Kecerdasan Buatan: Ancaman/Peluang Bagi Pekerja Masa Depan?

 

Para ilmuwan dalam bidang ilmu pengetahuan pada zaman ini telah berhasil mengembangkan berbagai penelitian inovatif yang tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengubah cara pandang manusia terhadap dunia. Dari penemuan teknologi robot hingga perbaruan aplikasi, hasil riset mereka telah memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Kemajuan ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membuka peluang baru untuk solusi atas berbagai tantangan.

Meskipun terdengar sulit dipercaya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan hal-hal yang dulu dianggap mustahil menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan disaksikan secara langsung di era modern ini. Satu diantara teknologi yang menjadi navigasi manusia dalam segala bidang adalah Artificial Intelegence atau yang biasa dikenal dengan kecerdasan buatan yang mampu memberikan gagasan pikiran, seperti manusia. Perkembangan AI di masa sekarang ini tidak hanya mengubah cara manusia hidup, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas untuk masa depan yang lebih maju dan penuh kemungkinan.

Pada saat ini, kita juga bisa mencari lapangan pekerjaan melalui teknologi apa saja termasuk AI ini. Di sisi lain, banyak aplikasi berbasis kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) yang juga dimanfaatkan tidak hanya dalam mencari tetapi juga untuk melakukan suatu pekerjaan yang berbasis critical thinking. Pasalnya, aplikasi AI dianggap membantu menyelesaikan pekerjaan manusia dengan lebih cepat dan efisien.

Dalam menemukan lapangan pekerjaan kita tahu pada tempo lawas, teknologi seperti kecerdasan buatan tidak gunakan. Namun, segala informasi mengenai lapangan pekerjaan dapat disebar luaskan dari mulut ke mulut dan melalui koran.  Pada tempo lawas juga, masih banyak orang yang bisa melakukan pekerjaannya dengan efesien dan gesit tanpa menggunakan AI. Kita ambil contoh adalah pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, para pemimpin negara menentukkan gagasan-gagasan kemerdekaan dalam teks proklamasi mengandalkan pemikiran mereka pribadi, dan tidak menggunakan AI. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa semua pekerjaan yang menggunakan AI akan membuat seseorang tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.

Setiap pekerjaan tentu memerlukan orang yang ulet untuk menyelesaikan pekerjaannya. AI mungkin bisa dijadikan sebagai solusi untuk membantu para pekerja, sebagaimana terpapar dalam hasil survei Populix, hampir setengah atau 45% pekerja dan pengusaha di Indonesia telah menggunakan aplikasi AI (Cindy Mutia Annur, 2023). Data tersebut menunjukkan bahwa AI dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk membantu mereka dalam menyelesaikan pekerjaan dengan efesien dan cepat.

Jika kita meninjau pandangan kita ke masa depan, penggunaan AI merupakan alternatif yang relevan sebagai peluang untuk mendapatkan maupun menjalani sebuah pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak teknologi-teknologi baru yang dikembangkan. Tentu saja teknologi itu dibuat untuk mempermudah manusia dalam melakukan sesuatu. Begitu pula yang terjadi dalam instansi atau perusahaan yang menawarkan lowongan pekerjaan. Tentunya mereka ingin mendapatkan keuntungan yang maksimal dari hasil pekerja yang bekerja dalam perusahaan tersebut. Dengan adanya teknologi, khususnya teknologi AI seorang pekerja bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih mudah bahkan lebih efisien, tanpa harus lelah berpikir. Ketika hasil kerja pekerja tersebut terlihat maksimal dan efisien sehingga bisa memberikan keuntungan dalam suatu perusahaan, pekerja tersebut sudah mencapai peluang yang ada dalam memanfaatkan teknologi AI. Dampaknya, pekerja tersebut bisa mendapatkan timbal balik dari perusahaan berupa kenaikan gaji ataupun pangkat. Peristiwa tersebut didukung oleh Amazon Web Services (2024) yang memperoleh hasil survei sekitar 47% bonus gaji diberikan bagi pekerja yang mahir menggunakan AI sehingga berkontribusi besar meningkatkan produktivitas bisnis. Namun, jika suatu perusahaan sudah bisa memanfaatkan AI secara maksimal, terdapat kemungkinan peluang yang ada bisa berubah menjadi sebuah ancaman.

