Fenomena Burnout di Kalangan Pelajar: Bagaimana Mengatasinya

 

Pada generasi sekarang, pelajar khususnya di kalangan SMA dituntut untuk melaksanankan pembelajaran "full day". Sistem pembelajaran "full day" ini diharapkan dapat meningkatkan intelektual para pelajar. Menurut kompasiana.com, para pelajar memulai sekolah pada pagi hari dan selesai hingga sore hari. Di SMA Gembala Baik, khususnya di kelas plus, jadwal pembelajaran dimulai sejak pagi hari, yaitu pukul 06.40 WIB, dan berakhir pada pukul 15.00 WIB. Setelah itu, para siswa masih memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti. Dengan jadwal yang cukup padat, para pelajar harus menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Selain itu, sekolah berlangsung dari hari Senin hingga Sabtu, sehingga waktu istirahat mereka semakin terbatas.

Rutinitas seperti ini tentu dapat mempengaruhi keseimbangan antara sekolah, kegiatan tambahan, dan waktu pribadi para pelajar. Belum lagi para guru memberikan tugas yang cukup banyak dan memakan waktu, bagaimana cara pelajar mengerjakan tugas itu? Tentu saja mereka mengerkakan tugas-tugas tersebut pada malam hari. Malam hari tersebut seharusnya digunakan untuk istrirahat atau melakukan aktivitas lain seperti hobi dan sebagainya, tetapi mereka harus mengerjakan tugas atau pr yang diberikan. Padahal aktivitas pada malam hari atau istirahat sangat penting bagi kesehatan mental para pelajar.

Burnout merupakan fenomena yang sering terjadi, dan seringkali pelajar mengabaikan betapa seriusnya Burnout terhadap kesehatan mental seseorang. Tentu saja kalian sudah pernah merasakan Burnout terutama yang bersekolah Full day. Dikutip dari artikel Kumparan.com, Burnout adalah fenomena psikologis yang umum terjadi ketika seseorang menghadapi stres berkelanjutan tanpa adanya kesempatan untuk pemulihan atau keseimbangan, bagi generasi muda yang tengah berada di tahap-tahap penting dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial, Burnout menjadi masalah yang semakin signifikan. Burnout  ciri–ciri Burnout mudah diidentifikasi karena berupa kelelahan fisik dan mental yang berkelanjutan. Kita pasti sering menemukan dan mengidentifikasi orang yang mengalami Burnout di kalangan pelajar maupun pekerja. Merasa lelah, mudah marah, performa menurun, dan kehilangan motivasi, merupakan beberapa ciri – ciri orang yang sedang mengalami Burnout.

Secara umum, orang yang mengalami Burnout biasanya tidak peduli tentang kondisi kesehatan sendiri dan mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang menyakiti dirinya sendiri secara perlahan-lahan. Hal ini dikarenakan orang tersebut memiliki suatu tujuan atau rintangan yang membuat mereka terlalu fokus yang membuat mereka lupa dengan hal krusial lainnya, sehingga melelahkan mental dan pikirannya karena dipaksa secara berlebihan. Ini merupakan satu diantara faktor terjadinya Burnout. Beberapa faktor pemicu Burnout di lingkungan sekolah, yaitu beban seperti banyak tugas, ujian, dan aktivitas akademik yang tidak pernah berhenti dapat menguras energi mental dan fisik. Kurikulum yang padat dan tuntutan untuk mencapai prestasi tinggi seringkali membuat pelajar merasa tertekan.

Tidak hanya di lingkungan sekolah, di lingkungan luar sekolah juga dapat memicu Burnout. Pelajar yang harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan finansial dapat mengalami peningkatan beban mental, ada juga pelajar yang merasa tertekan dari orang tua dan relatif yang memiliki ekspektasi tinggi dalam segala hal, termasuk prestasi akademik, kehidupan sosial, dan karier masa depan, yang dapat memicu perasaan gagal dan tertekan. Beberapa faktor lain seperti lingkungan yang buruk dan kurangnya ruang untuk berbagi beban dapat memperburuk keadaan mental pelajar. Setelah membaca penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Burnout dapat menjadi hal yang serius bagi kesehatan kita jika tidak ditangani secepat mungkin. Burnout yang awalnya cuman menguras mental dan fisik dalam jangka berkelanjutan dapat membuat orang depresi dan kasus terburuk yaitu membunuh diri, sehingga kami berharap pelajar dapat dengan cepat mengatasi Burnout ini.

