Mental Healt
Untuk dapat mengembalikan rasa percaya kepada orang lain adalah, hal sulit. Cenderung tidak disadari sikap dan perilaku respon terhadap orang lain adalah bentuk dari gangguan mental yang ada pada diri. Bahkan, tidak sedikit orang tidak bisa menerima dan mengakui bahwa ia mengalami gangguan mental. Ini karena mental itu sendiri sedang berada pada posisi tidak baik-baik saja, namun seolah sudah menjadi hal biasa bagi pribadi tersebut. Sebaliknya, ada pula yang dapat menyadari.
Apa yang harus dilakukan dalam menyembuhkan mental
terutama mengembalikan “rasa percaya”?
Menghubungi psikiater?
Ya, ini adalah alternatif yang dianggap baik bagi sebagian
orang, dan ini juga dapat dikatakan cukup ampuh, bahkan menurut saya ini adalah
“pelarian terbaik” untuk sementara waktu karena kamu betul-betul butuh
pertolongan atau penanganan. Namun, mengunjungi psikiater tidaklah selalu
menjadi solusi terbaik jika kamu tidak berusaha ke luar dari zona tersebut. Pada
akhirnya, muncul pula rasa ketergantungan.
Banyak aspek yang mengakibatkan seseorang kehilangan
rasa percaya terhadap orang lain, satu di antaranya mengalami trauma berat atas
rasa kecewa. Hal-hal ini tentunya cenderung terjadi pada orang-orang yang
cenderung terlalu tulus, namun faktanya tidak semua manusia yang dijumpai sama
sepertinya.
Apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan rasa
percaya?
“Dengan menerobos rasa takut itu sendiri”, ini
ekstrim, ini bukanlah hal gampang/instan. Tentunya, butuh waktu untuk terlebih dulu memulihkan
rasa percaya, pemulihan batin (banyak berdoa, belajar mengampuni, belajar
ikhlas, dan belajar mensyukuri masa sekarang pasti akan menjadi lebih baik dan
segala yang telah terjadi adalah proses pematangan diri). Proses pulih bisa
saja sebulan, setahun, bahkan lebih atau “belajar untuk pulih seumur hidup”;
karena tingkat gangguan “mental” setiap orang berbeda serta kemampuan fisik
untuk menghadapinya juga berbeda. Ketika kamu berhasil menerobos rasa takut itu
dan berhasil menemukan orang-orang yang tepat, maka “mental” itu akan berangsur
terpulihkan. Rasa percaya itu akan tumbuh kembali seperti tunas baru. Tentunya,
proses ini sangat dipengaruhi oleh orang-orang sekitar yang turut berperan.
Apapun masalah seseorang, sebagai teman atau sahabat,
kolega, dan sebagainya, belajarlah untuk tidak pernah mengatakan,
“Ah, cuman gitu doang”.
“Nyantai aja lagi, semua lu pikirin.”
“Ah, gua udah menghadapi masalah lebih dari itu, gua
baik-baik aja”
“Lu lebay, baru gitu.”
“Masalah gua pernah lebih berat dari masalah lu.”
Daripada mengutarakan hal seperti itu, lebih baik luangkan waktu
untuk mendengarkan dia dan tidak untuk menilainya. Ingat, fisik setiap orang memiliki
kemampuan yang berbeda dalam menghadapi setiap masalah dan tidak ada orang yang terlalu lebay dalam masalahnya.
Ro Situmorang
310121; 08:17
Komentar
Posting Komentar