Mencintai Diri Sendiri: Self-Love atau Excuse Untuk Malas Berusaha
Mencintai diri
sendiri atau lebih dikenal dengan istilah self love dikalangan remaja
masa kini. Istilah tersebut bukanlah kata yang asing lagi untuk didengar.
Banyak artikel dan bahkan influencer yang membahas tentang betapa
pentingnya mencintai diri sendiri. Self love sering dianggap sebagai
sebuah kunci untuk menimbulkan kepuasan pada diri sendiri dan menyehatkan diri
secara mental. Self love juga sering diartikan sebagai bentuk menerima
semua kekurangan dan kelebihan yang kita miliki, serta menjaga tubuh dan
pikiran kita agar sehat. Ketika mendengarkan kata self love tentu akan
langsung terpikirkan dengan kata excuse. Excuse merupakan sebuah
alasan atau pembenaran yang diberikan untuk menjelaskan mengapa kita tidak
melakukan sesuatu atau untuk memenuhi harapan. Biasanya, excuse
digunakan untuk menghindari kesalahan. Excuse juga biasanya dapat berupa
alasan yang benar adanya tanpa berbohong ataupun hanya untuk menutupi kelalaian
atau rasa malas seperti judul topik yang akan kita bahas kali ini.
Menurut
pandangan Henschke & Sedlemeier (2021) “Individu yang telah menerapkan self
love akan berusaha untuk memahami dan menghadapi dirinya sendiri, menerima
kekuatan dan kekurangan diri sendiri, serta mau untuk merawat dirinya sendiri
dan membentuk hubungan yang sehat secara sadar dan aktif”. Berdasarkan pendapat
Henschke & Sedlemeier dapat disimpulakn bahwa self love merupakan
bentuk rasa cinta pada diri sendiri untuk mencapai kepuasan dan kesehatan
secara fisik dan mental.
Saat kita
mencintai diri sendiri, kita tidak lagi merasa terbebani dengan rasa tidak
cukup atau merasa malu dan rasa tidak percaya diri dengan apa yang kita miliki.
Kita juga tidak lagi merasakan insecure ketika melihat seseorang yang
lebih hebat daripada kita. Ketika kita mencintai diri sendiri, maka fisik dan
mental kita akan lebih terjaga. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk self
love diantaranya kita dapat mengembangkan diri dengan berbagai aspek. Misalnya,
dengan self rewards yaitu dengan memberikan hadiah kepada diri kita
sendiri setelah berusaha dan bekerja seharian, selain itu kita juga bisa
jalan-jalan ataupun me time, dan berolahraga agar tubuh menjadi lebih
sehat dan segar.
Kita terkadang
akan ke-excuse karena banyak menyalah artikan tentang self love.
Ketika kita mencintai diri sendiri terlalu dalam maka akan mengakibatkan
pemikiran yang salah dalam diri. Contohnya, ketika kita dulunya merasa insecure
tentang penampilan kita konteksnya itu tentang berat badan yang berlebih, maka
kita akan merasa sedih berlarut larut dan selalu membandingkannya dengan orang
lain.
Namun, ketika sudah mempelajari self love
maka kita akan belajar untuk menerima diri sendiri akan tetapi self love
yang sehat itu akan menerima diri sendiri sambil berusaha untuk mengubah diri
kita lebih baik dari sebelumnya. Berbeda dengan self love yang berakhir excuse
untuk malas berusaha. Kita berpikir bahwa harus menerima diri sendiri sehingga
tidak terpikirkan untuk olahraga. Kita menjadikan alasan untuk mencintai diri
sendiri sehingga kita ngestuck dengan pemikiran seperti itu hingga tidak
mengalami perubahan yang lebih baik.
Self love itu bukan berarti kita
diam saja dan menerima segala kekurangan kita tanpa berusaha. Kita tidak excuse
atau mendapatkan pembelaan untuk bermalasan berusaha dengan alasan harus
mencintai diri kita sendiri. Menurut
pandangan Bella & Ratna, 2018 mengatakan bahwa, “Malas adalah perilaku
seseorang yang cenderung tidak aktif dan kurang semangat dalam melakukan
aktivitas. Sifat malas adalah dampak dari kurangnya kecakapan dalam mengatur
waktu dan kurangnya disiplin diri, bukan dari faktor genetik.” Perbedaan self
love dengan malas berusaha itu terletak di tujuan dan proses. Mencintai
diri sendiri lebih mengarah ke pengembangan diri secara sehat dan dalam waktu
yang lama karena bertahap sementara excuse untuk malas berusaha sering
kali muncul karena rasa takut, rasa tidak mampu, ataupun keinginan kita untuk
meghindari ketidaknyamanan.
