Teman Sepi
Mataku menatap lurus pintu yang terbuka dipagari besi, terlihat tanaman hijau menggeliat menyapa sapa dimainkan oleh alam di taman depan. Di sini, di ruang kerja pribadi ini aku dapat merasakan embusan angin sore yang halus. Entah kenapa, belakangan ini aku ingin sekali dapat berlari sejauh mungkin, atau sekadar menikmati puncak yang hijau menjulang. Aku ingin menelisik dan mendengar percakapan burung hutan dalam lembut dan damainya alam. Aku ingin dapat mendaratkan kaki di tanah Eropa yang sangat menggoda. Aku rindu menikmati indahnya bunga tulip di musim mekar. Ya, betapa aku pencinta tulip, tulip putih. Aku ingin lupa, aku sungguh ingin lupa dan memulai hidupku dari hari ini, Senin, 18 Januari 2021. Aku ingin tak seorang pun mengenalku, aku ingin mereka menilai dan belajar mengenalku mulai hari ini. Aku ingin tumbuh mengenal manusia baru, dunia yang baru, rumah dan tetangga yang baru, hidup baru.
Kupejamkan mata, berusaha menghirup merangkum udara semenenangkan mungkin. Aku
menarik lembaran ingatan, membayangkan taman penuh bunga dengan deretan
warna-warninya, dan sebuah kincir besar sedang bergerak dengan putaran
baling-baling. Oh, beautiful land. Aku merasakan keindahan dan segar yang
menelusuri menyerap dalam jiwa. Ini sungguh semesta dengan desain yang indah.
Kapan? Kapan kakiku dapat mendarat dan kembali bersentuhan dengan jalanan hitam
atau bata yang basah? Kapan aku dapat lagi merasakan aroma segar sehabis hujan
yang menumbuhkan ide-ide baru dalam pikiran? Akankah aku menulusuri jalan itu
dengan kakiku sendiri atau mungkinkah ada kaki lain yang akan menemani?
Aku ingin hidup bebas. Aku sungguh ingin bebas. Aku sungguh
ingin dapat bekerja tanpa harus terikat oleh aturan umum ataupun kontrak pribadi yang terlalu mengikat. Aku sungguh
ingin hidup dengan caraku. Aku ingin dapat menelusuri jalanan ke mana semesta
berputar. Aku ingin mencecap segelas minuman hangat di distrik kota Amsterdam,
memandang dunia dengan bebasnya tanpa takut akan kehilangan, tanpa takut akan
kekurangan, tanpa takut adanya mata-mata.
Sungguh, aku ingin berlari menuju perahu yang
membawaku menelusuri rumah-rumah berjejer ramai penghuni di kiri kanan kanal air, melambaikan tangan
pada mereka yang sedang membuka jendela. Aku ingin menatap tepian yang
ditumbuhi tanaman, atau sekadar menikmati aliran air yang cokelat namun cukup
tenang ketika dinikmati. Aku ingin terus menelusuri aliran air, duduk tenang dalam perahu dengan
alunan musik yang dimainkan perlahan, yang mungkin saja membawaku terlelap lalu
melanjutkan pertualangan ke kota atau negara lain.
Aku sungguh ingin dapat berteriak bahagia, aku ingin
dapat melompat tanpa harus berpikir apa yang dipikirkan orang yang melihat. Menarik
sepeda yang terparkir berjejer di pinggir jalan lalu mengayuhnya sekencang
mungkin, membeli beberapa bunga di pinggir jalan. Membagikan bunga pada
mereka yang sedang murung di jalanan atau sekadar berbagi cemilan yang kupunya.
Menghapus air mata anak kecil di taman yang mainannya rusak, atau memberikannya
mata uang untuk membeli yang baru. Mengetuk jendela mobil mini dan memerintahkannya
membawaku mengelilingi Holland, meninggalkanku di pedesaan untuk melanjutkan menikmati
indahnya tanaman buah-buahan yang tertata. Bahkan, melupakan waktu yang terus melaju ketika asik bercakap-cakap
dengan mereka, disambut sebagai keluarga meskipun dulu moyangku pernah dijajah.
Aku ingin, aku ingin berlari, aku ingin memeluk
semesta, aku ingin bercerita tentang hadir dan hilangnya apa yang kupunya, aku
ingin bercerita tentang rasa sakit, tentang rasa bahagia, tentang syukur,
tentang jenuh, dan tentang air mataku yang terkadang tak lagi mengalir. Aku
rindu. Aku ingin bebas. Aku ingin berlayar sejauh mungkin tanpa takut kapalku
tenggelam, karena tidak semua kapal tenggelam ketika berlayar. Aku ingin
menikmati semesta dengan cara yang berbeda, karena aku memang beda.
Salam,
Ro Situmorang
16:48, 180121
Komentar
Posting Komentar