Budaya Bahasa Gaul vs Bahasa Indonesia Baku: Apakah Kita Mulai Kehilangan Identitas?
Bahasa merupakan
identitas utama suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai pemersatu di tengah keragaman suku dan budaya. Namun, seiring
dengan perkembangan zaman, terutama di era digital, melahirkan bahasa gaul yang
semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Lantas,
apakah fenomena ini mengancam eksistensi bahasa Indonesia dengan menggunakan
bahasa gaul yang semakin meluas? Apakah kita mulai kehilangan identitas bahasa
kita?
Dalam beberapa dekade
terakhir, bahasa gaul telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari
masyarakat Indonesia. Banyak orang, terutama anak muda, menggunakan bahasa gaul
dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam situasi formal. Namun, penggunaan
bahasa gaul yang berlebihan dapat mempersulit penggunaan bahasa Indonesia yang
baik dan benar. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam
tentang dampak penggunaan bahasa gaul terhadap identitas bahasa Indonesia.
Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang perbedaan antara bahasa gaul dan
bahasa Indonesia, serta dampaknya terhadap identitas bangsa kita. Dengan
demikian, kita dapat memahami pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar, serta memanfaatkan bahasa gaul sebagai sarana untuk meningkatkan
kreativitas dan inovasi bahasa agar bisa lebih memperkaya khazanah budaya yang
ada disekitar kita.
Bahasa gaul adalah
bentuk komunikasi yang berkembang secara informal di masyarakat, terutama di kalangan
remaja dan anak muda. Bahasa ini sering kali mengadaptasi kosakata baru dari
bahasa asing, bahasa daerah, hingga singkatan-singkatan unik yang lebih praktis
digunakan dalam percakapan sehari-hari. Istilah-istilah baru, singkatan, dan
ungkapan yang muncul dalam bahasa gaul mencerminkan dinamika sosial serta
budaya yang terus berkembang. Misalnya, kata-kata seperti "bucin"
(budak cinta), "gabut" (tidak ada kerjaan), dan "otw" (on
the way) menjadi bagian dari kosakata sehari-hari anak muda yang sering
digunakan di media sosial dan percakapan informal.
Di sisi lain, bahasa
Indonesia adalah bahasa resmi negara kita, yang digunakan sebagai alat
komunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesia memiliki
aturan-aturan yang jelas dan baku, yang digunakan baik dalam percakapan formal
maupun informal. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi sebagai alat komunikasi
yang efektif, yang dapat digunakan untuk menyampaikan ide dan pendapat yang
ingin disampaikan. Tidak heran jika penggunaan bahasa Indonesia ini menjadi
salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Namun, dengan semakin meluasnya
penggunaan bahasa gaul, kita dapat melihat bahwa bahasa Indonesia mulai
kehilangan identitasnya.
Dilansir dari kumparan.com
(2024), “Dalam banyak kasus penggunaan bahasa gaul dapat mengaburkan makna
asli dari bahasa Indonesia dan mengurangi kemampuan generasi mudah untuk
berkomunikasi secara formal. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama
dalam konteks pendidikan, dimana penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar sangat penting untuk membangun kemampuan literasi dan komunikasi yang
efektif. Ketika bahasa Indonesia yang baku mulai terlupakan, kita berisiko
kehilangan warisan budaya yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Oleh
karena itu, perlu ada upaya untuk menyeimbangkan antara penggunaan bahasa gaul
yang mencerminkan kreativitas dan dinamika sosial dengan pemahaman dan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.”
Berdasarkan
kutipan dari kumparan.com, upaya yang bisa kita ambil satu diantaranya adalah
mengintegrasikan pembelajaran bahasa Indonesia ke dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, melalui penggunaan media sosial mengenai penggunaan bahasa yang tidak
baku dan bahasa yang baku seperti kebanyakan orang menyebut apotik padahal kata
bakunya adalah apotek. Dari media sosial inilah, kita bisa mengetahui perbedaan
antara bahasa tidak baku yang sering kita gunakan dengan bahasa Indonesia baku
yang sesungguhnya. Selain itu, kampanye kesadaran tentang pentingnya penggunaan
bahasa Indonesia juga sangat penting melalui berbagai saluran, salah satu
saluran yang terdapat di WhatsApp yang sekarang bisa kita lihat.
Bahasa
gaul tidak selalu menjadi ancaman bagi bahasa baku, tetapi lebih kepada evolusi
bahasa yang alami. Dalam berbagai kajian, bahasa selalu berkembang seiring
dengan perubahan zaman dan teknologi. Penggunaan bahasa gaul bukan berarti kita
meninggalkan bahasa baku, melainkan menyesuaikan diri dengan konteks komunikasi
yang lebih santai dan mudah dipahami dalam situasi tertentu. Yang pasti, bahasa
gaul akan berkembang sesuai perkembangan zaman masing-masing. Namun, yang
menjadi masalah adalah ketika generasi muda mulai melupakan atau tidak mampu
menggunakan bahasa Indonesia baku dalam situasi yang membutuhkannya, seperti
dalam penulisan akademik atau komunikasi formal. Jika dibiarkan, hal ini bisa
berdampak pada menurunnya keterampilan berbahasa yang baik dan benar.
Dilansir
dari kumparan.com (2024), “Bahasa gaul seringkali menjadi sumber
pembauran kosakata baru dalam Bahasa Indonesia. Kata-kata atau frasa yang
awalnya hanya digunakan dalam lingkungan tertentu dapat merambah dan menjadi
bagian dari Bahasa Indonesia yang umum digunakan. Contohnya, kata-kata seperti
"kepo", "galau" atau "jomblo" kini sudah umum
digunakan dalam Bahasa Indonesia sehari-hari.”
