Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Ateis

Shalom teman-teman, hari ini Ro ingin membahas sekilas dan singkat satu pertanyaan yang menurut saya sangat menarik. Seorang remaja bertanya, “Bagaimana tanggapanmu mengenai ateis?” Entah mengapa tiba-tiba saja percakapan kami bisa menjurus ke arah sana. Saya lupa asal mulanya kenapa ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan itu.  Lalu sahabatnya pun menimpali dan akhirnya perbincangan terfokus pada pertanyaan. Saya hanya tersenyum tipis sesekali mengangguk-angguk mendengarkan penuturannya hingga pada akhirnya ia mengatakan, "Saya sudah dibaptis,  namun sekarang saya sudah ateis." Lagi-lagi saya masih tersenyum dan serius mendengar penuturannya, "Kenapa kamu tidak mencerca saya? Selama ini saya takut mengaku ateis pada mereka yang beragama, mereka mencerca saya. Ketika saya beragama, kaum ateis mencerca saya karena terlalu bodoh memercayai adanya Tuhan. Sementara kamu, tampak santai dan biasa-biasa saja dengan semua penuturan saya?"  Ia tampak heran. Baginya e...

Pergilah Lebih Awal

Pergi lebih awal adalah pilihan yang tepat. Namun, jika kamu telah terlanjur melewatkan waktumu tanpa apresiasinya, tak mengapa. Kamu masih punya waktu untuk menarik seluruh kopermu dan melanjutkan pertualangan. Faktanya memang begitu, kamu yang terlalu kuat berusaha mempertahankannya malah lebih sering menjadi orang yang paling terluka. Untuk itu, kamu harus menyadari kapan kamu harus menunggu dan kapan kamu harus pergi. Hatimu perlu dijaga kondisinya. Ya, untuk masa ini kamu akan mengatakan sulit. Namun, aku yakin nanti akan tiba waktunya kamu benar-benar sadar bahwa kamu sudah terlalu lama berpaku. Dan pada saat itu, kamu akan berpikir betapa bodohnya kamu masa itu; namun kamu akan merasa bahagia menertawakan dirimu. Aku doakan, kamu yang masih merasa rasanya patah akan segera terobati. Hingga kamu menyadari bahwa cemburu bukanlah hakmu, bukanlah hal yang berarti. – Ro Situmorang

Memberi Kesempatan

Dalam bulan ini, Tuhan mengingatkan saya tentang “memberi kesempatan”. Untuk itu, pada bulan ini pula sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk segala jenis kegiatan yang dapat saya tawarkan jasa tanpa imbalan. Dengan jadwal yang cukup padat, pada akhir bulan saya menemukan kejenuhan. Tidak tahu, intinya ada rasa yang belum beres dalam perlakuan saya. Dan saya tidak menemukan jawabnya. Hari ini, pada tanggal 30 Juli 2019, Tuhan kembali mengingatkan dan mengajari saya hal “kesempatan”. Sungguh, ini adalah tiga hari terakhir di penghujung bulan ini saya merasa ada yang tidak beres bahkan dengan pribadi saya. Dan hari ini, saya menemukan apa yang mencuri damai sejahtera saya, “Saya khawatir akan diri saya sendiri.” Banyak harapan-harapan yang ingin secepatnya saya wujudkan, dan saya merasa sanggup dengan ego saya. Tetapi, hari ini Tuhan tegur saya, “Mengapa jiwamu terlalu resah dan mulai memikirkan jalanmu sendiri? Sudah tidak cukupkah kau libatkanKu dalam hidupmu?” Ya, seperti...

