Apakah Media Sosial Membantu atau Merusak Interaksi Sosial Remaja?
Pada masa modern
sekarang IPTEK yang semakin berkembang menghadirkan banyak teknologi digital
seperti ponsel pintar, yang dapat memudahkan pengguna dalam beraktivitas
sehari-hari. Ponsel pintar/handphone atau yang biasa disebut sebagai hp ini
sangatlah umum bagi masyarakat luas karena sangat memudahkan aktivitas dan
sudah dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi yang memadai didalamnya. Di masa
kini, aplikasi-aplikasi media sosial sangat umum digunakan, terutama di
kalangan remaja.
Media sosial adalah
platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial
bagi setiap penggunanya. Media sosial memungkinkan untuk bersosialisasi satu
sama lain tanpa dibatasi ruang atau pun waktu, berbagi informasi dan berita,
membangun komunitas dan jaringan, bahkan mempromosikan bisnis dan produk. Platform
seperti Whatsapp, Instagram, Tiktok, Line, Snapchat memungkinkan kita tetap
terhubung dengan keluarga, teman, dan kerabat yang terpisah oleh jarak, baik
dekat maupun jauh. Kita bisa berbagi kabar, foto, dan video dengan mudah.
Platform-platform tersebut juga memungkinkan pengguna untuk menemukan teman
baru, kolega, komunitas, atau orang-orang dengan minat yang sama.
Pada masa kini, media
sosial banyak digunakan di berbagai bidang. Banyak platform media sosial
yang menyediakan layanan seperti pendidikan, kesehatan, bisnis, politik,
hiburan, dan layanan lainnya. Semakin banyak layanan yang tersedia di platform-platform
tertentu, maka semakin memudahkan kita dalam menjalani aktifitas. Kita
tidak perlu bertemu langsung dengan guru untuk menanyakan materi yang tidak
dipahami, namun kita bisa saja menghubungi guru kita atau mencari materi yang
tidak dipahami di Google atau platform lainnya.
Media sosial tentunya
hal yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi para remaja.
Media sosial bagi remaja adalah platform digital yang memungkinkan mereka untuk
berinteraksi, berbagi konten, dan membentuk jaringan sosial secara online.
Remaja sering kali menggunakan media sosial untuk berbagi foto, video, atau
status yang mencerminkan identitas dan minat mereka. Platform media
sosial juga menjadi sumber hiburan bagi remaja, dengan banyaknya konten seperti
meme, video lucu, tantangan, dan musik.
Pada era digital sekarang,
para remaja tidak dapat lepas dari yang namanya media sosial. Bagi para remaja,
media sosial telah menjadi ruang untuk saling terkoneksi satu
dengan yang lain satu dengan yang lain dimanapun dan kapanpun. Andreas Kaplan
dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “Sebuah kelompok
aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web
2.0 dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.
Platform media sosial memberikan kemudahan dalam berbagi dan berkomunikasi
dengan siapapun di media sosial. Dengan adanya kemudahan untuk berbagi dan
berkomunikasi memberikan manfaat yang sangat menguntungkan dalam interaksi
sosial. Para remaja memanfaatkan platform media sosial untuk berbagi
cerita, pengetahuan, informasi dan bahkan dukungan scara emosional.
Dalam era digital ini,
media sosial berdampak baik bagi remaja. Mereka dapat lebih dekat dengan
interaksi global, lingkungan, dan kesehatan mental. Remaja dapat memperoleh
berita, bergabung dalam gerakan sosial, dan bahkan berkontribusi dalam
masyarakat digital. Media sosial menyediakan kemampuan menyebarkan informasi
secara luas dan cepat, sehingga remaja dapat mengakses ke berbagai informasi
yang beredar dan bergabung ke dalam diskusi online. Selain itu, platform media sosial menjadi ruang
pengembangkan dan mengekspresikan kreativitas mereka, melalui video, musik,
artikel dan lain-lain.
Media sosial membantu
remaja dalam menjalin interaksi sosial. Mereka dapat saling terhubung dengan
teman-teman, keluarga dan orang-orang yang memiliki pemikiran dan keahlian yang
sama. Bergabung dengan komunitas online
menjadi pilihan bagi remaja untuk mengembangkan koneksi mereka. Menurut survei
yang dilakukan oleh Pew Research Center pada tahun 2022, sekitar 81%
remaja merasa lebih terhubung dengan teman-teman mereka berkat media sosial.
Selain itu, media sosial menggabungkan remaja melalui berbagai grup dan forum
online yang membahas topik dan minat yang sama, sehingga mereka dapat bergabung
dengan orang lain yang memiliki minat yang sama.
