Generasi Z dan Wirausaha “Haruskah pelajar mulai berbisnis sejak dini?”
Pada era
digital yang semakin berkembang, wirausaha menjadi salah satu pilihan karir
yang menarik bagi banyak orang, termasuk generasi Z. Adanya kemudahan akses
teknologi dan Internet meningkatkan peluang untuk memulai bisnis. Perkembangan
wirausaha di era digital ditandai dengan semakin luasnya kesempatan bagi siapa
saja, termasuk pelajar untuk menjadi pelaku usaha tanpa batasan tempat
dan waktu. Dengan hanya bermodalkan smartphone dan koneksi internet, seseorang
dapat dengan mudah menjalankan bisnis online, mulai dari e-commerce
hingga jasa digital. Selain itu, pelaku usaha juga dapat dengan mudah
mempromosikan produknya melalui platform media sosial seperti Instagram, Tiktok,
Youtube, Facebook dan sejenisnya.
Era digital
telah melahirkan berbagai model bisnis baru yang beragam dan adaptif seperti dropshipping,
advertising, affiliate, dan startup berbasis
teknologi. Sejak berdirinya toko online, yang tersedia di platform seperti Shopee,
Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada, berhasil mengubah cara masyarakat
berbelanja dan berbisnis. Selain itu, hadirnya dompet digital telah mempermudah
transaksi online. Kini, pelaku usaha tetap bisa menjual produk ke
seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri tanpa harus memiliki toko fisik.
Masyarakat juga tetap dapat membeli produk yang dibutuhkannya tanpa harus
datang langsung ke toko fisik. Melalui
dunia maya saja, sudah banyak pelaku usaha yang sukses memasarkan produknya.
Namun pertanyaan yang kerap muncul adalah “Haruskah pelajar mulai berbisnis
sejak dini?”. Dalam menyikapi
isu ini terdapat dua sudut pandang yang berbeda.
Di satu sisi,
banyak yang berpendapat bahwa memulai bisnis sejak dini merupakan langkah yang
penting dan membuka banyak peluang bagi masa depan anak muda. Pelajar yang
memulai bisnis sejak dini dianggap berada satu langkah di depan menuju
kesuksesan dibandingkan dengan anak muda yang belum memulai bisnis. Mereka
telah lebih dulu belajar kemandirian baik secara individu maupun finansial,
mengasah kreativitas, dan memperoleh pengalaman kerja yang berharga serta
berguna di masa depan. Dengan kemajuan teknologi dan akses yang lebih mudah ke
pasar digital, generasi Z memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dalam
berwirausaha tanpa harus menunggu dewasa.
Akan tetapi,
disisi lain, banyak pula yang berpendapat bahwa pelajar sebaiknya fokus pada
pendidikan bukan pada kegiatan untuk berbisnis. Pendidikan merupakan hal yang paling utama dan jalan
menuju kesuksesan. Berbisnis memerlukan waktu, tenaga, dan tanggung jawab yang
besar, sehingga dapat mengganggu prestasi akademik dan kehidupan sosial. Selain
itu, apabila pelajar tidak melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pelajar,
dikhawatirkan akan gagal di masa depan. Memulai bisnis tanpa pengalaman dan
pemaham bisnis yang matang sangat beresiko dan menjadi tantangan yang tidak
bisa diabaikan.
Muncul perdebatan
“Apakah memulai bisnis sejak dini adalah langkah yang tepat bagi pelajar, atau
justru menjadi beban yang menghambat perkembangan mereka?”. Sebelum masuk ke
topik pembahasan ini, mari kita pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan
wirausaha dan manfaatnya. Dilansir dari kompas.com (2023) wirausaha
adalah kegiatan usaha yang segala sumber daya dan upaya dibebankan kepada
pelaku usaha. Wirausaha juga seringkali diidentifikasi sebagai kegiatan
menghasilkan produk dan menentukan cara memproduksi. Menjadi seorang wirausaha
berarti para generasi muda harus dapat mengidentifikasi peluang bisnis,
mengembangkan ide bisnis untuk mengikuti kebutuhan pasar, dan harus berani
mengambil resiko untuk mencapai kesuksesan.
Wirausaha penting
untuk dilakukan karena dapat memberikan dampak positif bagi setiap individu
maupun bagi masyarakat luas. Wirausaha juga berperan penting dalam perekonomian
karena dapat menciptakan lapangan kerja baru, menekan angka pengangguran dan
meningkatkan pendapatan masyarakat. Berwirausaha dapat membangun karakter
positif dari setiap individu, karena menjadi seorang wirausaha harus memiliki
keinginan untuk bekerja keras guna mencapai hasil yang memuaskan. Berwirausaha
juga harus memiliki kreativitas serta kedisiplinan.
