, "Teman"

  Maaf telah membuat menunggu. Terkadang, butuh waktu untuk menikmati sepi dan sunyi untuk menemukan diri. Terkadang, ada rasa takut, takut kehilangan setelah memiliki atau hilang sebelum sempat memiliki. Bagiku, perpisahan selalu menyisakan perihnya sendiri, meski mungkin semesta hanya menyaksikan ceria karena tak banyak yang sungguh dapat mengerti. Tak ada yang salah, karena semesta selalu benar dengan rencananya. Semesta selalu tepat waktu memberi hadiah atau hukumnya. Tidak, tidak perlu komplain. Jika kaki memang begitu lemah untuk berlari bahkan berdiri, kenapa harus bersembunyi di balik layar senyum bahkan tawa yang menggelegar? Biarkan saja semua tahu apa adanya, dan bangkitlah, berjuanglah, kita lanjutkan kembali mimpi yang tertunda, seperti pagi yang terbit tepat pada waktunya, dan mukjizat masih ada hadir dalam menit yang tak terduga. Dari hati yang terdalam, maafkan aku,,, Salam, Ro Situmorang 17:31, 190121

Denting Melodi

Mungkin ruang sepi ini pun bingung melihatku perlahan terisak. Entahlah, hatiku begitu halus dan lembut. Mungkin mereka berpikir aku selalu tangguh dengan setiap tampilan dan tindakan. Tetapi, apa mereka tahu bahkan dentingan piano saja cukup untuk menguras emosi. Aku selalu masuk ke ruang melodi dan menemukan dunia lain di sana. Aku melihat banyak warna jiwa yang tak sanggup aku jabarkan. Namun, entah kenapa aku selalu saja menelusuri melodi itu bahkan menikmati dalam sunyi. Ada rasa sakit yang teramat dalam, ada rasa pilu yang tak terungkapkan, ada sembilu yang mengiris perlahan, ada teriakan dalam diam, ada rintihan tanpa pekikan, ada hampa dalam nuansa kematian, ada ketenangan yang damai dalam pelukan surga. Melodi yang tenang berpacu pada cepat rambat seakan perlahan menggambarkan hutan gelap dengan kabut yang pekat; satu jiwa tersesat, satu jiwa kehilangan pemandu arah.  Perlahan, kabut menghilang dan meninggalkan hutan hitam yang basah. Perlahan cahaya datang menerangi yan...

Teman Sepi

Mataku menatap lurus pintu yang terbuka dipagari besi, terlihat tanaman hijau menggeliat menyapa sapa dimainkan oleh alam di taman depan. Di sini, di ruang kerja pribadi ini aku dapat merasakan embusan angin sore yang halus. Entah kenapa, belakangan ini aku ingin sekali dapat berlari sejauh mungkin, atau sekadar menikmati puncak yang hijau menjulang. Aku ingin menelisik dan mendengar percakapan burung hutan dalam lembut dan damainya alam. Aku ingin dapat mendaratkan kaki di tanah Eropa yang sangat menggoda. Aku rindu menikmati indahnya bunga tulip di musim mekar. Ya, betapa aku pencinta tulip, tulip putih. Aku ingin lupa, aku sungguh ingin lupa dan memulai hidupku dari hari ini, Senin, 18 Januari 2021. Aku ingin tak seorang pun mengenalku, aku ingin mereka menilai dan belajar mengenalku mulai hari ini. Aku ingin tumbuh mengenal manusia baru, dunia yang baru, rumah dan tetangga yang baru, hidup baru. Kupejamkan mata, berusaha menghirup merangkum udara semenenangkan mungkin. Aku menari...