Sekolah Empat Hari Seminggu: Revolusi Pendidikan atau Kemalasan yang Dilegalkan
Lima hari kerja dalam
seminggu telah menjadi bagian dari budaya modern sejak lama. Namun, baru-baru
ini, terdapat transisi atau uji coba yang dilakukan oleh banyak organisasi
terhadap jam kerja empat hari dalam seminggu. Tujuannya sendiri yakni untuk memberikan
karyawan lebih banyak waktu untuk perawatan diri dan keseimbangan kehidupan
kerja yang lebih baik. Namun, bagaimana dengan empat hari seminggu untuk sekolah
bagi sekolah dasar hingga sekolah menengah atas?
Dilansir dari
Journalists resource, “lebih dari 2.100 sekolah negeri di 25 negara bagian
telah beralih ke sekolah empat hari dalam seminggu, seringkali dengan harapan dapat
merekrut guru, menghemat uang, dan meningkatkan kehadiran siswa menurut perkiraan
para peneliti. Penyebab utama tren ini adalah sekolah-sekolah kecil di pedesaan
yang menghadapi kekurangan guru. Namun, dampaknya terhadap siswa tampaknya belum
terlalu positif meskipun penelitian mengenai topik ini tergolong terbatas,
biasanya hanya berfokus pada satu negara bagian atau sekelompok kecil negara
bagian.”
Kehadiran di sekolah
cenderung sesuai dengan jam kerja normal, sehingga siswa harus mempunyai
komitmen yang sama terhadap studi mereka seperti halnya orang dewasa terhadap
kewajiban kerja mereka. Ketika waktu sekolah dikurangi, siswa mendapatkan lebih
banyak waktu luang di luar sekolah. Waktu luang ini diharapkan membawa dampak
positif bagi siswa dengan adanya kebebasan beraktivitas secara produktif. Dalam
pelaksanaannya, setiap individu tentu menunjukkan realisasi yang beragam, bisa
secara positif atau bahkan negatif.
Satu di antara
penelitian dilansir oleh Harrow International School Hongkong yang memperkenalkan
empat hari seminggu di sekolah menunjukkan bahwa “siswa cenderung menggunakan
waktu luang ekstra mereka untuk relaksasi atau aktivitas konstruktif seperti melakukan
aktivitas sepulang sekolah, pekerjaan, pekerjaan rumah, hobi, atau menjalankan
tugas. Mereka akan menghabiskan waktu ekstra mereka di rumah, menghabiskan
waktu bersama keluarga dan menikmati tidur yang lebih lama dan lebih baik.”
Dalam hal ini, siswa dapat merasakan bahwa sistem sekolah empat hari mampu menumbuhkan
kedekatan dengan keluarga, serta meningkatkan kualitas hidup mereka karena jadwal
yang lebih senggang. Dengan waktu sekolah selama empat hari juga memberikan
efisiensi dan produktivitas kepada siswa karena empat hari bersekolah selama
seminggu termasuk waktu yang cukup sebentar dibanding lima hari bersekolah. Selain
itu juga, dengan sekolah selama empat hari selama seminggu membuat sekolah lebih
berfokus pada pembelajaran yang efektif sehingga membuat siswa menjadi lebih termotivasi
untuk belajar dan mengembangkan diri.
Di sisi lain, tidak
dapat dipungkiri bahwa prestasi akademik atau kemahiran siswa lebih lambat
mengalami kemajuan dibandingkan mereka yang tetap menggunakan standar lima hari
seminggu. Suatu penelitian yang diterbitkan Annenberg Institute for School
Reform di Brown University tahun 2023 mendapati bahwa nilai tes merosot
sedikit di distrik-distrik dengan jadwal empat hari sekolah dibandingkan dengan
di distrik-distrik tetangganya. Analisis terhadap kinerja siswa di enam negara
bagian yaitu Colorado, Iowa, Kansas, Montana, North Dakota, dan Wyoming, juga
menemukan bahwa siswa yang mengikuti kelas empat hari seminggu, secara
keseluruhan, mengalami kemajuan lebih sedikit dalam membaca selama tahun ajaran
dibandingkan siswa yang mengikuti kelas lima hari seminggu.