Dilansir dari detikJogja.com
(2024), generasi Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012.
Generasi ini lahir bertepatan dengan mulai berkembangannya teknologi, artinya
generasi Z merupakan generasi muda yang tumbuh di era digital. Rentang usia
generasi Z bekisar dari 12-28 tahun dan sebagian besar dari mereka merupakan
pelajar. Pertumbuhan mereka yang diiringi dengan perkembangan teknologi membuat
mereka lebih cepat beradaptasi dengan tren bisnis modern, termasuk bisnis
digital. Hal ini juga merupakan faktor yang dapat meningkatkan ketertarikan
mereka terhadap bisnis, misalnya memulai bisnis sejak dini. Bukan tanpa sebab,
kemudahan akses ke berbagai informasi juga ikut membekali generasi Z untuk
mempelajari dunia bisnis dan memulai bisnis.
Ditambah lagi pola
pikir pelajar yang tidak ingin terus bergantung dengan orang tua, mendorong
keinginan mereka untuk mendapatkan penghasilan sendiri sehingga melihat bahwa
era ini merupakan kesempatan emas untuk memulai lebih awal. Ketidakpastian
kondisi ekonomi dan pekerjaan membuat pelajar sadar bahwa mereka harus lebih
kreatif dan inovatif dalam mendapatkan penghasilan. Berwirausaha menjadi solusi
yang memiliki kendali atas keuangan mereka sendiri di masa depan.
Di tengah era
globalisasi dan digitalisasi yang semakin berkembang pesat, memahami dunia
bisnis dan kewirausahaan menjadi semakin penting. Terlebih generasi muda saat
ini dihadapkan oleh tantangan yang semakin meningkat dibandingkan sebelumnya.
Oleh karena itu, melakukan bisnis sejak dini dapat memberikan banyak manfaat
bagi generasi muda baik dari segi keterampilan, mentalitas, maupun finansial.
Dilansir dari kumparan.com (2024) dengan memulai bisnis sejak dini, para
generasi muda dapat mengasah kemampuan mereka untuk berpikir lebih kritis dan
kreatif. Sebab dalam memulai suatu bisnis diperlukan kemampuan untuk berpikir
diluar kebiasaan guna mencari solusi inovatif untuk masalah yang cukup
kompleks. Selain itu, berbisnis juga dapat membangun rasa kemandirian dan
kepercayaan diri. Sebab dalam berbisnis, pelaku usaha hanya dapat bergantung
dengan diri sendiri dan berani mengambil keputusan serta berani menghadapi
tantangan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Berbisnis sejak dini juga dapat
meningkatkan kondisi ekonomi pelajar bahkan keluarganya.
Adanya tantangan
dalam berbisnis akan melatih dan membentuk mentalitas pelajar sehingga mereka
siap menghadapi tantangan yang lebih berat di masa depan. Berbisnis sejak dini
memberikan pemahaman langsung tentang dunia usaha, seperti ide bisnis,
pemilihan produk, pembuatan produk, penentuan target pasar, dan strategi
pemasaran. Berbisnis sejak dini juga akan mengasah keterampilan pelajar dalam
pengelolaan keuangan, mengatur waktu, negosiasi, komunikasi dan menciptakan
produk yang mampu bersaing. Dalam dunia bisnis terdapat persaingan yang ketat
antar pelaku usaha hingga peniruan produk. Situasi ini akan mendorong pelajar
untuk menciptakan produk yang inovatif dan mampu bersaing serta memenuhi
kebutuhan pasar. Berbisnis sejak dini juga akan memberikan pengalaman yang
berguna bagi masa depan, baik jika mereka ingin menjadi pengusaha sukses maupun
bekerja di perusahaan.
Meskipun berbisnis
sejak dini memiliki banyak dampak positif bagi pelajar, namun tentu saja
berbisnis sejak dini juga memiliki dampak negatifnya. Secara mental pelajar
mungkin saja belum sepenuhnya siap untuk menghadapi berbagai tantangan dan
resiko yang akan datang ketika berbisnis. Kurangnya pengalaman dalam dunia
bisnis juga dapat menyebabkan pelajar gagal dalam bisnis mereka. Selain itu,
berbisnis dapat menyita banyak waktu, yang menyebabkan pelajar akan sulit
menyeimbangkan waktu untuk berbisnis dan belajar. Menurut Fitriani, dkk (2024)
adanya tantangan dalam berbisnis akan menghambat perkembangan pelajar sebagai
pelaku usaha. Tantangan yang dihadapi seperti, kurangnya modal usaha, kegagalan
strategi pemasaran, kurangnya konsumen, dan persaingan yang ketat dapat membuat
mereka tertekan.