Berdasarkan
kutipan dari kumparan.com, menunjukkan bahwa bahasa adalah sesuatu yang
hidup dan terus berkembang. Bahasa gaul sering kali menjadi sumber inovasi
dalam kosakata baru, yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat luas hingga
akhirnya dianggap sebagai bagian dari bahasa Indonesia yang umum
digunakan. Kata-kata seperti kepo,
galau, dan jomblo awalnya hanya digunakan dalam komunitas tertentu, tetapi jika
kita lihat dalam kehidupan sehari-hari penggunaannya meluas. Bahkan, beberapa
kata dari bahasa gaul akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), yang menandakan penerimaan resmi dalam bahasa baku.
Namun, kita juga harus menjaga keseimbangan antara
inovasi bahasa dan kaidah yang ada. Jika terlalu banyak kata-kata baru masuk
tanpa aturan yang jelas, bisa saja terjadi pergeseran yang membuat bahasa
Indonesia kehilangan struktur bakunya. Oleh karena itu, peran lembaga bahasa salah
satunya peran sekolah dalam mengajarkan bahasa Indonesia yang baku sangat
diperlukan agar bahasa Indonesia tetap berkembang tanpa kehilangan
identitasnya.
Menurut Arum Putri (2015:5) yang dilansir dari kumparan.com (2024),
“Mengemukakan pendapatnya mengenai pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa gaul,
yakni menurunnya derajat bahasa Indonesia. Dalam perkembangan sejarah
pertumbuhan bahasa, pertumbuhan bahasa asing memiliki perkembangan yang lebih
maju. Seperti yang ada di sekitar kita perkembangan IPTEK saat ini dikuasai
oleh bangsa-bangsa barat. Maka jika pada produk IPTEK yang mereka hasilnya
disertai dengan penggunaan bahasa asing maka itu adalah suatu hal yang wajar.
Selain itu bahasa gaul begitu mudah untuk digunakan berkomunikasi dan hanya
orang tertentu yang mengerti arti dari bahasa gaul, maka remaja lebih memilih
untuk menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari. Sehingga bahasa
Indonesia semakin pudar bahkan dianggap kuno di mata remaja dan juga
menyebabkan turunnya derajat bahasa Indonesia.”
Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja memang dapat
menimbulkan keakraban di dalam berkomunikasi, karena bahasa gaul dapat membuat
mereka merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan
bahasa gaul yang berlebihan dapat menyebabkan kehilangan identitas bahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang seharusnya menjadi
bahasa resmi negara, namun kini telah digantikan oleh bahasa gaul dan bahasa
asing. Penggunaan bahasa gaul yang berlebihan juga dapat mempersulit komunikasi
antar generasi, karena bahasa gaul yang digunakan oleh remaja mungkin tidak
dipahami oleh orang tua. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk
melestarikan dan mempromosikan, meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa
Indonesia, terutama di kalangan remaja. Dengan demikian, diharapkan bahasa
Indonesia dapat kembali menjadi bahasa yang dihargai dan digunakan secara luas,
dan identitas bahasa dan budaya Indonesia dapat dipertahankan.
Jika dilihat dari berbagai sudut pandang, dampak positif
dan dampak negatif dari penggunaan bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia akan
selalu ada. Masyarakat Indonesia saat ini banyak menggunakan bahasa gaul dan
singkatan-singkatan ketika mengirim pesan, menulis di kertas dalam kegiatan
sehari-hari. Hal ini memang membuat kita lebih nyaman dan leluasa dalam
berkomuunikasi. Namun, penggunaan bahasa gaul juga termasuk bentuk penyimpangan
masyarakat terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adanya
penyimpangan ini dapat menghambat pertumbuhan bahasa Indonesia yang semakin
diperparah oleh maraknya dunia artis yang menggunakan bahasa gaul di media
sosial. Oleh karena itu, kita harus mengetahui penggunaan bahasa Indonesia yang
baku dan benar, seperti mencari lebih banyak bahasa baku yang tidak kita
ketahui, serta menghindari penggunaan bahasa gaul yang berlebihan. Dengan
demikian, kita dapat menjaga identitas bahasa Indonesia dan mempertahankan
kemampuan berbahasa Indonesia kita.
DAFTAR PUSTAKA
Fitriyana, Maylani Cahya. 2024. Bahasa Gaul dan Perubahan
Bahasa Indonesia: Antara Kreativitas dan Identitas. https://m.kumparan.com/amp/maylani-cahya-fitriyana/bahasa-gaul-dan-perubahan-bahasa-indonesia-antara-kreativitas-dan-(Diakses 10 Februari 2025: Pukul 08.40 WIB)
Maura, Airin Minhatul. 2024. Pengaruh Bahasa Gaul terhadap Eksistensi
Bahasa Indonesia.https://kumparan.com/user-29042024113935/pengaruh-bahasa-gaul-terhadap-eksistensi-bahasa-indonesia-.
(Diakses 10 Februari 2025: Pukul 08.30 WIB)
Muliyani, Dewi. 2024. Pengaruh
Penggunaan Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Inndonesia.https://m.kumparan.com/dewi-muliyani/pengaruh-penggunaan-bahasa-gaul-terhadap-bahasa-indonesia-. (Diakses; 10 Februari 2025: Pukul 08.15 WIB)
Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.
Tim:
1. Bella
Olivia (7)
2. Cheisya
Nathania (8)
3. Juventia
Stella (20)
Komentar
Posting Komentar