Globalisasi Versus Identitas Lokal: Apakah Budaya Kita Terancam?
Saat ini, arus globalisasi sudah
meluas sangat cepat. Menurut Martin Albrow, globalisasi dapat diartikan sebagai
sebuah proses dari seluruh penduduk yang terhubung ke dalam komunitas dunia
tunggal, komunitas global. Melalui definisi tersebut, dapat diketahui bahwa
adanya globalisasi telah menciptakan sebuah dunia tanpa batas seperti waktu dan
tempat. Setiap manusia di seluruh dunia dapat menerima informasi dari berbagai
belahannya, serta berkomunikasi antarsatu dan lainnya.
Globalisasi telah menghantarkan
setiap manusia menuju peradaban yang maju. Beberapa contoh adanya arus
globalisasi yang dapat kita rasakan secara langsung, misalnya dengan adanya
teknologi yang berkembang, seperti gadget, alat transportasi canggih
(pesawat, mobil, kereta cepat), teknologi industri, dan lain sebagainya.
Berbagai teknologi yang dirasakan ini secara tidak langsung juga telah
memegaruhi kehidupan pribadi tiap insan manusia.
Indonesia merupakan negara yang
sangat luas dan beragam. Terdapat lebih dari tujuh belas ribu pulau yang
terbentang dari Sabang sampai Merauke. Tiap pulau ditinggali oleh masyarakat
dengan suku bangsa dan ras yang berbeda sehingga Indonesia juga disebut dengan
masyarakat multikultural. Untuk melestarikan keanekaragaman yang menjadi
kekayaan bangsa kita ini, maka diperlukan identitas lokal.
Identitas lokal sendiri dapat
diartikan sebagai merupakan warisan berharga yang mencerminkan sejarah, nilai,
dan keberagaman suatu daerah (dilansir dari kompasiana.com). Tiap suku
bangsa memiliki budaya seperti adat istiadat, bahasa daerah, makanan daerah,
pakaian, rumah adat, dan lain sebagainya. Budaya-budaya tersebut menjadi
identitas yang membedakan tiap-tiap suku juga membedakan Indonesia dengan
negara lainnya.
Indonesia sendiri juga telah
mengalami globalisasi. Berbagai teknologi yang canggih telah dirasakan oleh
masyarakat Indonesia, meskipun belum secanggih teknologi yang dimiliki
negara-negara maju. Secara perlahan namun pasti, globalisasi telah menciptakan
interaksi antarbudaya secara luas. Hal ini juga berdampak pada identitas lokal
Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa
kehadiran globalisasi telah menjadi ancaman bagi identitas lokal, terutama
budaya Indonesia. Hal ini terjadi karena kemudahan akses informasi,
transportasi dan komunikasi menyebabkan masuknya budaya luar ke Indonesia dalam
berbagai bentuk. Secara simple, dapat terlihat bagaimana masyarakat Indonesia
lebih banyak yang tertarik pada film-film serta hiburan dari luar
negeri yang secara tidak langsung telah memengaruhi pola pikir berbudaya
masyarakat. Berbagai tren yang bukan merupakan identitas lokal pun
menjadi lebih tenar. Dalam mengikuti arus globalisasi ini, masyarakat lokal pun
mulai berpikir bahwa mengaplikasikan budaya lokal dalam kehidupannya merupakan
sesuatu hal yang kuno, sehingga perlahan tapi pasti, satu per satu budaya mulai
ditinggalkan.
Budaya tersebut tidak akan terancam
apabila masyarakat mempunyai pola pikir bahwa budaya adalah kekayaan yang harus
dipertahankan dan memiliki rasa cinta yang kuat akan budaya tersebut. Namun,
pada kenyataannya semakin berjalannya waktu masyarakat Indonesia sendiri
semakin acuh tak acuh terhadap budaya sendiri. Misalnya, mengambil kutipan dari
liputan6.com, “Sekitar dua puluh tahun yang lalu anak-anak remaja di
Aceh banyak yang berminat untuk belajar tari Ranub Lapuan khas Aceh. Tarian ini
selalu dipertunjukkan setiap minggu maupun dalam berbagai acara kesenian.
Ketika teknologi semakin maju, kebudayaan semakin lenyap dalan masyarakat.
Sekarang, pertunjukkan itu hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini
Indonesia Indah.”