Dia Tidak Mengabaikanmu

Kenapa kamu bersedih? Tidak ada gunanya, Sobat. Apa pun yang terjadi padamu, ingat semua adalah seturut rancanganNya. Jika kamu merasa diabaikan, bersyukurlah akan hal itu. Bahwa pengabaian masa kini adalah bagian dari jawaban perancanganNya. Kamu tidak perlu berusaha mengklarifikasi siapa dirimu. Kamu pun tak perlu marah atas pengabaian yang kamu dapatkan, terlebih sampai sakit hati dan kepahitan. Siapkanlah waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Lakukan saja bagian terbaik yang dapat kamu lakukan. Percayalah, pembelaan Tuhan akan terjadi dalam hidupmu. – Ro Situmorang

Pantaskan Saja Dirimu

Apa kau pernah merasa enggan untuk jatuh cinta? Kata mereka, jatuh cinta sejuta rasanya. Entah bagaimana membayang sejuta rasa yang dimaksud, aku tak pernah alami. Dan aku pernah jatuh cinta namun bukan pada yang juga mencintai. Kau tahu bagaimana rasanya? Bukan hal bagaimana rasanya, tetapi aku bersyukur, aku bisa mengerti bagaimana rasanya jadi mereka yang menyukaiku tetapi aku tidak. Lagi-lagi, cinta itu tidak dapat ditebak maunya. Untuk itu, aku tidak memaksa seseorang menyukaiku kembali. Karena, cinta adalah keikhlasan. Aku pernah berada di fase tak ingin dekat dengan siapapun, ingin sendiri. Tak bisa menerima kehadiran orang baru, apalagi yang nyata-nyata berusaha menarik perhatian dan fokus. Bukan godaannya kurang usaha, namun ada kalanya hati berada pada konteks tak ingin memberi diri untuk dekat, siapapun. Aku pernah memiliki ekspektasi yang tinggi akan cinta. Menyanjungnya seakan aku sangat yakin dapat mewujudkannya. Dulu, aku berpikir aku dapat menyebutnya ...

Masa Peremukan

Menjadi seorang Kristen bukan berarti hidup terlepas dari masalah. Justru masalah adalah "bagian dari" yang menjadikan kita kuat untuk terus melangkah dan mempertahankan iman. Bagi saya, karya Tuhan dalam hidup saya sungguh tak dapat saya bayangkan; sangat luar biasa dan di luar pikiran saya; dahsyat. RancanganNya begitu sempurna. Bukan berarti saya tidak pernah gagal, kehilangan arah, bahkan hilang pengharapan: dan lebih fatal lagi, saya harus keluar masuk rumah sakit akibat depresi berat. Namun, berjalan bersama Tuhan Yesus membuat saya mampu melewati badai dalam zona waktu saya. Pada saat saya merasa detik-detik kehidupan saya akan berakhir, satu hal yang selalu saya ingat, “Tuhan punya rancangan yang indah penuh harapan dalam hidup saya. Apapun yang terjadi dalam hidup saya, saya harus tetap bersamaNya. (Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikian firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancan...

Tuhan Bukanlah Sebuah Konsep Pemikiran Manusia

Kepada sabahat milenial yang selalu bertanya, "Apakah Tuhan itu ada?"/"Tuhan hanyalah konsep pemikiran manusia semata." Aku pun pernah serupa seperti sebagian dari kalian. Bertanya-tanya, "Apakah Tuhan itu sungguh nyata adanya?". Sampai suatu hari, aku kuliah dan mulai mempelajari beberapa agama (ini terlalu panjang jika diceritakan). Namun di balik itu semua, aku tidak memperdebatkan perbedaan yang kutemukan. Ya, itu seumpama mendapat materi atau metode baru dalam lingkup ilmu pengetahuan. Aku berasal dari keluarga Kristen, tetapi aku hanya tahu sekadarnya saja. Orang tua tidak pernah menekankan secara khusus bahwa iman itu penting, Alkitab harus dibaca, dll, justru lebih mengajarkan untuk hidup disiplin dan bertanggung jawab. Yang saya tahu, Mama rajin berdoa, bahkan di mana saja katanya tidak masalah. Namun, aku tidak paham untuk memahami pada masa itu. Bahkan, sewaktu SD-SMP aku cukup menghindar untuk beribadah. Suatu waktu sekitar 8-9 tahun sila...