Dalam dunia bisnis
sering terjadi peniruan usaha. Ketika usaha yang dibangun mudah ditiru dan
telah ditiru cenderung memiliki keuntungan yang kecil dan beresiko gagal. Hal
ini memungkin pelajar mendapat kritik dari sekitar sehingga akan membuat mereka
merasa tertekan bahkan menghambat mereka untuk bangkit dari keterpurukan.
Selain itu, dampak negatif berbisnis sejak dini juga dapat menyebabkan
kecemburuan dan persaingan antara taman. Hal ini dikarenakan, pelajar
yang sukses dalam bisnis mungkin mendapatkan perhatian yang lebih baik dari
guru, orang tua, maupun teman-temannya. Menjadi pelajar yang sukses dalam
bisnis dapat meningkatkan rasa sombong dan tinggi hati sehingga mereka mungkin
memandang rendah orang lain yang tidak sesukses dirinya.
Menjadi seorang
pebisnis harus siap untuk menghadapi berbagai kejahatan dalam dunia bisnis,
seperti kejahatan siber dan potensi pelanggaran hak cipta. Tidak adanya
dukungan dari orang tua juga menjadi hambatan bagi seorang pelajar untuk
memulai bisnisnya. Terlebih saat ini banyak orang tua yang ingin anaknya untuk
fokus dengan pendidikannya dibandingkan dengan memulai bisnis sejak dini.
Dikarenakan hambatan maupun tantangan yang harus dihadapi oleh para pelajar,
maka diperlukan strategi yang matang untuk memulai bisnisnya sejak dini.
Memulai bisnis sejak
dini memang memiliki keuntungan yang besar bagi pelajar, namun juga memiliki
dampak yang buruk apabila tidak disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan
masing-masing pelajar. Keuntungan memulai bisnis sejak dini dapat memimpin
pelajar menjadi seorang yang siap menghadapi dunia kerja. Namun, apabila
berbisnis sejak dini tidak disertai kesiapan baik mental maupun finansial, maka
hal ini akan menjadi boomerang bagi pelajar.
Dilansir dari startupcampus.com (2022) untuk memulai bisnis, seorang pelajar diharuskan untuk menemukan ide yang tepat. Seorang pelajar dapat melakukan analisis tentang kebutuhan pasar yang banyak dicari oleh masyarakat saat ini. Selain itu, untuk memulai bisnis pelajar juga perlu menentukan target pasar, agar pemasaran yang dilakukan akan lebih efektif. Setelah mempelajari pasar yang telah ditetapkan, rencana bisnis harus sudah mulai dibuat, rencana bisnis yang dibuat harus mencakup tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Disaat ini, analisis pesaing dan analisis keuntungan maupun kerugian juga penting untuk dilakukan. Dan yang tidak kalah penting, saat memulai bisnis diperlukan branding yang tepat, sehingga konsumen akan lebih mudah untuk mengingat produk apa yang telah dijual.
Daftar Pustaka
17 November 2024. Gen Z Tahun Berapa? Ini Urutan 7 Generasi Berdasarkan Tahunnya. diakses pada 12 Februari 2025 dari https://www.detik.com/jogja/berita/d-7642308/gen-z-tahun-berapa-ini-urutan-7-generasi-berdasarkan-tahunnya
Kompas.com 5 September 2023. Apa Itu Wirausaha: Pengertian, Tujuan, Karekteristik, dan Contohnya. diakses pada 12 Februari 2025 dari https://money.kompas.com/read/2023/09/05/140056826/apa-itu-wirausaha-pengertian-tujuan-karakteristik-dan-contohnya?page=all
Fitriani, A., Depin, D., & Nur, H. (2024). Keuntungan dan Kerugian Kewirausahaan. Wawasan: Jurnal Ilmu Manajemen, Ekonomi dan Kewirausahaan, 2(3), 93-99.
Startupcampus.id 13 April 2022. Cara Memulai Usaha Startup Sejak Dini. diakses pada 12 Februari 2025. https://startupcampus.id/blog/cara-memulai-usaha-startup-sejak-dini/
Kompasiana.com 14 Maret 2020. Pentingnya Wirausaha Sejak Usia Dini. diakses pada 12 Februari 2025 dari https://www.kompasiana.com/daviqmadani/5e6c4790d541df6f2b5a07a2/pentingnya-wirausaha-sejak-usia-dini
Kumparan.com 17
September 2024. Mengapa Belajar Berwirausaha Sejak Dini Itu Penting?. Diakses pada 12 Februari 2025 dari https://kumparan.com/rosyid-nurrohman/mengapa-belajar-berwirausaha-sejak-dini-itu-penting-23XM2CTe3tE
Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.
Tim
1. Ary Kristiani (2)
2. Jefri Valenzyo (13)
3. Michelle Aurellia Lay (19)
Komentar
Posting Komentar