Adanya sekolah cuman
empat hari dapat membuat siswa menjadi senang. Akan tetapi, dengan berkurangnya
hari dalam bersekolah bisa memicu seorang siswa memiliki sifat malas. Hal ini
dikarenakan terdapat beberapa hal yang timbul pada diri siswa selama bersekolah
selama empat hari seperti menemui kesulitan di sekolah ketika belajar, pengetahuan
dan pengalaman menjadi kurang hingga mempengaruhi faktor fisik (lapar, mengantuk,
dan sakit). Pelajaran yang diperoleh menjadi kurang relevan dengan kehidupan
siswa-siswi sehingga membuat mereka memiliki motivasi yang rendah dalam belajar
serta siswa menjadi merasa bahwa belajar tidaklah berguna. Hal ini sangat berpengaruh
terutama sekolah yang hanya mewajibkan anak anak bersekolah selama empat hari
selama seminggu. Dengan adanya batasan waktu cuman empat hari membuat ilmu
(pelajaran) dan kegiatan yang bisa membangun karakter siswa menjadi terbatas terlebih
lagi anak anak SD dan SMP. Dan akibatnya, karakter siswa siswi menjadi tidak terbentuk
dan memiliki daya juang yang rendah.
Tidak hanya
mempelajari dampak jadwal terhadap prestasi siswa, para peneliti juga menyelidiki
dampaknya terhadap aspek operasional sekolah lainnya, termasuk biaya pendidikan,
disiplin siswa, dan semangat kerja karyawan. Dalam paparannya, dampak dari
empat hari sekolah dalam seminggu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor,
termasuk jumlah jam operasional sekolah per minggu, atau bagaimana sekolah
menyusun jadwal hariannya. Jadwal yang padat tidak menghemat banyak uang,
mengingat gaji dan tunjangan karyawan merupakan bagian terbesar dari
pengeluaran sekolah. Dalam analisis tahun 2021, diperkirakan sekolah menghemat
1% hingga 2% dengan memperpendek minggu sekolah satu hari, semangat staf
meningkat dalam waktu empat hari sekolah dalam seminggu, serta perkelahian dan
intimidasi menurun di sekolah menengah. Oleh karena itu, sistem sekolah empat
hari seminggu masih diterapkan di sejumlah sekolah, misalnya di Amerika
Serikat. Karena, kebijakan seperti ini diharapkan akan menambah jumlah
rekrutmen dan retensi guru.
Dikutip dari teach
starter, “Sebagian besar guru di sekolah empat hari seminggu menganggap jadwal
tersebut sebagai “fasilitas pekerjaan” atas waktu bekerja yang lebih singkat.”
Hal ini dapat mengurangi tingkat stress guru dan meningkatkan kinerja pekerjaan
mereka karena kesibukan yang lebih minim sehingga menjadi lebih fokus untuk
mengajar serta menyelesaikan tugas mereka yang tertunda.
Adanya sistem empat
hari sekolah juga menuai berbagai tanggapan dari orang tua. Bagi orang tua,
tujuan anak disekolahkan memang bukan agar diasuh, tetapi sekolah harus
mencukupi pendidikan yang berkualitas. Sedangkan, ekstra satu hari libur tidak akan
meningkatkan nilai para siswa. Selain dalam segi akademis, orang tua juga mengkhawatirkan
perkembangan moral dan karakteristik anak. Pada masa pertumbuhannya, ada
kekhawatiran bahwa mereka akan melakukan perilaku buruk. Mengingat bahwa di
luar sekolah remaja dapat melakukan apa yang mereka mau tanpa pengawasan orang
tua ataupun guru. Terlebih lagi bagi orang tua yang memiliki kesibukan
pekerjaan setiap harinya, perhatian yang diberikan kepada anak tidak dapat selalu
maksimal. Sedangkan di sekolah, para siswa akan mendapatkan arahan yang lebih terjamin
sebab hal tersebut sudah termasuk tanggung jawab para tenaga pendidik. Selain kesibukan,
orang tua juga akan diringankan pada aspek ekonomi orang tua yang biasanya
mengantar anaknya sekolah akan mendapatkan dampak berupa penghematan biaya
antar jemput berupa bensin serta makan siang anak di sekolah, sehingga membuat orang
tua merasa tidak terbebani akan biaya hidup keluarga.
