Hidup untuk Bekerja atau Bekerja untuk Hidup?

 

Pada era yang modern ini, bekerja merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bekerja merupakan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Tidak sedikit orang yang bekerja untuk mengisi waktu luang ataupun mencari pengalaman. Bekerja tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, namun juga wanita, baik itu pekerjaan berat maupun ringan. Bahkan pada saat ini, sudah banyak anak-anak hingga remaja yang bekerja untuk menghidupi kehidupan mereka. Walaupun umumnya tujuan dari bekerja hanya 1 yaitu untuk menghidupi kehidupan, terkadang terdapat faktor-faktor menuntut manusia untuk bekerja. Contohnya seperti faktor kondisi ekonomi keluarga yang buruk, terlilit hutan, dan masih banyak lagi. Seiring berkembangnya zaman, perlahan makin sulit untuk menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang baik. Rata-rata pekerjaan dengan penghasilan yang dapat dikategorikan cukup untuk memenuhi kehidupan memerlukan banyak kualifikasi-kualifikasi dengan standar tinggi yang perlu dipenuhi agar dapat diterima di suatu perusahaan.

Manusia hidup dengan berbagai kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan manusia dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu sandang, pangan, dan papan. Diluar itu juga terdapat keinginan-keinginan manusia yang biasanya dijadikan prioritas kesekian dibandingkan 3 prioritas utama tersebut. Ketika masih berada dalam pengawasan orang tua, umumnya kebutuhan dan keinginan tersebut dibiayai seluruhnya oleh orang tua. Seiring berjalannya waktu, ketika manusia sudah memasuki tahap dewasa, manusia sudah harus dapat membiayai dirinya sendiri dan memenuhi kebutuhannya. Bahkan seharusnya manusia akan kembali membiayai orang tua mereka saat sudah dewasa. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini, diperlukan uang untuk membeli dan mengelolanya. Berdasarkan LA Putri, uang merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ada beberapa cara untuk mendapatkan uang, namun wajarnya manusia mendapatkan manusia dengan cara bekerja.

Terdapat dua prinsip hidup yang dipegang manusia saat bekerja, yaitu “hidup untuk bekerja” atau “bekerja untuk hidup”. Masing-masing manusia memiliki prinsip mereka sendiri sesuai dengan pola pikir mereka masing-masing. Dibalik dari kedua prinsip ini, manusia memiliki tujuan dan cita-cita mereka tersendiri. Ada beberapa perbedaan yang dapat terlihat secara jelas dari prinsip “hidup untuk bekerja” dan “bekerja untuk hidup”, beberapa diantaranya yaitu dalam mengatur pola makan, waktu dengan orang terdekat, ataupun penggunaan uang yang dihasilkan.

Mengapa banyak manusia memilih prinsip “hidup untuk kerja”? karena berdasarkan data IHK Indonesia dapat dilihat bahwa harga konsumen selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dari 14.38 poin pada tahun 1996 dan mencapai 106.8 poin hingga saat ini. Prinsip “hidup untuk bekerja” menggambarkan manusia yang memprioritaskan kerja di atas segala hal termasuk dalam meluangkan waktu untuk orang terdekat baik itu dengan teman maupun dengan keluarga. Manusia yang memilih prinsip ini dikatakan cenderung memiliki keluarga yang lebih sejahtera karena segala kebutuhan keluarga pasti terpenuhi. Namun, adapula beberapa pendapat yang menyatakan bahwa prinsip “hidup untuk bekerja” membuat seseorang menjadi tamak akan kekayaan. Menurut mereka uang yang lebih tersebut dapat digunakan untuk membantu orang sekitar atau bahkan dapat mengubah sistem yang ada dunia ini menjadi lebih baik. Jika dipikirkan kembali, dengan uang yang melimpah ada berapa jiwa yang dapat dibantu.

