Masa Peremukan
Menjadi seorang Kristen bukan
berarti hidup terlepas dari masalah. Justru masalah adalah "bagian dari" yang menjadikan kita
kuat untuk terus melangkah dan mempertahankan iman.
Bagi saya, karya Tuhan dalam
hidup saya sungguh tak dapat saya bayangkan; sangat luar biasa dan di luar
pikiran saya; dahsyat. RancanganNya begitu sempurna. Bukan berarti saya tidak
pernah gagal, kehilangan arah, bahkan hilang pengharapan: dan lebih fatal lagi,
saya harus keluar masuk rumah sakit akibat depresi berat. Namun, berjalan
bersama Tuhan Yesus membuat saya mampu melewati badai dalam zona waktu saya. Pada
saat saya merasa detik-detik kehidupan saya akan berakhir, satu hal yang selalu
saya ingat, “Tuhan punya rancangan yang indah penuh harapan dalam hidup saya. Apapun
yang terjadi dalam hidup saya, saya harus tetap bersamaNya. (Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,
demikian firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan
kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.)” Yes,
amin!
Ya, tentu saja sebagai manusia,
menjalani “kehidupan di tengah kekacauan”, hal itu tidaklah gampang. Sebagai manusia,
saya tidak dapat memungkiri bahwa iman saya bisa naik turun. Di sinilah kita
menjalani masa ujian hingga peremukan untuk penguatan; apakah berhasil atau
tidak. Untuk melewati masa itu, bahkan setiap masa dalam hidup kita, luangkanlah,
khususkan “me time” bersama Tuhan Yesus. Sampaikan keluh kesahmu; tidak hanya
keluh kesah, dalam rangakaian hari kita pasti ada sukacita, ceritakan semua
padaNya dalam ucapan syukur. Angkat pujian penyembahan sekalipun kita sedang
kebingungan, kacau, hancur, dan sebagainya. Bernyanyilah terus, minta Tuhan
Yesus beri kekuatan. Setiap kali merasa gejolak ingin menghantam kita, ucapkan,
“Darah Yesus. Dalam nama Yesus. Saya kuat oleh kuasa Yesus. Yesus tolong saya.
Yesus turut bekerja dalam hidup saya. Tuhan pulihkan hancur hati saya. Dst.” Jika
kita tidak dapat berkata-kata panjang lebar, doa singkat “dalam nama Yesus”
sangat kuat kuasanya jika kita mengimaninya.
Pada waktu itu, tahun 2016 di
bulan Oktober, saya mengalami depresi berat dan saya tidak menemukan seorangpun
yang bisa menjadi tempat pelarian saya. Tidak keluarga, tidak sahabat. Tidak pula
Tuhan, karena pada masa itu saya merasa bersalah karena saya tidak menerima
kasih kurnia yang Tuhan berikan dalam hidup saya; saya tidak dapat memahami
rancangan Tuhan dalam hidup saya. Mungkin saja saya kurang rendah diri, kurang
berhikmat untuk meminta tuntunan Tuhan. Dan hal ini sangat sulit untuk saya
jelaskan pada orang lain, hingga-hingga saya pun takut untuk berseru pada
Tuhan. Saya menyalahkan diri saya sendiri dan akhir dari depresi saya, saya
harus menjalani fisioterapi dan konsultasi medis, keluar masuk rumah sakit
bahkan ruang operasi. Ketika itu, saya melihat Mama saya selalu menangis dan
terus berdoa untuk kesembuhan saya.
Hari-hari yang saya lalui
terasa kosong. Sampai suatu ketika kata hati saya mulai berbicara; ada sesuatu
yang sempat mati dan hidup kembali, “Kamu harus mengampuni, kamu akan
dipulihkan.” Seketika setelah itu, saya menangis. Saya menangis sejadi-jadinya
pada Tuhan, “Tuhan selidiki hatiku. Tuhan jamah hatiku. Sekiranya aku tak bisa
mengampuni, kuyakin kuasaMu sanggup memberi hati padaku, hati yang mengampuni.”
Saya bergumul, saya mulai kembali melibatkan Tuhan dalam masalah saya. Saya belajar
memaafkan diri saya sendiri dan orang lain. Saya yakin Tuhan memandang saya
yang sedang terjatuh dan Ia mengulurkan tanganNya pada saya. Namun, diri
manusia saya sering kali tidak peka. Hingga saya masuk proses operasi 4 kali,
dan 4 kali itu pula selalu ada halangan yang membatalkan. Dan Puji Tuhan, saya dipulihkan Tuhan Yesus tanpa operasi. Tuhan
memulihkan saya. Saya sehat, saya disembuhkan, hati saya dipulihkan olehNya. Air
mata mama saya menjadi bagian penyemangat saya untuk bangkit dan pulih.
Dan akhirnya,
saya menciptakan sebuah lagu dengan judul “TERANGMU” untuk mengingatkan saya bahwa
kekuatan pengampunan adalah kasih karunia Tuhan Yesus dalam hidup saya, yang
membangkitkan saya dari gelap maut. Selamanya, Ro mau tetap bersama Tuhan Yesus
melewati setiap masa dalam hidup.
Mengapa saya memberi judul “Masa
Peremukan”? Artinya di sini, mengikut Tuhan Yesus bukan berarti semua akan
baik-baik saja, mulus-mulus saja: akan tetapi kita akan melewati jalanan
terjal, jalan berlobang, menaiki gunung, melewati gurun, menghadapi badai,
namun Tuhan Yesus akan tetap ada bersama kita selama kita berseru padaNya.
Jika kamu belum mengalami masa
peremukan dalam hidupmu, kamu belum benar-benar hidup. Setiap manusia memiliki
masa peremukannya sendiri sesuai individu masing-masing sampai pada akhirnya
kita semakin peka dan didekatkan pada Tuhan Yesus.
“Roma 6:18 Kamu telah
dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Untuk itu, teruslah
bejuang untuk hidup benar, untuk tetap mempertahankan iman percaya kita hingga
akhir masa dalam hidup. “Matius 3:17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang
mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ayat ini
berbicara mengenai Yesus dibaptis. Namun, pertanyaanya adalah “Bukankah kamu
percaya pada Tuhan Yesus?” Jika ya, maka saya dan kamu, juga dikasihi,
dipandang, dan diperhatikan Bapa di Surga: maka biarlah perkenanan Tuhan yang
terjadi dalam hidup saya dan kamu, kita semua yang percaya pada Yesus Kristus
yang adalah Juru Selamat. Amin. -
Ro Situmorang
Salam kasih J
Komentar
Posting Komentar