Terdapat beberapa
sekolah di Amerika yang sudah menerapkan empat hari sekolah dalam seminggu
tetapi waktu belajar pelajar setiap harinya lebih lama dibandingkan sekolah 5
hari dalam seminggu. Hal ini membuat pelajar lebih cepat merasa bosan dan kewalahan
jika belajar lebih lama setiap harinya di sekolah. Pelajar akan menjadi lebih malas
untuk belajar karena merasa terlalu banyak yang harus dipelajari setiap
harinya. Tentu, hal seperti ini dikhawatirkan berdampak pada penurunan kinerja
akademis para siswa. Hal ini juga dapat menurunkan semangat pelajar bahkan
hanya untuk berangkat ke sekolah.
Dengan
mempertimbangkan berbagai aspek yang telah dibahas sebelumnya, perubahan sistem
sekolah menjadi empat hari memberikan dampak yang beragam, baik dampak positif
dan negatif akan selalu ada jika dilihat dari sudut pandang berbagai pihak. Jika
tujuan utama penerapan sistem sekolah empat hari adalah untuk menghemat anggaran,
maka sistem ini memang memberikan sedikit keuntungan dalam aspek finansial
sekolah. Namun, kita tidak boleh melupakan esensi utama dari pendidikan itu sendiri,
yaitu meningkatkan kualitas perkembangan siswa, baik dari segi akademis, karakter,
maupun moral.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. -. Should
School Adopt a 4-day Week? https://www.harrowhongkong.hk/his/should-schools-adopt-a-4-day-week/
(Diakses; 4 Februari 2025; 8.01)
Anonim. 2023. Revolusi
Pendidikan di Indonesia: Tantangan dan Peluang dalam Konte Global. https://www.kompasiana.com/bimasakti1960/64f1828e08a8b53244775722/revolusi-pendidikan-di-indonesia-tantangan-dan-peluang-dalam
konteksglobal#:~:text=Revolusi%20pendidikan%20adalah%20upaya%20besar,utama%20adalah%20meningkatkan%20kualitas%20pendidikan
(Diakses; Kamis, 6 Februari 2025; 19.55)
Anonim. 2023. Sistem Sekolah 4 Hari Seminggu Semakin Populer di AS.https://www.liputan6.com/global/read/5421208/sistem-sekolah-4-hari-seminggu-makin-populer-di-as
(Diakses; 4 Februari 2025; 7.20)
Anonim. 2024. Perbedaan
Praktik Pendidikan dalam Negeri dan Luar Negeri, Manakahyang lebih Efektif?.
https://www.kompasiana.com/blandinnaoctavianyaya6653/6593af6dc57afb20f5383dc3/perbedaan-praktik-pendidikan-dalam-negeri-dan-luar-negeri-manakah-yang-lebih-efektif
(Diakses; 4 Februari 2025; 7.52)
Anonim. 2025. 20 Pro dan Kontra teratas dari minggu sekolah 4 hari. https://megabisnis.id/20-pro-dan-kontra-teratas-dari-minggu-sekolah-4-hari.
(Diakses;
4 Februari 2025; 7.56)
Emma. 2022. What's
the Deal with the 4-Day School Week? https://www.teachstarter.com/au/blog/whats-the-deal-with-the-4-day-school-week-2-2/
(Diakses; 4 Februari 2025; 8.01)
Ordway, Denise.
2024. Four-day school week: Research suggests impacts of acondensed schedule
vary by student group, school type. https://journalistsresource.org/education/four-day-school-week-research/.
(Diakses; 6 Februari 2025; 21.26)
Pembimbing:
Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.
Tim:
Agustiani
Valencia (2)
Evelyn
Thelia (11)
Fanny
Yang (12)
Komentar
Posting Komentar