Pada masa yang akan datang, untuk dapat bertahan hidup dan mendapatkan hidup yang sejahtera, seseorang harus menjadi seorang spesialis, apa artinya spesialis? artinya adalah seseorang yang sangat menguasai satu bidang. Lalu apa hubungannya menjadi spesialis dengan hidup untuk bekerja? Orang yang cenderung menerapkan prinsip “hidup untuk bekerja” cenderung adalah seorang spesialis, sebab seseorang tersebut menjadikan pekerjaannya menjadi fokus utamanya. Karena pada akhirnya, seseorang akan terpaksa berlomba-lomba menjadi spesialis untuk menyaingi AI yang sudah bisa mengerjakan semua hal yang bersifat general. Akibat memprioritaskan kerja di atas segala hal terkadang membuat manusia tersebut lupa akan dirinya sendiri. Manusia yang memegang prinsip “hidup untuk bekerja” umumnya lebih memilih untuk memakan makanan cepat saji agar lebih cepat, kebanyakan manusia bahkan memilih untuk melewati waktu makan mereka hanya untuk bekerja. Apabila diteruskan, kebiasaan buruk ini dapat mempengaruhi kesehatan dari individu tersebut.

Lantas, bagaimana dengan manusia yang memilih prinsip “bekerja untuk hidup”? Manusia yang memegang prinsip “bekerja untuk hidup” umumnya lebih dapat menyeimbangkan kehidupan pribadinya dengan kehidupan bekerja. Mereka lebih memprioritaskan kebahagiaan dan kenyamanan bagi diri sendiri dalam bekerja. Biasanya mereka lebih memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka sehingga tidak menjadikan pekerjaan sebagai beban ataupun memilih pekerjaan yang tidak banyak tekanannya. Tidak hanya itu, mereka juga dapat mengatur waktu makan mereka dengan teratur dan benar. Dilihat dari sisi positifnya, manusia dengan prinsip “bekerja untuk hidup” pastinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk kehidupan pribadinya dibandingkan untuk kehidupan kerjanya. Pekerjaan tersebut juga tidak akan membawa stres maupun burnout kepada individu tersebut. Walaupun begitu mungkin akan agak sulit bagi orang tersebut untuk dapat menjadi pengusaha atau mengumpulkan uang dengan sangat cepat. Namun, tidak menutup kemungkinan hal ini dapat terjadi apabila ada pengelolaan uang yang baik dari individu tersebut.

Kembali lagi, tidak ada jawaban benar atau salah atas kedua prinsip ini. Keduanya memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing sesuai dengan bagaimana dan apa tujuan kita untuk bekerja. Namun, patut diingat bahwa kita tidak seharusnya terus-terusan bekerja hanya untuk mendapatkan kehidupan layak. Ingatlah akan kesehatan serta waktu yang dapat kita luangkan untuk orang-orang di sekitar kita terrkhususnya untuk keluarga. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang juga memerlukan waktu untuk beristirahat dan refreshing. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan untuk bekerja keras dalam mengejar karier, tetapi itu tidak harus jadi standar hidup yang ideal. Mempunyai mobil atau rumah yang mewah tidak menjadi standar untuk hidup bahagia. Semuanya bergantung kembali ke diri kita sendiri. Apakah kita lebih memilih untuk menyetarakan kehidupan pribadi dengan kehidupan pekerjaan atau memilih untuk fokus memprioritaskan pekerjaan untuk mengejar karier impian.

 

Daftar Pustaka

Anonim. Indeks Harga Konsumen Indonesia. https://tradingeconomics.com/indonesia/consumer-price-index-cpi. (Diakses; Jumat, 7 Februari 2025 : Pukul 09.44)

Jacquot Sandrine. We should work to live, not live to work. https://www.queensjournal.ca/we-should-work-to-live-not-live-to-work/(Diakses; Selasa, 11 Februari 2025 : Pukul 08.52)

Peter Ramot. Kerja untuk Hidup. https://binus.ac.id/character-building/2022/11/kerja-untuk-hidup/. (Diakses; Jumat, 7 Februari 2025 : Pukul 09.08)

 

Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.

Tim:

Cherisha Yourie Susanto (05)

Jonina Eve (18)

Riton Stefano (25)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?