Pantaskan Saja Dirimu


Apa kau pernah merasa enggan untuk jatuh cinta?

Kata mereka, jatuh cinta sejuta rasanya. Entah bagaimana membayang sejuta rasa yang dimaksud, aku tak pernah alami. Dan aku pernah jatuh cinta namun bukan pada yang juga mencintai. Kau tahu bagaimana rasanya?

Bukan hal bagaimana rasanya, tetapi aku bersyukur, aku bisa mengerti bagaimana rasanya jadi mereka yang menyukaiku tetapi aku tidak. Lagi-lagi, cinta itu tidak dapat ditebak maunya. Untuk itu, aku tidak memaksa seseorang menyukaiku kembali. Karena, cinta adalah keikhlasan.

Aku pernah berada di fase tak ingin dekat dengan siapapun, ingin sendiri. Tak bisa menerima kehadiran orang baru, apalagi yang nyata-nyata berusaha menarik perhatian dan fokus. Bukan godaannya kurang usaha, namun ada kalanya hati berada pada konteks tak ingin memberi diri untuk dekat, siapapun.

Aku pernah memiliki ekspektasi yang tinggi akan cinta. Menyanjungnya seakan aku sangat yakin dapat mewujudkannya. Dulu, aku berpikir aku dapat menyebutnya “cinta pertama” dalam alur hidupku. Namun, aku gagal. Hingga akhirnya, fakta menuntutku untuk dapat menerima pahitnya empedu. Bahwa ekspektasi yang kelewat tinggi tak jarang menorehkan luka yang tak mudah pemulihannya. Luka yang tak tampak, namun menggoncang psikis yang terlalu optimis.

Butuh waktu yang lama untuk dapat pulih, bahkan tidak ada dokter yang bisa meresep obatnya. Dan akhirnya, rasa itu menumbuhkan benteng di dalam hati. Aku tak ingin terluka, juga tak ingin melukai. Bukankah kita lahir sendiri dan mati juga sendiri? Lantas apa yang dikhawatirkan dari kesendirian? Semuanya hanya butuh kesabaran dan pada akhirnya adalah pembiasaan. Dan kini, aku mahir membahagiakan diri dengan cara sendiri. Karena cinta bukan hal butuh atau ketergantungan hidup. Jika sebelum mengenalnya kau baik-baik saja, sejatinya kau juga akan baik-baik saja tanpanya. Berlatihlah. Kau bisa. Jangan sepertiku yang serius jatuh cinta.

Lanjut berlanjut, tiba pada fase bahwa menahan rasa yang akhirnya fana hanyalah membuang-buang waktu. Jika kau berada pada fase cinta sendirian, belajarlah untuk melangkah jauh. Mutiara tak hanya satu di dunia ini. Jika kau terlalu optimis akan cinta pertamamu namun kau gagal, percayalah mereka di luar sana berulang kali jatuh, berulang kali patah, namun tak takut untuk jatuh cinta lagi; lalu mereka menemukan kebahagiannya. Cinta pertamamu mungkin gagal, tetapi mungkin saja cinta ketujuh adalah jodohmu. Pantaskan saja dirimu, bahwa yang terbaik tak mungkin datang terlambat. Jika hidupmu adalah panggilan dari dan untuk cinta, cinta akan datang mengisi bagiannya meskipun dikejauhan yang tersembunyi.  – Ro Situmorang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?