Pencipta yang Ajaib

Teruntuk Jantungku Bolehkah kau tersenyum sekali saja, ya, sekali saja? Hanya padaku. Oh jantungku, terima kasih karena selalu menemaniku untuk terus berkreasi. Terima kasih karena masih setia melengkapi. Terima kasih juga untuk serangkaian sahabatmu, yang pada akhirnya berwujud aku. J Jantungku, maafkan aku belum jua menemukan detak yang sama denganmu. Kuharap kau tak kecewa walau hanya selalu menjadi teman ceritaku. Jantungku, terkadang aku jenuh dan lelah, namun apakah kau juga begitu? Harusnya aku tak bisa mengeluhkan ini, sebab aku tahu selama masa usiaku kau tak pernah berhenti bekerja. Terima kasih selalu bersamaku hingga saat ini dan sampai masa nanti. Terima kasih untuk sang Pencipta yang ajaib. Aku mencintaiMu meskipun tak jarang aku jatuh dan jatuh lagi di dalam dosa kedagingan. Tak peduli apa pun kekurangan dan keburukanku, aku mau menjadi pewarta kasihMu. Terima kasih untuk jantung yang Kau desainkan untukku berserta seluruh sahabat-sahabatnya. Aku mau mencinta...

RencanaNya Selalu Indah Bagiku

Aku Punya Cerita Edisi XVII Pada jeda kali ini, saya akan bercerita kembali mengenai diri saya J Dan kali ini, tentunya mungkin tidak pernah dibayangkan oleh orang lain. Cerita ini cukup panjang, tetapi akan saya persingkat saja. J Jadi, dulu ketika SMA, saya sempat memiliki cita-cita menjadi seorang “SUSTER”. Ya, suster yang biasanya akan kamu jumpa di biara-biara atau persekolahan Katolik. Namun, latar belakang saya sebagai seorang Kristen, tentunya tidak memungkinkan saya untuk menjalani kehidupan membiara sebagai seorang suster. Ya ha,,, memang mungkin cukup tidak logis dengan impian saya yang satu itu. Bahkan, tidak seorangpun keluarga saya yang mengetahui cita-cita saya yang satu itu. Ditambah pula, ketika saya duduk di bangku SMA saya ditawari beasiswa kuliah ke mana saja dengan catatan saya berpindah menjadi seorang Katolik. Namun, Ibu saya menolaknya (ini kisahnya cukup panjang). Dulu, sempat terbersit di pikiran saya untuk berpindah agama, terutama ada...

Tuhan Yesus Mau Kamu Setia Sampai Akhir

Bagi saya manusia sangat unik. Ya... unik. Bayangkan saja, manusia itu ketika mendapat masalah pasti mengatakan, “Tuhan tahu aku sanggup.” Bahkan tidak jarang, sesama manusia juga mengatakan pada sahabatnya yang sedang bermasalah atau hal apa pun itu, “Tuhan tahu kamu kuat, kamu sanggup.” Menyoroti kalimat yang sering kali muncul di kalangan masyarakat, saya hanya ingin mengatakan, “Kamu punya masalah apapun, keuangan, sakit, masalah apa pun itu, bukan berarti karena hal Tuhan tahu kamu sanggup menjalaninya. Coba siapkan waktu untuk koreksi kembali, apakah semua masalah itu datangnya dari Tuhan? Satu di antara contoh yang dapat saya beri; seseorang mengidap penyakit HIV karena kebiasaan berhubungan sex bebas, lantas apakah itu layak dikatakan karena Tuhan tahu seseorang tersebut kuat untuk menjalaninya? Apakah ujian penyakit itu dari Tuhan? Atau, itu adalah penyakit yang muncul dampak dari lemahnya iman seseorang dalam mengatasi nafsu?” Lantas tidak hanya itu, contoh lainnya, keti...