E-Sports vs Olahraga Fisik: Mana yang Lebih Bermanfaat untuk Remaja?

 

Seiring berkembangnya zaman saat ini, perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang sangat besar pada kehidupan kita sekarang terutama pada remaja saat ini, termasuk dunia olahraga. Satu diantaranya adalah yang sedang berkembang pesat saat ini yaitu e-sports. E-sports adalah olahraga yang menggunakan teknologi seperti handphone untuk memainkan sebuah permainan dengan tujuan untuk memenangkan permainan tersebut dengan kerja sama tim. Pada bidang ini telah menarik banyak perhatian para remaja di seluruh dunia, dengan mengikuti kompetisi besar yang menawarkan hadiah uang yang sangat besar dan pengakuan internasional. Dalam kompetisi ini, para pemain berkompetisi dalam berbagai jenis permainan video yang menguji keterampilan gerak tangan, kecepatan berpikir, serta kerjasama tim.

Namun, e-sports juga memiliki beberapa risiko jika kita tidak mengontrol dengan baik.  Saat duduk terlalu lama di depan layar dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, seperti memperburuk bentuk tubuh seperti bahu kita menjadi bungkuk, penglihatan menjadi memburuk , menjadi pemberontak dan kurangnya aktivitas fisik. Selain itu, jika kita tidak mengelola kesehatan fisik dengan baik, maka bermain game secara berlebihan bisa mengganggu keseimbangan antara kehidupan sosial, akademik, dan kesehatan mental. Contohnya seperti remaja di kota Cimahi terpaksa berhenti sekolah karena harus menjalani perawatan kesehatan jiwa yang disebabkan kecanduan game online.

 Dilansir dari news.detik.com,Dua anak usia SMP di Kota Cimahi terpaksa berhenti sekolah selama satu tahun lantaran harus menjalani perawatan dan pemulihan kesehatan jiwa. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengungkapkan dua bocah kelas VII SMP itu mengalami kecanduan game online. "Ada dua siswa kelas VII SMP di Kota Cimahi berhenti sekolah selama satu tahun karena harus menjalani perawatan dan pemulihan akibat kecanduan game online," kata Retno melalui keterangan tertulis, Rabu (24/3/2021). Dia mengungkapkan awal mula temuan dua anak kecanduan game online itu saat mereka tidak muncul saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dari situ kemudian ditelusuri dan didapati fakta bahwa mereka adiksi game online. "Pihak sekolah yang tahu lebih dulu karena anaknya enggak ikut PJJ. Kemudian dilaporkan ke KPAI soal temuan tersebut," ujar Retno. Dampak kecanduan game online pada dua anak tersebut mengubah pola tidur. Selagi waktunya mengikuti pembelajaran secara online, dua bocah itu malah tidak hadir karena tertidur. "Mereka main game sampai subuh. Setelah subuh tidur, jadi saat PJJ dia tidak hadir karena memang sedang tidur akibat begadang semalaman," kata Retno. Saat ini dua anak yang mengalami kecanduan game online tersebut tengah menjalani rawat jalan untuk memulihkan kondisinya. "Sedang rawat jalan, mereka terapi dengan psikiater. Proses penyembuhannya lama kalau sudah kecanduan," kata Retno. Menanggapi temuan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Harjono mengaku baru mengetahui ada siswa kelas VII SMP yang mengalami kecanduan game online sehingga harus berhenti sekolah selama setahun. "Saya belum terima laporannya. Nanti saya cek," ujar Harjono singkat.”

Di sisi lain, e-sports juga memiliki manfaat, terutama dalam hal keterampilan untuk memecahkan masalah dalam permainan untuk melawan agar memenangkan pertandingan. Bermain game  akan melatih konsentrasi pikiran kita untuk mengatur strategi dan refleks yang cepat. Selain itu, komunikasi dengan antar satu tim dalam permainan game juga dapat meningkatkan kemampuan kerja sama dan kepemimpinan. Dalam beberapa kasus, e-sports juga memberikan peluang karier, baik sebagai pemain profesional, pelatih, maupun konten kreator.

Dilansir dari ubaya.ac.id, “Akhir-akhir ini, Electronic Sport (E-sports) telah menjadi tren yang populer di kalangan anak muda hingga dewasa. E-sports menawarkan beragam jenis permainan seperti Multiplayer Online Battle Arena (MOBA), Real-Time Strategy (RTS), dan First Person Shooter (FPS), yang membuat para pemainnya tidak mudah bosan. Meskipun banyak orang awam menganggap E-sports hanya sekadar hiburan yang tidak memberikan manfaat, kenyataannya E-sports dapat memberikan berbagai keuntungan, baik secara mental maupun sosial. Satu diantaranya manfaat utamanya adalah melatih pemikiran strategis. Pemain E-sports dituntut untuk berpikir kritis, merancang strategi yang matang, serta bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan ini dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan membuat pemain lebih cakap dalam merencanakan langkah-langkah strategis, yang juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.”

