Self love atau Egois? Memahami Batas Sehat dalam Mencintai Diri Sendiri

 

Pada zaman modern saat ini, istilah self love menjadi populer terutama di kalangan anak muda. Dilansir dari halodoc.com, “self love berarti adanya apresiasi, ketertarikan, dan penghargaan positif terhadap diri sendiri.” Self love dianggap penting karena mampu memberikan pengaruh positif bagi kita yang menerapkannya. Ada berbagai bentuk self love yang dapat diterapkan. Contohnya, menerima segala kekurangan serta kelebihan diri, merawat diri, menghargai perasaan diri dan orang lain, menghindari lingkungan negatif, hingga mengembangkan hobi yang kita miliki juga merupakan bentuk self love. Namun, banyak ditemukan kasus saat self love disalahgunakan. Saat orang-orang justru menjadi terlalu mencintai dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain dan bersembunyi dibalik kata “self love” padahal dia telah menjadi pribadi yang egois.

Dilansir dari liputan6.com, “egois adalah sifat manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain.” Egois merupakan salah satu kepribadian yang dianggap buruk bagi sebagian orang. Terlebih dalam menjalin hubungan dengan orang lain baik teman, keluarga, maupun pasangan. Dalam mengenal seseorang pastinya kedua belah pihak akan mengetahui kepribadian baik dan buruknya. Dalam hal ini, kepribadian egois tidak disukai banyak orang. Menjadi orang egois memang tidak dibenarkan terlebih dalam lingkungan bermasyarakat. Namun, sifat  egois tetap diperlukan. Contohnya, seseorang yang “tidak enakan” atau biasa disebut “people pleaser” yang selalu meng-iya-kan semua permohonan orang, perlu untuk menjadi egois dan berkata “tidak” sebagai bentuk pertahanan agar dia tidak overwhelm. Terkadang kita perlu menjadi orang yang egois untuk mementingkan diri sendiri dan tidak selalu memenuhi keinginan dan perhatian orang lain. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui batas-batas sehat dalam mencintai diri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa self love adalah hal yang penting karena self love dapat membuat seseorang memiliki kesadaran tinggi sehingga memiliki tujuan dan motivasi hidup yang lebih jelas. Menurut Rani dkk (2022), “Dari sejumlah penelitian, orang dengan self love serta self esteem yang rendah lebih mudah terserang penyakit mental sebagai contoh, gangguan cemas, depresi, dan eating disorder seperti, bulimia dan anoreksia oleh karena itu, penting bagi kamu untuk mampu menerima serta mengasihi diri sendiri supaya kondisi mental bisa menjadi lebih sehat.” Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa self love juga bisa mengurangi stres dan kecemasan serta membuat kita lebih percaya diri sehingga terhindar dari penyakit mental yang berbahaya. Karena dengan adanya self love, kita jadi menghargai dan cenderung menjaga diri kita sehingga secara natural tubuh kita menjadi lebih sehat. 

Dari segi sosial, praktik self love  dapat terhindar dari lingkungan yang toksik dan tidak menguntungkan karena seseorang yang mencintai dirinya akan bisa membedakan mana lingkungan yang baik dan jahat. Hubungan dengan keluarga, teman, dan pasangan yang baik juga adalah bukti dari self love. Setiap pribadi punya cara sendiri untuk membuat dirinya nyaman. Ada orang yang senang dan lebih bahagia saat dia berada di tengah banyak orang. Ada pula yang lebih nyaman saat dia berada di lingkungan yang tenang dengan 2-3 orang yang paling dekat dengannya saja. Oleh karena itu, penting untuk mencari tahu lingkungan paling yang cocok dengan kita agar kita dapat mengekspresikan diri dengan senyaman mungkin.

Di sisi lain, dilansir dari kumparan.com,Self love yang berlebihan dapat membuat seseorang terobsesi pada dirinya sendiri atau mengabaikan kekurangannya.” Saat mengalami ini, seseorang cenderung menjadi egois atau tidak memikirkan orang lain. Kemudian tidak merasa bersalah karena merasa bahwa itu adalah bentuk cinta kepada dirinya padahal dia telah menyakiti orang lain. Misalnya, saat sedang menunggu antrian membeli tiket nonton film, kita malah menyerobot antrian karena ingin cepat-cepat menonton sebagai bentuk self reward setelah bekerja seharian. Tindakan ini sudah membelot dari makna self love itu sendiri karena kita telah mengambil hak orang lain dan mementingkan diri sendiri. Self love yang sehat adalah saat kita menghargai orang lain sama seperti menghargai diri sendiri sehingga adanya balance dalam setiap tindakan kita.

Mencinta diri memiliki batasan-batasan yang tidak boleh disalahartikan. Kita boleh melakukan apapun yang kita inginkan sebagai bentuk cinta terhadap diri dengan catatan tidak mengganggu kehidupan orang lain. Hal ini juga berlaku sebaliknya, orang lain bebas melakukan apapun selama itu tidak mengganggu dirimu dan mengambil hak serta kebebasan yang kita miliki. Namun sering kali tanpa sadar kita yang merugikan kita sendiri dengan menjadikan self love sebagai sebuah alasan untuk bermalas-malasan dan menunda pekerjaan yang memang penting dan harus dikerjakan. Mencintai diri sendiri bukan berarti memanjakan diri dan pada akhirnya melupakan kewajiban yang harus dikerjakan karena terlalu sibuk bersenang-senang. Justru, dengan self love kita dapat dengan bijak menentukan prioritas kita.