Fenomena Burnout kerap dirasakan pelajar, bukanlah hal yang harus diabaikan begitu saja, jika dibiarkan terus menerus kondisi ini dapat menggangu produktivitas belajar dan kesehatan mental, karena dampak Burnout memberikan kita sulit fokus, meninggalkan tanggung jawab apalagi jika dibiarkan serius. Faktor dari tugas yang berlebihan, tuntutan nilai akademik dan kurangnya motivasi untuk belajar. Jika dibiarkan, bunrout dapat berdampak pada kesehatan fisik, emosional bahkan prestasi belajar yang turun, ada baiknya kita sebagai pelajar membutuhkan waktu untuk beristirahat agar menyegarkan kembali fisik dan mental yang lelah, sehingga langkah yang tepat untuk mencegah dan mengatasi fenomena Burnout terutama pelajar Indonesia saat ini. Dengan strategi yang tepat, dapat mengembalikaan keseimbangann dan menemukan kembali niat belajar kembali normal.

Peranan sosial juga sangat diperlukan bagi seorang pelajar yang sulit dalam menyeimbangkan aktivitas belajar terutama peranan keluarga yang sangat krusial, dalam keluarga orang tua sering melihat anak dan mengganggap jika anaknya biasa saja, namun mereka lupa bahwa kecenderungan mengabaikan dan tidak mencoba untuk berbicara tentang kesehatan anak dan hanya menuntut anaknya harus belajar dengan keras sehingga mendapatkan nilai akademik yang tinggi. Menurut penulis dengan mengambil waktu luang, dan mengembangkan kebiasaan yang sehat, mengatur waktu dan manejemen yang efektif seperti mengatur jadwal serta mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, dan berharap keluarga dapat memahami kondisi anak tersebut. tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan kesejahteraan anak. Komunikasi terbuka antara anak dan orang tua menjadi jembatan penting untuk saling memahami dan memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Fenomena Burnouts sebenarnya muncul dan disebabkan pelajar itu sendiri seperti lalai dan tidak bertanggung jawab dalam mangatur tugas yang diberikan dan mereka suka menunda tugas yang diberikan guru, mereka lebih memilih mengerjakan tugas mereka diwaktu yang sudah dekat dengan deadline, alhasil stres para pelajar pun justru malah mengeluh dan menyalahkan guru yang ada di sekolah karena tugas yang berikan terlalu banyak dan belum lagi tugas lainnya yang harus dikerjakan. Namun, tugas akademik dapat diatasi dengan lebih baik dengan perencanaan yang lebih baik dan disiplin waktu. Dukungan dari keluarga juga penting untuk membangun pola belajar yang sehat, memberikan motivasi, dan membuat lingkungan belajar yang baik. Pelajar dapat lebih fokus pada pelajaran dan mencapai hasil akademik yang lebih baik dengan mengatur jadwal yang terstruktur, membagi waktu dengan bijak antara belajar dan beristirahat, dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap siswa untuk memahami tanggung jawab mereka sendiri agar mereka tidak terjebak dalam siklus kelelahan dan stres yang berulang.

 

Daftar Pustaka

Ananda, Oktasipa. 2024. Burnout di Kalangan Generasi Muda: Pemicu dan Implikasinya. https://kumparan.com/oktasipa-ananda/Burnout-di-kalangan-generasi-muda-pemicu-dan-implikasinya-23wGolgj1Rm. Diakses pada 6 Februari 2025.

Muhtar. 2024. Academic Burnout, Gejala dan Cara Mengatasinya. https://uici.ac.id/academic-Burnout-gejala-dan-cara-mengatasinya/. Diakses pada 6 Februari 2025.

Widagdo, Junjung. 2022. Ancaman Student Burnout pada Sekolah Full day. https://www.kompasiana.com/amp/junjungwidagdoabinyahaikal3859/631af41bd287dd47aa017382/ancaman-student-Burnout-pada-sekolah-full-day. Diakses pada 6 Februari 2025.


Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.
Tim:
Angelika Sembiring (01)
Bryan Marlov Vanlie (03)
Nikko Pratama (19)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?