Debat dengan Mosi "Dewan ini percaya bahwa karir yang cemerlang penyebab menurunnya angka pernikahan di Indonesia"

        Sekarang ini, sudah tidak jarang untuk kita mendengar kata “karir”. Karir memang sering kita dengar bahkan kita sendiri gunakan. Karir memiliki arti yang erat dengan profesi, pekerjaan, atau panggilan seseorang. Pada saat karir seseorang berkembang dengan baik sehingga dapat dikatakan telah sukses bahkan disebut sebagai karir yang cemerlang. Walaupun karir yang cemerlang memiliki pengertian yang positif namun, karir yang cemerlang juga menimbulkan perdebatan yang melihat bahwa karir yang cemerlang sebagai faktor menurunnya angka pernikahan di Indonesia.

        Menurut Badan Pusat Statistik, angka pernikahan di Indonesia pada tahun 2023 menurun sekitar 7,51 dibanding 2022. Sementara jika dalam satu dekade terakhir angka pernikahan di Indonesia menurun sebanyak 28,63 %. Penurunan ini telah menjadi perhatian serius sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Tentunya bila disesuikan dengan data ini, maka penurunan ini memang terjadi, yang menjadi pertanyaan adalah “Apakah karir yang cemerlang menjadi salah satu faktor dari menurunnya angka pernikahan di Indonesia?”.

        Berdasarkan sudut pandang kelompok pro, tentu akan menyakini secara penuh bahwa karir yang cemerlang menyebabkan menurunnya angka pernikahan di Indonesia. Mereka yang memiliki karir cemerlang cenderung berpikir jangka panjang. Pernikahan termasuk sebagai hal yang perlu dipikirkan jangka panjang. Pernikahan juga memiliki banyak persiapan, tidak hanya persiapan acara pernikahan tetapi juga harus mempersiapkan keperluan pasca pernikahan. Lagipula, pernikahan adalah hal yang sakral sehingga pasangan mengucapkan janji suci pernikahan yang sebaikan terus diwujudkan dalam kehidupan pernikahan mereka. 

        Permasalahan seperti ekonomi dan juga kesiapan mental para pasangan yang telah menikah juga menjadi pertimbangan bagi mereka yang telah memiliki karir yang cemerlang. Perihal ekonomi dan kesiapan mental tidaklah berkaitan dengan seberapa banyak uangnya atau seberapa sukseslah ia dalam pekerjaannya, namun seberapa bijak ia mengatur hal tersebut. Sikap egois juga dapat menjadi penghambat dalam kehidupan pernikahan mengingat bahwa kehidupan pernikahan melibatkan dua orang. Pasangan diharapkan dapat mengerti satu sama lain dan memiliki komunikasi yang baik sehingga perihal ekonomi keluarga dapat berjalan dengan baik dan seimbang serta ketidaksiapan mental para pasangan pun dapat teratasi. 

        Pernikahan sering dijadikan sebagai pencapaian atau titik kebahagian tertinggi dalam kehidupan kita. Sebenarnya pernikahan tidak dapat menjamin sebuah kebahagiaan datang dalam hidup kita. Kita sebagai makhluk hidup yang beragam tentu memiliki tujuan dan keinginan dalam hidup yang berbeda-beda sehingga bentuk jaminan yang membahagiakan kita adalah sesuatu yang menjadi tujuan dan keinginan dalam hidup kita. Hal ini lah yang menyebabkan mereka yang berkarir cemerlang tidak menikah, karena tidak semua kebahagiaan harus datang dari pernikahan, masih terdapat banyak cara untuk menggapai kebahagiaan bagi diri mereka. 