Batasan dalam mencintai diri sendiri terletak pada keseimbangan antara memenuhi kebutuhan diri sendiri dan menjaga perhatian terhadap orang lain. Mencintai diri sendiri berarti memberi perhatian yang cukup pada kesejahteraan emosional, fisik, dan mental kita, tetapi tanpa mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain di sekitar kita. Cinta diri yang sehat adalah ketika kita menjaga keseimbangan, tidak merugikan orang lain, dan tetap peduli terhadap kebutuhan mereka. Sering kali, mencintai diri sendiri melibatkan empati, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, dan tahu kapan kita perlu memberi ruang bagi orang lain tanpa mengorbankan diri kita sendiri. Selain itu, mencintai diri sendiri juga berarti tahu kapan harus mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan yang sehat untuk diri sendiri, tanpa merasa bersalah. Cinta diri yang sehat bukan tentang merasa lebih penting dari orang lain, tetapi lebih kepada penerimaan terhadap diri sendiri tanpa membandingkan atau merendahkan orang lain. 

Namun, penting untuk diingat bahwa mencintai diri sendiri juga melibatkan tanggung jawab atas keputusan dan tindakan kita, serta berusaha untuk terus berkembang, bukan hanya menerima kondisi diri yang ada. Misalnya, seorang yang obesitas menjadi keras kepala dan tidak mau melakukan program diet dengan dalih bahwa dia telah menerima dirinya. Tentu ini adalah praktik keliru dari self love. Jika dia mencintai dirinya, seharusnya dia mampu berpikir bahwa menjadi obesitas bukanlah hal yang baik karena berdampak besar pada kesehatan. Bentuk cinta yang bisa dia berikan pada tubuhnya adalah dengan menurunkan berat badan agar menjadi lebih sehat. Jika kita terlalu terfokus pada diri sendiri hingga merugikan orang lain atau tidak berusaha untuk tumbuh, itu bisa menjadi tanda bahwa kita sudah melewati batasan sehat dalam mencintai diri sendiri. Intinya, mencintai diri sendiri adalah sebuah proses yang terus menerus membutuhkan introspeksi, dengan tujuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Self love adalah konsep yang penting untuk kesejahteraan emosional, fisik, dan mental seseorang, yang memungkinkan kita untuk memiliki apresiasi dan penghargaan terhadap diri sendiri. Namun, jika tidak diterapkan dengan bijak, self love dapat berubah menjadi egoisme, di mana seseorang hanya memikirkan dirinya tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk memahami batasan dalam mencintai diri sendiri, yang terletak pada keseimbangan antara memenuhi kebutuhan diri dan tetap peduli terhadap orang lain. Self love yang sehat berarti menghargai diri sendiri tanpa merugikan orang lain, serta mengetahui kapan harus memberi ruang bagi orang lain dan menetapkan batasan untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah.

Selain itu, mencintai diri sendiri juga mencakup tanggung jawab atas keputusan dan tindakan kita, serta upaya untuk terus berkembang. Self love yang sehat tidak berarti mengabaikan kekurangan atau menjadi sombong, tetapi lebih kepada penerimaan diri dan kesadaran untuk memperbaiki diri. Dalam menjalani hidup, kita perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab sosial. Dengan memahami batasan ini, kita dapat menjaga hubungan yang sehat dengan diri sendiri dan orang lain, serta menghindari perilaku egois yang merugikan lingkungan sekitar.

 

Daftar Pustaka

Anonim. 2024. Mengenal Arti Self-Love, Manfaat dan Cara Menerapkannya. https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-arti-self-love-manfaat-dan-cara-menerapkannya. (Diakses; Jumat, 11 Oktober 2024: Pukul 09.05 WIB)

Rahmiasri & Sofyani. 2020. Self-Love Bisa Jadi Negatif, Apa Ciri-cirinya? https://m.kumparan.com/kumparanwoman/self-love-bisa-jadi-negatif-apa-ciri-cirinya-1sebKOaamqc (Diakses; Jumat, 11 Oktober 2024: Pukul 09.03WIB)

Rani dkk. 2022. Pentingnya Self Love Serta Cara Menerapkannya Dalam Diri. Science and Education Journal. (Diakses; Jumat, 11 Oktober 2024: Pukul 09.08 WIB)

Verianty. 2024. Egois Adalah Sifat Manusia, Ini Pengertian, Ciri dan Tips Mengatasinya. https://www.liputan6.com/hot/read/5512350/egois-adalah-sifat-manusia-ini-pengertian-ciri-dan-tips-mengatasinya. (Diakses; Jumat, 11 Oktober 2024: Pukul 09.11 WIB)

 

Tim:

1.   Briliana Dinata

2.   Vasco Bagas Pati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?