Walaupun dikenal efesien dan cepat, masih terdapat masyarakat yang ragu akan penggunaan AI. Kecerdasan buatan (AI) memiliki dampak yang besar, tidak hanya memberi peluang, kemudahan dan efisiensi, tetapi juga menghadirkan tantangan yang serius dalam dunia kerja. Salah satu ketakutan yang muncul adalah ancaman terhadap stabilitas lapangan pekerjaan dan peran manusia dalam berbagai bidang industri yang dianggap bisa menggantikan manusia. Dengan semakin canggihnya teknologi, tugas-tugas yang sederhana kini lebih mudah dijalankan secara otomatis, membuat tenaga manusia menjadi kurang dibutuhkan.  Contohnya seperti dalam dunia industri, adanya robot dengan teknologi AI mampu bekerja tanpa lelah dan melakukan tugas-tugas produksi dengan akurat. Bahkan di bidang transportasi, kendaraan tanpa sopir yang saat ini sedang diuji coba bisa menjadi ancaman bagi para sopir taksi. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan tinggi atau kreativitas memang paling rentan untuk tergantikan.

Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya pengangguran, terutama bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan di bidang teknologi. Orang yang tidak bisa mengikuti perkembangan ini mungkin akan sulit bersaing didunia kerja. Sebaliknya, mereka yang punya kemampuan dalam pemrograman, analisis data, dan pengembangan AI justru akan diperlukan. Hal ini berisiko menciptakan kesenjangan antara kelompok yang mampu beradaptasi dan mereka yang tertinggal.  Menurut Data Moneter Internasional (IMF) terdapat sekitar 60 persen pekerjaan dapat terkena sampai AI di negara-negara berpenghasilan tinggi, dan sekitar setengah dari negara-negara tersebut mungkin dapat manfaat dari integrasi AI untuk meningkatkan produktivitas. Sebagai perbandingan, paparan AI diperkirakan mencapai 40 persen di negara-negara berkembang dan 26 persen di negara-negara berpenghasilan rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang dan negara-negara berpendapatan rendah menghadapi lebih sedikit gangguan akibat AI dalam jangka pendek. Selain masalah pekerjaan, AI juga memicu tantangan sosial. Jika banyak orang tidak dapat mengikuti perubahan ini, ketidakpuasan sosial bisa meningkat dan kesenjangan ekonomi makin melebar. Orang yang tidak punya kesempatan belajar keterampilan baru mungkin akan terpinggirkan, sementara mereka yang menguasai teknologi akan mendapatkan lebih banyak peluang dan keuntungan.

Penggunaan AI dianggap dapat menjadi ancaman, bahkan menghambat kreativitas dan ketangkasan seseorang dalam berfikir. Selain itu apabila AI disalah pergunakan, kelak semakin lama AI bisa menggantikan manusia dalam pekerjaannya. Hal itu dapat menjadi ancaman yang sangat buruk bagi masyarakat kedepannya. Studi yang dilakukan Siti Masrichah pada 2023 menyatakan keberadaan AI telah mempengaruhi lapangan kerja, dengan otomatisasi menggantikan pekerjaan manusia dalam beberapa kasus. Berdasarkan situs kompas.com melalui survei Forbes Advisor pada 2023, sebanyak 77 persen dari 2.000 pekerja di Amerika Serikat (AS) khawatir AI akan menyebabkan hilangnya pekerjaan dalam setahun ke depan.

Sebagai ancaman ataupun peluang, hal tersebut tetap perlu diperhatikan, karena pekerjaan masa depan sangat bergantung dengan yang namanya teknologi. Semakin perkembangnya zaman, teknologi juga semakin berkembang. AI harusnya dapat kita gunakan sebaik baiknya dalam membantu pekerjaan kita. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa AI tidak akan menjadi ancaman untuk menggantikan manusia di kemudian hari. Kita harus bisa menggunakan AI sebijak-bijaknya agar peluang dapat terus bertambah dibanding ancaman yang akan datang.

 

Daftar Pustaka

Katadata. (2023, 26 Juni). Survei: ChatGPT jadi aplikasi AI paling banyak digunakan di Indonesia. Databoks Kata Datahttps://databoks.katadata.co.id/infografik/2023/06/26/survei-chatgpt-jadi-aplikasi-ai-paling-banyak-digunakan-di-indonesia

Kompas.com. (2024, 11 Juni). Perkembangan AI: Antara membantu atau mengganti pekerjaan manusia. Kompas.com. https://www.kompas.com/cekfakta/read/2024/06/11/162400182/perkembangan-ai-antara-membantu-atau-mengganti-pekerjaan-manusia?page=all

Masrichah, S. (2023). Ancaman dan peluang Artificial Intelligence (AI). Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 3(3), 83-101. https://doi.org/10.55606/khatulistiwa.v3i3.1860

 

Tim:

Gilbert Vincentus (9)

Iota Sunia Karamigi (11)

Thing Tya Veronica (26)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?