Media sosial dapat
digunakan untuk hiburan dan pembelajaran. Platform seperti YouTube,
Instagram dan TikTok membagikan konten-konten pendidikan untuk
remaja. Selain itu, platform pendidikan seperti Zenius dan Ruangguru.
Menyediakan video pendidikan yang mudah diakses. Dengan memiliki akses ini,
mereka memiliki kemampuan untuk belajar kapan saja dan di mana saja sesuai
dengan kebutuhan mereka.
Media sosial tidak
hanya digunakan dalam menerima informasi dan pembelajaran, namun media sosial
juga memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial bagi remaja, seperti ekspresi
diri, pengakuan dan interaksi dengan orang lain. Dalam kehidupan remaja,
tekanan dari pengaruh sekolah, keluarga dan lingkungan sosial menimbulkan stres
dalam hidup. Media sosial menjadi
media bagi mereka untuk berbagi cerita dan dukungan emosional. Sebuah survei
yang dilakukan oleh EdWeek Research Center di antara 1054 remaja sekolah
menengah menemukan bahwa media sosial menyebabkan sepertiga remaja merasa tidak
terlalu sendirian dan bahwa 72% dari mereka menganggap media sosial baik untuk
kesehatan mental mereka. Oleh karena hal itu, media sosial dapat digunakan
sebagai dukungan kesehatan mental bagi remaja, dengan berbagai bentuk dukungan,
mulai dari pendekatan dan koneksi dukungan .
Media sosial memang
memiliki dampak yang signifikan terhadap interaksi sosial remaja yang baik. Platform
seperti Instagram, TikTok, dan X menawarkan ruang untuk terhubung, berbagi, dan
berekspresi dengan orang di internet. Meskipun demikian, dampak dari adanya media sosial tidak selalu positif.
Dampak yang tidak selalu positif ini malah dapat merusak interaksi sosial
remaja menjadi lebih buruk. Media sosial malah dapat membuat remaja tidak
merasa percaya diri, cemas rusaknya hubungan sosial dengan orang lain, hingga
mereka merasa hubungan secara tatap muka itu asing.
Satu di antara dampak
yang paling mencolok adalah kurangnya minat untuk interaksi keluar tatap muka
dengan yang lainnya. Sebagian remaja sudah kurang memiliki minat untuk
berinteraksi di luar karena terlalu sering terpaku pada media sosial, Remaja
yang terpaku pada layar cenderung kehilangan kesempatan untuk mengembangkan
keterampilan sosial yang cukup penting dalam berinteraksi. Sebuah studi
yang diterbitkan dalam Twenge et al. (2018) mengemukakan bahwa remaja
yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial cenderung memiliki
keterampilan sosial yang kurang dibandingkan remaja yang lebih sedikit
menggunakan media sosial. Studi
ini juga menunjukkan bahwa interaksi tatap muka yang lebih sering memiliki
kesejahteraan psikologis yang baik, sedangkan interaksi tatap muka yang kurang
dapat membuat kesejahteraan psikologis yang kurang stabil.
Media sosial
juga seringkali menampilkan "highlight reel" kehidupan orang
lain, yang dapat membuat sebagian remaja tidak percaya diri sehingga merasa
rendah diri dan memunculkan kecemasan sosial pada diri mereka. Perbandingan
yang konstan dengan kehidupan yang tampak sempurna di media sosial dapat membuat
remaja merasa tidak cukup baik, menarik diri dari interaksi sosial, dan
mengalami isolasi. Penelitian dari Marchant et al. (2022) menemukan
bahwa penggunaan media sosial yang tinggi memiliki hubungan yang erat dengan
peningkatan gejala kecemasan dan depresi pada remaja. Mereka juga menunjukkan
bahwa paparan konten yang ideal atau tidak realistis di media sosial dapat
merusak citra diri dan harga diri remaja.
Selain
menurunkan kepercayaan diri dan menurunkan hubungan sosial antar remaja, media
sosial dapat menimbulkan adanya cyberbullying. Cyberbullying merupakan
masalah serius yang sering terjadi di platform media sosial. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja,
namun terjadi di semua kalangan karena adanya media sosial ini. Dampak dari cyberbullying bisa sangat merusak
kesehatan mental dan emosional remaja. Korban dari cyberbullying
seringkali merasa malu, takut, dan tidak minat untuk berinteraksi dengan orang
lain, baik secara daring maupun di dunia nyata. Patchin dan Hinduja (2022)
mengumpulkan data bahwa sekitar 36.7% remaja telah mengalami cyberbullying setidaknya
sekali dalam hidup mereka. Cyberbullying dapat menyebabkan adanya peningkatan
risiko depresi, kecemasan, hingga penyalahgunaan zat, dan pikiran untuk
mengakhiri hidupnya.