Namun apakah e-sports ini lebih baik untuk remaja di bandingkan olahraga fisik? Olahraga fisik sendiri adalah aktivitas seseorang yang dilakukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan. Olahraga fisik ini dapat memberikan manfaat yang lebih jelas bagi kesehatan tubuh. Seperti, lari, renang dsb, olahraga tersebut dapat meningkatkan kebugaran, meningkatkan rasa percaya diri dan membantu membangun displin. Jika ikut dalam partisipasi tim olahraga akan mengajarkan kerja sama, dan bagaimana menghadapi kemenangan maupun kekalahan dengan baik. Selain itu, olahraga fisik ini juga mengajarkan kita komunikasi langsung dengan teman dalam lingkungan, hal ini membantu memperkuat hubungan pertemanan atau sosial di dunia nyata.

Dilansir dari idai.or.id, “Olahraga fisik juga sangat penting bagi anak dan remaja karena tidak hanya menjaga kesehatan fisik, seperti memperkuat otot dan tulang, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mengontrol berat badan, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan mental. Berolahraga dapat meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi stres dan kecemasan, serta membantu anak lebih fokus dalam belajar. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak-anak dianjurkan untuk beraktivitas fisik selama 60 menit setiap hari. Waktu ini bisa dibagi sepanjang hari dalam berbagai bentuk olahraga, seperti jogging, bersepeda cepat, bela diri, atau olahraga aerobik lainnya yang lebih efektif dibanding berjalan santai atau senam.” 

  Olahraga yang berlebihan dan teknik yang salah juga dapat berisiko bagi tubuh seperti, Cedera otot dan sendi, gangguan pertumbuhan pada remaja, gangguan pola makan. Cedera otot ini jika satu diantaranya gerakan yang terlalu kuat dapat menyebabkan seperti keseleo, kram dsb, pada gangguan pada remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, jika olahraga yang terlalu berat dapat menggangu perkembangan otot dan tulang. Sedangkan  pada pola makan biasanya ini teruntuk pada seseorang yang melakukan diet ketat yang tidak sehat atau pola makan yang tidak seimbang karna akan takut rasa gagal.

Dilansir dari health.okezone.com, “Olahraga angkat besi atau sering disebut dengan istilah deadlift merupakan salah satu cabang olahraga yang cukup populer di kalangan pria maupun wanita saat ini. Angkat besi biasanya populer jadi pilihan saat berolahraga terutama ketika di gym. Selain mampu membentuk postur tubuh lebih tegak , angkat besi juga memberikan manfaat kesehatan lain bagi tubuh. Namun hati-hati, jika dilakukan dengan cara atau gerakan yang keliru. Bukan tidak mungkin, bisa membuat Anda malah cedera bahkan berakibat fatal. Seperti nasib naas yang dialami oleh remaja pria di Inggris bernama Brandon Hackett satu ini. Mengutip New York Post, Rabu (24/8/2022), Brandon diketahui mengalami kelumpuhan usai melakukan angkat besi sekitar 300 kilogram. Awalnya remaja berusia 20 tahun tersebut, mengalami sakit punggung saat berlatih untuk kompetisi angkat besi 300kg pada Juli 2021. Brandon lalu memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter, setelah diperiksa dokter memberitahu bahwa rasa sakit yang dialami remaja tersebut karena ototnya yang tegang sebagai akibat dari olahraga angkat besi yang Brandon lakukan. Sejak saat itu, Brandon diketahui mulai menjalani fisioterapi untuk memulihkan cidera punggungnya. Namun, ternyata rasa sakit yang dialami Brandon terus berlanjut dan menyebar ke bagian perut. Bahkan kondisi ini berkembang juga menjadi sensasi kesemutan di bagian kaki. Merasa tak nyaman, Brandon kemudian memeriksakan diri kembali ke dokter. Kala itu dokter menyatakan bahwa kondisi yang dialami Brandon kemungkinan karena linu panggul, yaitu nyeri saraf di kaki yang disebabkan oleh iritasi atau cedera pada saraf linu panggul. Sampai pada bulan Agustus 2021, rasa sakit yang dialami Brandon memuncak ketika dia menonton acra festival musik, Festival Leeds. Ia merasa kakinya sangat lemah dan ketika Brandon bangun pada keesokan paginya, kakinya sudah tidak bisa digerakkan. Brandon saat itu pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit dan dibantu denagn alat bantu jalan untuk membantunya bergerak. Ia merasa hal yang dialaminya bukan hanya sekedar cedera belaka, dan menurutnya itu tidak normal. “Saya bingung dan berpikir ini tidak normal dan benar-benar menakutkan serta aneh dengan sensasi kesemutan yang tidak hilang. Setiap kali saya mencoba bergerak, rasanya seluruh tubuh saya tersengat listrik. Rasanya seperti kaki saya disemen ke lantai dan aku bahkan tidak bisa menggerakkan jari kaki saya” ujar Brandon. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang menekan tulang belakang Brandon. Dokter akhirnya memutuskan untuk memindahkan Brandon ke Rumah Sakit Sheffield untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang lebih lengkap. Sesampainya di Rumah Sakit Sheffield, Brandon ternyata sudah tidak bisa berdiri dan berjalan lagi. Ia akhirnya segera diperiksa dan menjalani operasi dekompresi darurat. Dokter menyatakan selain cedera yang dialami Brandon, kelumpuhan yang dialami Brandon juga disebabkan oleh tumor langka yaitu Sarkoma Ewing, tumor yang terjadi di tulang atau di jaringan lunak di sekitar tulang. Namun, untungnya tumor yang dialami Brandon belum menyebar sehingga bisa diangkat. Setelah kemoterapi, Brandon perlahan mulai bisa kembali bergerak dan mulai bisa berjalan lagi. Dokter memberitahu bahwa tumornya sudah hilang, dan dia akan pulih sepenuhnya dan bahkan bisa mulai berolahraga di gym lagi. Brandon mengatakan, ia kini menggunakan tongkat jika merasa kehilangan keseimbangan. Tumornya sendiri, sudah hilang sekarang dan hasil X-Ray di tubuhnya sudah kembali bersih.”