Dalam kehidupan sehari-hari, efek
globalisasi terhadap budaya pun bisa dilihat dalam sekejap mata, terlihat dalam
cara berpakaian yang tidak mencerminkan kebudayaan Indonesia dan cenderung
mengadopsi budaya barat. Contoh lainnya terlihat dari percakapan sehari-hari generasi
sekarang yang lebih banyak menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa
daerahnya. Dilansir dari badanbahasa.kemendikbud.go.id, ditemukan angka
penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga yang lebih kecil pada generasi
Z dan generasi alpa, yakni sebesar 61-62%, di mana pada generasi sebelumnya
mencapai 70%. Hal ini tentu saja sangat miris, mengingat generasi penerus
bangsa tidak dapat meneruskan budaya bangsanya. Lambat laun, bahasa daerah bisa
saja musnah.
Tidak hanya budaya fisik, budaya
adat pun telah mulai ditinggalkan. Indonesia sebelumnya dikenal sebagai negara
yang ramah dengan budaya gotong-royong yang melekat dengan kuat. Namun, fakta
menunjukkan bahwa penggunaan gadget telah membuat seseorang menjadi
individual, hanya berfokus pada dunia maya dan tidak peduli pada keadaan
sekitar. Kita bisa bercermin dari kasus Pokemon Go yang sempat booming pada
tahun 2016. Meskipun tidak ada sangkut pautnya secara langsung dengan eksistensi
budaya Indonesia, hal ini menjadi bukti konkret bahwa gadget telah
merubah seseorang menjadi tidak peka akan hal yang terjadi di sekitarnya. Ketika
keselamatan pribadi sudah tidak menjadi prioritas, bagaimana hal lain bisa
terpikirkan?
Ketidakpedulian ini dengan pasti
telah mengancam eksistensi budaya Indonesia. Di sisi lain, ancaman tidak hanya
berasal dari budaya luar yang masuk, tetapi juga budaya lokal yang dibawa ke
luar. Lihat saja bagaimana negara lain dengan mudahnya bisa mengklaim
budaya Indonesia menjadi budaya mereka. Kemudian, masyarakat ini baru akan
menyadari pentingnya budaya ketika klaim negara lain ini terdengar. Apabila
masyarakat Indonesia bertindak cepat, mungkin saja untuk menyelamatkan budaya
Indonesia seperti kasus klaim Reog Diponegoro. Akan tetapi, jika terlambat,
kasusnya akan seperti Kuda Lumping, budaya daerah Jawa Timur yang sudah diklaim
oleh Malaysia.
Budaya kita memang dalam situasi
berbahaya. Namun, penyebab utama dari ancaman tersebut bukanlah dari
globalisasi, melainkan bagaimana masyarakat lokal itu sendiri menyikapi arus
globalisasi. Globalisasi jika dimanfaatkan dengan baik akan mendatangkan
kebaikan dan kemudahan dalam kehidupan manusia. Sebagai generasi modern
yang sering mengikuti tren kekinian, kita bisa juga menjadikan budaya
kita sebagai tren. Tidak mesti hal yang sulit, menjadikan batik sebagai
bahan OOTD sudah bisa menjadi satu langkah, tentu saja jika dibarengi
dengan cara berpakaian yang benar.
Contohlah penduduk Bali. Bali
adalah salah satu pulau di Indonesia yang mejadi daya tarik utama wisatawan
mancanegara. Banyak sekali orang dari luar negeri datang bahkan memutuskan
untuk menetap di pulau Bali. Tetapi, dengan banyaknya wisatawan dari berbagai
belahan dunia, lantas tak mematahkan nilai budaya di pulau Bali. Bahkan, adat
istiadat dan budayanya masih dipegang erat oleh masyarakat lokal di sana.
Sebaliknya, masyarakat Bali memanfaatkan pertunjukkan budaya sebagai salah satu
daya tariknya. Dengan ini, budaya lokal dapat semakin dikenal masyarakat luas
dan menjadi lestari.
Menumbuhkan sikap peduli terhadap
budaya dimulai dari diri sendiri. Keberlangsungan budaya lokal bergantung pada
bagaimana kita sebagai masyarakat menyikapi hal-hal yang masuk di wilayah kita,
terutama dengan adanya globalilsasi. Maka dari itu, agar globalisasi tidak
menjadi ancaman bagi eksistensi budaya lokal. Hal paling simple yang
bisa dilakukan adalah mempelajari dan mempraktikkan secara sederhana budaya
lokal kita. Kemudian, kenalkan budaya itu dengan memanfaatkan globalisasi,
seperti ikut berpartisipasi dalam forum budaya, memperkenalkan budaya melalui internet
dan sosial media, mencintai produk-produk Indonesia dan membantu penjualan
produk sehingga bisa mencapai pasar internasional.
