Melepasmu, Sahabat

 

Surat untuk Sahabat

Selamat jalan, damai bersama Bapa di Surga.

Maaf untuk sebuah sapa yang begitu lama tak lagi bertutur sapa di antara kita. Semua berawal di hari valentine dua tahun silam. Entah kenapa aku tidak suka valentine, aku tidak suka, dan beliau mengucapkan, “Selamat hari valentine Rolah.” “Tidak, aku tidak suka valentine. Aku tidak percaya valentine.” jawabku ketus sembari berlalu. Aku salah, aku yang salah waktu itu.

Semenjak itu, kita tak lagi bertegur sapa seperti biasa dan jarak pun seketika menjauhkan. Sesunguhnya aku tidak sedang membenci siapapun, apalagi beliau; hanya saja aku sedang tidak berdamai dengan diriku sendiri. Waktu itu suasana hatiku memang sedang “pecah”. Aku menjadi tidak suka ucapan dalam bentuk apapun. Bahkan setiap setangkai bunga yang diberikan orang lain di hari itu, aku kembalikan pada pemiliknya. Setiap cokelat yang datang selalu kukembalikan kepada yang punya, bahkan aku memintanya untuk memberi pada yang lain. Aku sungguh sedang tidak baik-baik saja waktu itu. Dan itu, adalah masa di mana aku harus menjalani medical cek up secara rutin dan tidak banyak yang tahu. Mungkin, kali ini ketika kalian membacanya kalian tahu yang sebenarnya.

Aku berjuang untuk hidup. Aku berjuang, tetapi jiwaku ingin menyerah. Hingga akhirnya, aku tiba di satu titik “pasrah”. Saat itu, Tuhan bicara di hatiku, “Bernapas karena Anugerah”.  Bahkan, tidak banyak yang tahu aku harus menjalani tahapan yang lebih berat, dan di situ Tuhan tanamkan di hatiku, “Komitmen.” Entah, kebenaranian dan kekuatan seolah menjadi datang begitu saja.

Sesungguhnya, aku sangat membenci pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Aku sangat tidak suka perpisahan. Karena perpisahan selalu membuatku jatuh sakit. Tidak banyak yang tahu pasti bagaimana rasa perih “perpisahan”, hanya jika kamu pernah mengalaminya. Sebagian dari melihatku selalu tegar, tetapi tidak begitu dengan hati. Aku hanya belajar ikhlas dengan keputusan Sang Pencipta, karena segala sesuatu ada masanya, ada batas waktunya.

Di saat semua orang menangis terisak, aku hanya terdiam mematung. Aku tidak mengerti caranya menangis seperti kalian. Aku ingin menangis sekencang mungkin, tetapi seakan aku tidak punya air mata, namun jantung terasa dihujam. Hanya di lorong sepi dan sunyi ketika menaiki anak tangga, tubuh terasa lunglai, perlahan aku terisak, ingin menjerit sekencang mungkin.

“Tepat seminggu, Jumat hari yang lalu, kita melangkah menuju ruang lantai satu yang bersebelahan. Beliau berada tepat melangkah di belakangku. Kita sudah saling bertegur, tetapi terasa sungkan dan sulit kembali seperti yang dulu. Aku membuka pintu ruangan, lalu menyerahkan kunci padanya untuk membuka ruangnya. Hanya senyum tipis di antara kita berdua.” Itu saja yang kuingat, Pak. Senyum tipis, ragu namun tulus.

Tetapi, jujur, seminggu ini aku selalu memperhatikan beliau. Bahkan, ketika kemarin aku mampir ke kantor hanya untuk mengantarkan pisang, meja pertama yang kuperhatikan adalah meja beliau. Tetapi, meja itu kosong. “Di mana dia? Semoga baik-baik selalu.” ujarku sembari berlari buru-buru keluar dari dalam kantor yang sepi. Aku selalu memperhatikannya setiap kali mengambil obat dari dalam tas, karena mejaku di belakang sebelahnya. Aku diam, tetapi aku selalu memperhatikannya. Karena dulu, setiap hari aku selalu membawa kotak obat. Bahkan temanku pernah berkata, “Sepertinya, nanti suatu saat kamu bisa mati karena obat sudah tidak berfungsi lagi di tubuhmu.” Puji Tuhan, aku sudah pulih.

Kemarin sore, hatiku berbicara, “Akan ada perpisahan.” Lalu, aku berkata, “Tidak, aku menolaknya, semua akan baik-baik saja”. Semalaman, aku tidak bisa tidur hingga subuh, tadi pagi aku menangis di tempat tidurku karena sedih yang tidak aku mengerti. Dan ternyata,,,

“Selamat jalan, Pak, terima kasih untuk semua kebaikan. Terima kasih sudah menjadi orang pertama yang bisa menerima saya di kantor dengan segala sikap dingin dan diamnya saya. Terima kasih sudah mendengar semua curhatan saya. Terima kasih untuk sepotong kue ulang tahun yang disimpankan untuk saya. Terima kasih Pak sudah selalu membela saya di saat orang-orang menilai saya terlalu sombong, introvert, tidak bisa bergaul, terlalu membatasi diri. Terima kasih sudah membuat saya belajar untuk lebih sosial. Terima kasih sudah menerima saya sebagai adik pada waktu itu. Terima kasih untuk semua kebersamaan yang pernah ada. Maaf untuk semua kata yang tidak sempat terucap. Selamat jalan,,, damailah,”


Salam,

Ro Situmorang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?