        Mereka yang memiliki karir cemerlang juga cenderung menginginkan hubungan dengan pasangan yang sakral namun lebih fleksibel dan memiliki komitmen. Mereka tidak ingin menikah hanya karena paksaan waktu ataupun keluarga. Lagipula, mereka memiliki hubungan yang fleksibel namun dapat bertahan lama, jika menikah terlalu cepat karena paksaan dan ujung-ujungnya juga berpisah. Hal ini sama saja dengan pernikahan dapat menimbulkan luka dan kesedihan sehingga tanggapan orang-orang mengenai pernikahan mendatangkan kebahagiaan saja tentu telah terbukti salah. Oleh karena itu, bagi mereka lebih baik mengembangkan dan menjaga karir yang cemerlang tersebut agar dapat bertahan bahkan dapat berkembang menjadi lebih cemerlang lagi dan tentunya hal ini akan menimbulkan kebahagiaan juga bagi mereka.

        Selanjutnya berdasarkan kacamata dari kelompok kontra, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa karir cemerlang tidak menjadi penyebab terjadinya penurunan angka pernikahan di Indonesia. Perlu untuk kita ketahui kembali bahwa penurunan angka pernikahan di Indonesia menjadi semakin drastis semenjak adanya pandemi COVID-19. Pada masa pandemi tersebut berbagai macam sosial media dipenuhi oleh generasi muda yaitu genereasi Z. Generasi Z dimulai dari tahun 1997 – 2012. Menerut Diva Devina yang bekerja di bidang kehumasan, generasi muda besar dengan medial sosial dan internet sehingga mudah terpapar dengan kehidupan pernikahan dari influencer, atau orang-orang yang dikenalnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan serta kekhawatiran bagi generasi muda sehingga mereka menyimpulkan pernikahan tidak sebaik apa yang orang-orang sekitar mereka katakan. 

        Menurut Merry Sri Kusumaryani, peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, secara demografi, penurunan selama setidaknya lima tahun ini masih sejalan dengan kebijakan dan program pemerintah Indonesia. Pernyataan dari Merry Sri Kusumaryani membuktikan bahwa penurunan angka pernikahan ini masih sejalan dengan kebijakan dan program pemerintahan Indonesia sehingga masih dapat ditingkatkan lagi. 

        Kita juga perlu mengetahui bahwa negara kita bukan lagi negeara dengan ekonomi kelas bawah, namun telah memasuki kelas menengah. Seiring dengan itu, berbagai fasilitas semakin tersedia. Sekolah salah satunya, sekarang telah lebih banyak dibandingkan dengan dulu. Pada masa sebelum Indonesia masuk sebagai negara berekonomi kelas menengah, banyak perempuan berumur di bawah 18 tahun yang telah menikah, namun dengan adanya kemajuan di aspek ekonomi, negara kita kini telah membangun banyak sekolah sehingga sudah banyak juga anak di bawah 18 tahun yang tinggal di pendalaman untuk tetap bersekolah. Hal ini menunjukan bahwa sebenarnya karir yang cemerlang bukanlah faktor penurunan angka pernikahan di Indonesia. 

        Masih terdapat banyak orang berkarir cemerlang yang memiliki tujuan untuk menikah. Lagipula, bila seseorang sukses secara karir, mereka akan mulai untuk memikirkan hal-hal di luar karir mereka. Berfokus hanya pada pekerjaan hanya akan membuat orang semakin muak yang akhirnya mereka akan merasa bosan dan tidak dapat mempertahan karir cemerlangnya. Pernikahan dapat menjadi kunci untuk mereka menemukan kebahagiaan,memulai lembaran hidup baru. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, penduduk dnegan status pernikahan memiliki indeks kebahagiaan tertinggi yaitu sebesar 72,1%. 

        Simpulannya adalah bahwa dari kedua kacamata pro dan kontra memiliki pandangan yang berbeda mengenai faktor angka penurunan pernikahan ini. Namun, tetap saja sebenarnya argumen pada pro dan kontra masih terkait karena sama-sama membahas mengenai faktor dari permasalahan ini. Faktor dari penurunan angka pernikahan dari argument pro dan kontra adalah karir yang cemerlang, generasi muda yang terpapar sosial media, dan peningkatan fasilitas sekolah di Indonesia. 


Pembimbing : Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.

Pesdik : Fredella Gravrila Matosin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?