Artikel ini bertujuan untuk membahas lebih dalam tentang manfaat olahraga bagi remaja dan mencoba membuktikan mana yang lebih bermanfaat bagi remaja serta membandingkan dampak kedua perkembangan jenis olahraga tersebut. Bagi remaja, olahraga bukan hanya sekedar soal kesehatan fisik, namun juga bisa membantu mengatur emosi dan mengurangi stress akibat tekanan lingkungan. Dengan rutin berolahraga, remaja bisa lebih fokus untuk beraktivitas dan tidur dengan nyenyak. Selain itu, olahraga juga bisa menjadi cara untuk bersosialisasi dengan orang baru, terutama jika mengikuti komunitas atau tim olahraga.

Sebenarnya tidak ada yang lebih baik tetapi, jika kita melakukan nya secara seimbang maka bisa mendapatkan manfaat dari kedua aktivitas tersebut. Misalnya, olahraga fisik dapat membantu menjaga kesehatan tubuh, sedangkan e-sports dapat menjadi cara untuk kita mengembangkan keterampilan konsentrasi dan sosial melalui permainan video game atau kompetisi. Keduanya bisa saling melengkapi jika dijalani dengan waktu yang teratur, tidak mengganggu waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. Yang terpenting, kita harus bisa mengatur waktu dengan baik agar tetap produktif.

Daftar Pustaka

Samueldim. 2022. E-sport: Olahraga Elektronik dengan Berbagai Manfaat. https://www.ubaya.ac.id/2022/12/26/e-sport-olahraga-elektronik-dengan berbagai-manfaat/ (Diakses; Jumat, 7 Februari 2025: Pukul 09.30 WIB)

Anonim. 2019. Manfaat Olahraga bagi Kesehatan Anak dan Remaja. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/manfaat-olahraga-bagi-kesehatan-anak-dan-remaja (Diakses; Jumat, 7 Februari 2025: Pukul 09.40 WIB)

Pradana, W. 2021. Kecanduan Game Online, 2 Bocah Cimahi Berhenti Sekolah Setahun. https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5506261/kecanduan-game-online-2-bocah-cimahi-berhenti-sekolah-setahun (Diakses; Selasa, 11 Februari 2025: Pukul 17.23 WIB)

Lawrensia, A. 2022. Usai Angkat Besi 300 Kilogram, Kaki Remaja Pria Ini Mendadak Lumpuh. https://health.okezone.com/read/2022/08/24/487/2653672/usai-angkat-besi-300-kilogram-kaki-remaja-pria-ini-mendadak-lumpuh?page=all (Diakses; Jumat, 11 Februari 2025: Pukul 17.48 WIB)

 

Tim:

Anastasiya Juli Bhayangkara Br. Purba (1)

Shellina (27)

Wina Angela (33)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?