Sebenarnya apakah
media sosial membantu atau merusak interaksi sosial remaja? Tidak ada jawaban
yang mutlak untuk menjawab pertanyaan ini. Media sosial membuat remaja
terhubung ke dunia yang lebih luas, membuat para remaja dapat mengekspresikan
diri dengan lebih bebas dan kreatif. Media sosial juga memfasilitasi para
remaja untuk belajar bersama lewat platformnya, kemudian memiliki
hubungan dan interaksi sosial dengan orang lain di dunia maya. Namun, media
sosial tidak selalu berujung positif, ia juga malah dapat memunculkan masalah
lainnya hingga merusak remaja jika tidak digunakan secara bijak dan benar.
Media sosial dapat menurunkan keterampilan sosial para remaja, kemudian membuat
rasa percaya diri remaja merasa kurang, dan adanya kecemasan sosial. Lebih
ekstrimnya lagi, platform Media sosial malah dapat menjadi sebuah sarang
untuk diadakannya cyberbullying yang dapat menimbulkan adanya depresi,
kerusakan hubungan sosial, kecemasan, hingga terjadi hal yang tidak
diinginkan.
Kunci dari media
sosial agar dapat menjadi hal yang positif yaitu terletak pada keseimbangan dan
penggunaan yang bertanggung jawab. Remaja perlu diajarkan untuk menggunakan
media sosial secara sadar, membatasi waktu yang dihabiskan di depan layar,
memprioritaskan interaksi tatap muka, dan mengembangkan kesadaran kritis
terhadap konten yang mereka konsumsi. Orang tua, sekolah, dan masyarakat
memiliki peran penting dalam membimbing remaja untuk menavigasi dunia digital
dengan aman dan bijak, sehingga mereka dapat memanfaatkan manfaat media sosial
tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kualitas interaksi sosial mereka di
dunia nyata. Dengan pendekatan yang seimbang dan edukatif, media sosial dapat
menjadi alat yang memberdayakan, bukan merusak, bagi perkembangan sosial
remaja.
Dapat disimpulkan
bahwa media sosial memiliki peran ganda dalam kehidupan remaja di era digital
saat ini, dengan dampak yang dapat membawa manfaat maupun risiko. Di satu sisi,
media sosial memfasilitasi koneksi secara global, memberikan ruang untuk mengekspresikan
diri, mendukung pembelajaran, serta membantu remaja dalam membangun jaringan
sosial dan komunitas. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak bijak dapat
menyebabkan dampak negatif, seperti menurunnya keterampilan sosial, rendahnya
rasa percaya diri, kecemasan sosial, hingga masalah serius seperti cyberbullying.
Oleh karena itu, penggunaan media sosial yang seimbang dan bertanggung jawab
sangat penting. Dengan edukasi yang tepat dari orang tua, sekolah, dan
masyarakat, media sosial dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung
perkembangan sosial dan mental remaja tanpa mengorbankan interaksi sosial yang
sehat di dunia nyata.
Daftar Pustaka
Beshay. (14 April 2024). Teens and social media: Key findings from Pew
Research Center surveys. Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/short-reads/2023/04/24/teens-and-social-media-key-findings-from-pew-research-center-surveys/
Marchant, A., Hawes, Z., Hughes, A., Hooley, M., & Croker, H. (2022).
Social media use and adolescent mental health: A systematic review and
meta-analysis. Social Science & Medicine, 296, 114718.
Nurul Fatmawati (2021). Pengaruh Positif dan Negatif
Media Sosial Terhadap Masyarakat.
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-semarang/baca-artikel/14366/pengaruh-positif-dan-negatif-media-sosial-terhadap-masyarakat.html
Patchin, J. W., & Hinduja, S. (2022). 2022
Cyberbullying Data. Cyberbullying Research Center. https://cyberbullying.org/2022-cyberbullying-data
Prothero A.
(2024). Siswa menganggap media sosial baik-baik saja, tetapi guru
melihat ladang ranjau kesehatan mental. Education Week. https://www.edweek.org/leadership/students-think-social-media-is-fine-but-teachers-see-a-mental-health-minefield/2024/03
Twenge, J. M., Martin, G. N., & Campbell, W. K.
(2018). Decreases in psychological well-being among American adolescents after
2012 and links to screen time during the rise of smartphone technology. Emotion,
18(7), 1051-1062.
Tim:
I Gede Gangga Arya
Vedakarma (10)
Jennifer Lie (13)
Maura Angelita
Briliana Insyani (16)
Komentar
Posting Komentar