Usaha-usaha tersebut tidak
hanya omong kosong belaka. Budaya-budaya Indonesia sudah dikenal dan diakui
secara internasional. Misalnya batik, wayang, dan angklung yang meski pernah
diakui negara lain, tetapi karena sudah dikenal sebagai identitas Indonesia, maka
klaim tersebut dipatahkan. Dengan membentuk masyarakat Indonesia yang lebih
peduli dengan budaya lokal sebagai identitas, maka budaya lokal tidak akan
pernah hilang tertelan kemajuan dunia dan globalisasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2023. Upaya Menghadapi Globalisasi Budaya Masyarakat Indonesia . https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/sejarah-dan-sosial/5-upaya-menghadapi-globalisasi-budaya-masyarakat-indonesia-20LJBRd8Muf. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:22)
Anonim.
2024. 6 Dampak Globalisasi pada Budaya secara Positif dan Negatif. https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/6-dampak-globalisasi-pada-budaya-secara-positif-dan-negatif-22MxPsxgkpc/full. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:07)
Aziz,
E. Aminudin. 2023. Bahasa Daerah dalam Impitan Zaman. https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/3848/bahasa-daerah-dalam-impitan-zaman. (Diakses: 13 Februari 2025. Pukul 22.30)
Christianity,
Nadya. 2022. Tersisihnya Budaya Lokal Karena Globalisasi. https://bandungbergerak.id/article/detail/1979/tersisihnya-budaya-lokal-karena-globalisasi.
(Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:20)
Dwi,
Anugrah. 2023.
Pengaruh Arus Globalisasi Terhadap Budaya Lokal.
https://fisip.umsu.ac.id/pengaruh-arus-globalisasi-terhadap-budaya-lokal/. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:04)
Kartika,
Dea. 2024. Budaya
dalam Mempertahankan Identitas Lokal. https://www.kompasiana.com/deakartika844/663fa519de948f1035019442/budaya-dalam-mempertahankan-identitas-lokal#google_vignette. (Diakses:
13 Februari 2025. Pukul 09:16)
Rifta,
Ayu. 2023. Mengapa Globalisasi dapat Memengaruhi Budaya Bangsa? Ini
Penjelasan Lengkapnya. https://www.liputan6.com/hot/read/5210061/mengapa-globalisasi-dapat-memengaruhi-budaya-bangsa-ini-penjelasan-lengkapnya. (Diakses: ,7 Februari 2025. Pukul 09:20)
Jadidaha,
Ines Tasya. dkk. 2023. Analisis Pengaruh Arus Globalisasi Terhadap Budaya
Lokal Indonesia. https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/AoSSaGCJ/article/download/2136/1878. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:10)
Grattia,
Martha. 2023. Globalisasi Adalah: Pengertian Menurut Para Ahli, Penyebab, dan Dampak.(https://www.detik.com/edu/detikpedia/d6655870/globalisasi-adalah-pengertian-menurut-para-ahli-penyebab-dan-dampak.(Diakses:
7 Februari 2025. Pukul 09:52)
Parmawati.
dkk. 2023. Identitas Lokal dalam Penamaan Jalur diKabupaten Kuantan
Singingi:Kajian Etnolinguisti. https://jim.usk.ac.id/sejarah/article/view/26312. (Diakses: 11 Februari 2025. Pukul 09:48)
Santo.
2024. Dampak Globalisasi Terhadap Kearifan Global. https://pemerintahan.uma.ac.id/2024/07/dampak-globalisasi-terhadap-kearifan-lokal/. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:06)
Wulandari,
Sarah Tri. 2024.
9 Budaya Indonesia yang Diklaim Negara Lain. https://mediaindonesia.com/humaniora/647532/9-budaya-indonesia-yang-diklaim-negara-lain#google_vignette. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:52)
Yanti,
Ida Ayu Yogi Suji. dkk. 2024.
Mengungkap Penemuan Budaya Indonesia yang Diklaim
oleh Negara Lain. https://rayyanjurnal.com/index.php/IJEDR/article/viewFile/2613/pdf. (Diakses: 7 Februari 2025. Pukul 09:49)
Pembimbing: Rolah Sri Rejeki
Situmorang, M.Pd.
Tim:
Ayumi Clara Alfeana (3)
Irene (16)
Kenrick Aurelius Salim (20)
Komentar
Posting Komentar