Memberi Kesempatan


Dalam bulan ini, Tuhan mengingatkan saya tentang “memberi kesempatan”. Untuk itu, pada bulan ini pula sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk segala jenis kegiatan yang dapat saya tawarkan jasa tanpa imbalan. Dengan jadwal yang cukup padat, pada akhir bulan saya menemukan kejenuhan. Tidak tahu, intinya ada rasa yang belum beres dalam perlakuan saya. Dan saya tidak menemukan jawabnya.

Hari ini, pada tanggal 30 Juli 2019, Tuhan kembali mengingatkan dan mengajari saya hal “kesempatan”. Sungguh, ini adalah tiga hari terakhir di penghujung bulan ini saya merasa ada yang tidak beres bahkan dengan pribadi saya. Dan hari ini, saya menemukan apa yang mencuri damai sejahtera saya, “Saya khawatir akan diri saya sendiri.” Banyak harapan-harapan yang ingin secepatnya saya wujudkan, dan saya merasa sanggup dengan ego saya. Tetapi, hari ini Tuhan tegur saya, “Mengapa jiwamu terlalu resah dan mulai memikirkan jalanmu sendiri? Sudah tidak cukupkah kau libatkanKu dalam hidupmu?”

Ya, seperti anak kecil yang merengek pada Bapa dan Ibunya. Saya malu sama Tuhan. Berulang kali salah, Tuhan selalu sabar menegur saya. Berulang kali jatuh dalam dosa, Tuhan masih saja mengulurkan tanganNya. Tuhan selalu memberi kesempatan pada saya.

Hal “kesempatan”, saya memang mulai melatih menutup diri untuk memberi kesempatan pada orang lain memasuki dua bulan terakhir. Tidak hanya itu, saya juga protes mengenai orang-orang seiman yang saya lihat rohani namun faktanya tidak seperti harapan saya. Saya berusaha ingin merubah mereka; seakan saya lupa bahwa hanya Tuhanlah yang sanggup mengubah hati manusia, dan tugas saya hanyalah mendoakan. Betapa pada hari Minggu tiga hari yang lalu, saya tidak menikmati khotbah. Saya malah protes sama Tuhan, “Kenapa khotbahnya hanya begini?” Padahal, setelah berusaha membuka diri merenungi kembali di rumah, walaupun sudah biasa dan sederhana, tetap saja ada hal positif yang dapat ditangkap “sebagai pengingat”.

Lagi-lagi tiga hari terakhir ini saya sedang kehilangan diri. Kesibukan yang begitu padat membuat saya mulai merasa labil dan asing pada diri sendiri. “ketidakberesanku” membawa saya menghindari kegiatan menara doa yang biasanya selalu saya upayakan wajib hadir. Saya bicara sama Tuhan, “Tuhan hatiku hilang, Ro izin.” Sesungguhnya ada rasa takut yang besar ketika saya memilih untuk menghindar, lagi-lagi kali ini saya memutuskan untuk menenangkan diri dengan ketenangan pribadi. Saya justru memilih menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan hingga larut malam. Setelah saya pulang, saya belajar merenung dan membuka hati, kembali berusaha dengar-dengaran sama Tuhan, “Sebenarnya ada apa, Tuhan?” Satu hal yang terbisik di hati saya, “Merenung dan bersyukurlah.”

Pada pagi ini Tuhan berkata, “Kamu harus memberi kesempatan. Hari ini seseorang telah memberimu kesempatan; maka kau harus membayarnya dengan memberi kesempatan pada orang lain pula.” Ya, hari ini pimpinan saya memberikan kesempatan pada saya untuk memperbaikan kelalaian, yang bahkan saya sendiri berpikir ini adalah kekonyolan yang entah mengapa seorang Ro bisa. Namun, di balik itu semua, kekonyolan itu tidak benar adanya, ini hanya cara Tuhan menegur saya hal memberi “kesempatan”.

“Saya tidak mengerti mengapa Tuhan berbicara mengenai kesempatan; dan saya tidak tahu siapa orang yang diinginkan Tuhan untuk saya beri kesempatan. Saya kira, dengan menyibukkan diri selama sebulan terakhir ini adalah kesempatan yang Tuhan maksud untuk “memberi kesempatan”, namun ternyata tidak. Tuhan mau saya bisa “memberi kesempatan” lagi, lagi, dan lagi. Tuhan tanamkan di hati saya, ada seseorang, dan saya tidak tahu.”

“Tuhan sekiranya ada yang tidak baik dari hatiku, ada ketidaktulusan, ada hal-hal tidak seturut inginMu, jamahlah aku, ubahlah aku. Sebab Engkau sanggup mengubah jiwa menjadi baru setiap hari dalam pengharapan hanya padaMu. Berikanlah Ro kebesaran hati untuk “memberi kesempatan” kepada orang-orang yang membutuhkan kesempatan dariku. Dan sekiranya, terberkatilah orang-orang tersebut. Jadikanlah Ro alat kasihMu. Amin.” – Ro Situmorang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?