Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Rajawali Tidak Terbang Bersama Merpati

  "Rajawali Tidak Terbang Bersama Merpati” Entahlah, aku tidak suka dengan kalimat itu.  Jika ia sungguh rajawali, kenapa harus bermegah? Rajawali memang terbang tinggi, tinggi sendirian.  Lantas, apa salahnya jika ia melangkah bersama merpati?  Apakah sayap kokohnya lantas tak berfungsi?  Apakah itu akan menurunkan derajatnya? “Rajawali yang sesungguhnya akan tetap menjadi rajawali. Halnya, permata akan tetap permata sekalipun ia tersembunyi di dasar kedalaman.” Siapa yang lebih tinggi, ia harus dapat merendah. Karena yang rendah (di bawah) tidak selalu bisa menggapai yang tinggi. Artinya, ketika kamu berada pada puncak kejayaan jangan lupa untuk melihat mereka yang berkekurangan. Siapapun mereka, berbau atau tidak bermegah, selalu ada pembelajaran yang dapat dipetik dari. Sini, kubisikkan; “Sebagian dari bahkan seluruh, hidup kita adalah takdir; rahasia waktu yang tidak bisa ditebak alurnya sampai akhirnya kita tiba pada masa demi masa yang adalah ...

Pulihkan Hati, Mulailah dengan Ketulusan

Seseorang berkata, “Aku mau menikahinya meskipun aku belum mencintainya; aku sudah terlanjur membuatnya jatuh cinta meskipun ternyata setelah bersamanya hatiku biasa-biasa saja; ternyata masih tertinggal pada yang dulu.” “Kau dapat merencanakan menikah dengan siapa, tetapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” – Sujiwo Tejo “Mulailah segala sesuatu dengan keseriusan dan ketulusan, maka apapun hasilnya kamu akan tetap bersyukur. Hidup ini tidak melulu “harus”, tetapi jalani dengan sukacita tanpa ambisi dan ekspektasi berlebihan. Mengenai sebuah rasa, jangan pernah coba-coba; jika belum sanggup menjaga, berhentilah. Sendiri atau bersama pada akhirnya, syukurilah sebagai “Panggilan Hidup”.” – Ro     Tanggapan terbuka dari saya, untukmu Kamu bisa saja menjalin keseriusan dengan seseorang, meskipun hatimu tak serius merajut yang satu nama itu di hatimu. Tetapi, itu adalah kepalsuan. Tidak habis pikir untuk pola pikir seperti itu, meskipun itu suatu kebebasan in...

Jika Tuhan Ada

Siang tadi suasana tampak biasa-biasa saja, namun aku masih dapat menyergap kesunyian yang menguntit. Ini cukup menginspirasi imaji yang selalu berkelana meninggalkan raga.  "Gua mau terbang sendiri”. ujar seorang anak muda. Ia duduk tepat pisah sebangku di sebelah kananku. Aku refleks menoleh padanya. Ia tersenyum ragu, namun aku tak membalasnya. “Terlalu berat”. ujarnya lagi, sembari menyilangkan kedua kaki dan memasukkan kedua tangan ke saku celana. Aku pura-pura tak mendengar. “Kamu tahu, aku membenci hidupku”. ungkapnya lagi. Kali ini, aku yakin ia berbicara denganku yang asik dengan hand notes; menuliskan segala hal apa pun yang seketika terlintas di pikiran (aku lebih mahir menulis ketimbang harus bicara hal tak penting). “Ajari aku cara membenci”. jawabku datar tanpa memandangnya. Tak lama dari itu, aku menoleh padanya yang sebenarnya enggan, kami beradu pandang. Aku tak dapat mengartikan sorot matanya; hancur. Aku berburu menurunkan pandang, aku tidak mau menemukan ...

Wanita Panutan

Selamat hari lahir, Mama .  Sehat selalu dalam lindungan Tuhan.  "Menjadi orang tua tunggal dalam keluarga bukanlah hal mudah. Namun, aku percaya, Tuhan memperhatikan air mata dan doa seorang janda yang berseru pada-Nya. Aku percaya, Tuhan adalah hakim yang adil." #Ro Aku bersyukur punya Mama yang penuh kasih, selalu sabar menasihati, dan selalu ada kapanpun aku kehilangan rasa percaya diri.  Banyak nasihat yang sering kali membuatku merenung, lalu aku menemukan arah yang semakin jelas. Kata Mama, sebagai anak wanitanya haruslah mandiri, kuat menjejakkan kaki sendiri, harus menjadi suluh yang menerangi, harus bijaksana dalam berpikir untuk mengambil keputusan sebagai ujud wanita berpendidikan, dan yang utama adalah ajak Tuhan turut serta di dalamnya. Meskipun begitu, sebagai seorang anak, rasanya aku tidak pernah cukup dewasa di hadapan Mama, sampai kapanpun aku adalah seorang anak yang tidak cukup usia untuk dikatakan dewasa.  "Sadarilah, sem...

