Denting Melodi

Mungkin ruang sepi ini pun bingung melihatku perlahan terisak. Entahlah, hatiku begitu halus dan lembut. Mungkin mereka berpikir aku selalu tangguh dengan setiap tampilan dan tindakan. Tetapi, apa mereka tahu bahkan dentingan piano saja cukup untuk menguras emosi. Aku selalu masuk ke ruang melodi dan menemukan dunia lain di sana. Aku melihat banyak warna jiwa yang tak sanggup aku jabarkan. Namun, entah kenapa aku selalu saja menelusuri melodi itu bahkan menikmati dalam sunyi. Ada rasa sakit yang teramat dalam, ada rasa pilu yang tak terungkapkan, ada sembilu yang mengiris perlahan, ada teriakan dalam diam, ada rintihan tanpa pekikan, ada hampa dalam nuansa kematian, ada ketenangan yang damai dalam pelukan surga.

Melodi yang tenang berpacu pada cepat rambat seakan perlahan menggambarkan hutan gelap dengan kabut yang pekat; satu jiwa tersesat, satu jiwa kehilangan pemandu arah.  Perlahan, kabut menghilang dan meninggalkan hutan hitam yang basah. Perlahan cahaya datang menerangi yang entah dari mana, tetapi dari atas; satu jiwa berjuang untuk bertahan. Pelahan, tampak tunas kecambah mulai meliuk dan menghadapkan wajahnya pada langit yang murung. Terus bangkit, bangkit, bangkit untuk hidup mengejar cahaya, menantang alam bebas yang berubah kapan saja. Menancapkan akar-akar halus yang semakin kokoh. Ini bukan ilusi, ini semesta sedang bertumbuh dengan berbagai versi.

Nikmati dentingannya, masuklah lebih dalam, lebih dalam lagi. Di alam ini aku menemukan pepohonan yang tampak usang dengan daun menguning, satu persatu berguguran. Ada rela dan ketidakrelaan dengan satu persatu runtuhan dahan dan ranting, perlahan tak lagi tampak tunas baru yang tumbuh pada. Perlahan, pepohonan mengering, menyisakan dahan dan ranting kosong tanpa penghuni. Tak ada lagi burung yang menyematkan rumahnya di sana. Sesekali, burung hanya mendaratkan sejenak kakinya untuk memacu kekuatan terbangnya, lalu dahan itu pun patah; satu persatu, dan menyisakan kenangan masa lalu pada kehidupan yang selanjutnya.

Menangislah ketika air mata masih sudi mengalir, nikmati perih dalam adrenalin yang membeku. Nikmati patah dan tumbuh dalam rangkaian melodi. Betapa harmoni dapat bercerita dengan lincahnya melampaui daya persepsi. Bukankah dalam hidup ini yang paling berat adalah mengatakan “selamat tinggal” meskipun faktanya adalah begitu?


Salam,

Ro Situmorang

10:21, 190121

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?