Self love bukan merupakan tindakan yang egois. Misalnya,
banyak anak mahasiswa ataupun anak sekolah yang berjuang untuk belajar dan
mengorbankan waktu berjam jam untuk belajar. Namun, itu dapat membawa kita ke jalan
yang sukses. Jadi, tidak selamanya self
love itu merupakan tindakan yang enak saja seperti jalan-jalan
tetapi ada juga tindakan yang tidak nyaman dan penuh pengorbanan untuk
melakukan hal tersebut demi perkembangan yang ada didalam diri kita sendiri.
Istilahnya, kita perlu keluar dari zona nyaman untuk memperoleh yang lebih baik
dari kita.
Ketika kita
merasa lelah dan memutuskan untuk mengambil waktu untuk beristirahat sejenak
agar tubuh kita pulih dan siap kembali untuk berusaha lebih keras lagi diesok
hari. Kita akan menyadari bahwa untuk mencapai tujuan kita maka sangatlah
penting untuk menjaga keseimbangan antara kerja keras dan istirahat. Namun,
sebaliknya ketika orang malas berusaha mungkin merasa lelah dan kemudian
memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa sama sekali, beralasan bahwa “hari ini
bukan hari yang baik untuk bekerja” atau merasa bahwa kita memang tidak ahli
dalam suatu hal dan merasa memang diri kita seperti ini dari dulu, maka harus
menerima apa adanya dan tidak mau berusaha karena hasilnya akan sama saja yaitu
gagal. Kita akan memberikan alasan untuk tidak berusaha sama sekali, meskipun
dalam faktanya, kita bisa bangkit dan mencoba sedikit demi sedikit. At least,
perubahan dalam diri kita yang lebih baik sedikit dari yang dulu.
Ketika kita
memberikan excuse untuk malas berusaha, maka itu bisa menciptakan rasa
penyesalan atau penurunan harga diri karena kita tahu sebenarnya kita bisa
berbuat lebih baik tetapi kita tidak mecoba berusaha. Ini justru tidak sesuai
dengan prinsip self love itu sendiri yang mendorong kita untuk berusaha
mencapai potensi yang terbaik. Ada satu contoh lagi yaitu kita mungkin merasa
malas karena kita ingin memberi diri kita waktu untuk beristirahat atau menjaga
kesehatan mental. Padahal, dalam situasi tertentu ini bisa saja jadi alasan
untuk tidak menghadapi rintangan yang ada.
Jika kita
membiarkan rasa malas berusaha untuk mengambil ahli diri kita, kita akan merasa
terjebak dalam situasi yang sulit. Untuk itu, kita harus balance atau
menyeimbangkan antara self love itu sendiri. Self love itu
penting, namun kita juga harus mengerem agar tidak berlebihan. Kita mengakui
bahwa kadang-kadang kita perlu mendorong diri kita untuk berusaha lebih keras
lagi meskipun itu tidak terlalu nyaman. Dalam hal ini, kita harus tahu kapan
waktu untuk memberi diri kita ruang utuk bersantai, dan kapan saatnya untuk
mengambil langkah-langkah maju meskipun kita merasa takut dan ragu. Sebagai
contoh tindakan nyatanya yaitu kita bisa memberi diri kita untuk beristirahat
saat kita merasa lelah, tetapi kita juga perlu memotivasi diri untuk bergerak
maju ketika kita tahu ada tujuan yang ingin dicapai.
Secara
keseluruhan, mencintai diri sendiri memiliki banyak manfaat positif asalkan
harus balance (seimbang) dan dilakukan dengan tepat, yakni dengan tetap
menjaga rasa empati terhadap orang lain, terbuka terhadap kritik, tidak merasa
dirinya paling sempurna sehingga malas untuk berusaha, serta tidak mengabaikan
untuk berinteraksi dengan sesama. Sehingga, mencintai diri sendiri yang sehat
adalah dasar bagi kehidupan yang seimbang dan harmonis. Ini bukan tentang
kesombongan atau egois, tetapi tentang merawat diri sendiri dengan kasih sayang
dan menghargai diri sendiri dalam setiap aspek aspek dalam kehidupan. Mencintai
diri sendiri bukan berarti berhenti berusaha, tetapi mendorong diri untuk tetap
berusaha mencapai potensi terbaik kita, meskipun menghadapi kegagalan.
Aldi, Syafi, Dimas. 2022. Cara Efektif Menghilangkan Rasa Malas. https://osc.medcom.id/community/cara-efektif-menghilangkan-rasa-malas-3948. Di akses pada tanggal : Jumat, 7 Februari 2025. Pukul 16.58.
Psikolog, M.Si, Aquarisnawati, Puri. 2023. Self Love Untuk Menumbuhkan dan Memelihara Kesehatan Mental. https://hangtuah.ac.id/self-love-untuk-menumbuhkan-dan-memelihara-kesehatan-mental/. Diakses pada tanggal : Selasa, 4 Februari 2025.
Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.
Tim:
Che
shien (6)
Samuel
Sebastian Daniel D (26)
Komentar
Posting Komentar