Tuhan, Pulihkanlah

Entahlah, ada rasa sedih yang menyusup di hati ketika mendengar satu persatu tenaga medis dipanggil oleh-Nya. Ya, sebagai manusia yang diciptakan kita tidak punya hak untuk menuntut tidak setuju akan keadaan ini. Ia yang mencipta, Ia yang berhak penuh pada ciptaan-Nya, Ia yang memberi dan Ia pula yang berhak mengambil. Aku pernah trauma terhadap dokter, namun ketika jatuh sakit untuk waktu yang cukup lama, dalam kondisi itu aku menemukan sosok dokter yang sebenarnya. Aku mulai menemukan kembali bahwa di masa itu masih ada dokter yang sungguh melakukan pelayanannya. Begitu pula di masa ini. Dua tahun lebih menjalani pengobatan medis, aku bertemu sekitar dua puluh lebih dokter; umum dan spesialis yang memiliki disiplin ilmu berbeda. Aku yang masa itu dalam kondisi sangat tidak baik, secara perlahan tumbuh semangat untuk pulih oleh keramahan dan dukungan tenaga medis yang merawat. Beberapa kesan dokter yang masih kuingat jelas, yaitu dokter bedah mulut. Ketika itu, rahang ki...

Kasih Karunia

Shalom, damai kasih-Nya selalu tertanam di dalam hati kita. Hai, kali ini aku mau membagikan kesaksian aku mengenai kasih karunia Tuhan Yesus yang luar biasa. Harapanku, iman kita semakin dikuatkan dalam menghadapi segala situasi. Amin. Hampir selama tiga tahun aku mengalami depresi berat. Ini sangat sulit untuk aku jalani. Tidak ada yang mengerti, tidak ada yang dapat memahami. Ya, ini sangat sulit   bagiku, tidak ada satupun yang bisa menjadi tempat bercerita. Selama hampir tiga tahun pula aku ke luar dan masuk rumah sakit. Aku betul-betul pasrah akan hidup. Aku lelah, sampai akhirnya aku betul-betul mahir untuk ikhlas apapun yang harus aku hadapi. Ini adalah ujian iman yang luar biasa dalam alur hidup. Puji Tuhan, karena kasih-Nya aku masih dapat hidup hingga sekarang. Hampir setiap hari aku bertanya pada Tuhan, “Lord, apakah hari ini masih dapat aku lalui? Apakah sejam atau dua jam kemudian aku masih baik-baik saja? Apakah hari besok masih ada?” Ya, itulah perta...

Si Burung Gereja

“Terkadang kebaikan tak jarang disalah artikan, hingga tak sadar telah melanggar batas-batas privasi.” -Ro Situmorang Hampir setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan diri untuk menghamburkan nasi di halaman depan dan belakang rumah. Hal ini aku lakukan agar   burung-burung itu dapat sarapan sebelum memulai penerbangannya mencari ulat atau biji-bijian. Aku kasihan membayangkan kalau-kalau mereka tidak mendapat makanan saat kondisi perut lapar. Setidaknya, nasi yang kutaburkan cukup untuk mengganjal perut mereka. Tetangga tampak heran melihat kebiasaanku. Sepertinya mereka berpikir aku sedang melakukan ritual untuk penjagaan rumah. Hahaha,,, tentu saja sama sekali tidaklah demikian. Semuanya berawal ketika burung-burung itu mencuri makanan Lembu (anjing peliharanku), juga selalu memakan sisa remah di pencucian piring di belakang. Lagi-lagi, aku hanya kasihan. Makin lama jumlah burung itu semakin bertambah, seolah sudah tahu jadwal menghamburkan nasi unt...

Memahami Tanpa Menuntut Dipahami

Jangan memaksa orang lain untuk memahami kita, tetapi belajarlah untuk memahami orang lain tanpa harus menuntut untuk dipahami pula.   Maka itu, ketika seseorang tidak mampu memahamimu, “terimalah kenyataan” bahwa orang tersebut tidak memiliki/memunyai kemampuan untuk memahamimu. Oleh karena itu, mu tidak harus dipahami olehnya. Sadarilah, ketika seseorang tidak memahamimu atau berpura-pura tidak paham, “sadarilah” bahwa seseorang memunyai alasan tersendiri mengapa ia seperti itu. Dengan menyadari hal tersebut, kamu sudah berhasil satu langkah memahaminya. Bukankah dalam hidup ini ada hal tertentu yang tidak sanggup diungkapkan secara gamblang? “Tidak seorangpun di muka bumi ini yang tidak mempunyai rahasianya sendiri. Namun, tidak satu rahasiapun yang tidak diketahui oleh Pemilik boneka dari debu.” –Ro