Banjir, Polusi, Sampah: Apa yang Bisa Pelajar Lakukan Selain Mengeluh?

 

Banjir, polusi, dan sampah adalah tiga masalah lingkungan besar yang sering terjadi di kota-kota besar, khususnya di Indonesia. Banjir adalah peristiwa berlimpahnya air yang meluap hingga ke daratan yang biasanya kering, dan banjir biasanya disebabkan curah hujan yang tinggi, lelehan salju, atau masalah lain yang mengakibatkan air tak dapat diserap dengan cepat oleh tanah atau dialirkan oleh saluran air yang ada.

Banjir bisa terjadi secara tiba-tiba atau secara bertahap. Banjir yang disebabkan oleh sampah yang menyumbat saluran air menjadi salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam tersebut. Selain itu, polusi udara dan pencemaran lingkungan semakin mengkhawatirkan. Polusi udara adalah pencemaran udara oleh zat-zat berbahaya yang berasal dari berbagai sumber.

Polusi udara dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Penyebab polusi udara bisa seperti asap knalpot kendaraan, asap dari pembakaran batu bara atau gas, asap tembakau, asap pembakaran kayu, emisi dari industri, emisi dari pertanian. Masalah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi besar, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk pelajar, untuk mencari solusi. Bagi pelajar, bukan hanya sekadar mengeluh atau merasa pesimis, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi dampak buruk dari banjir, polusi, dan sampah.

Sampah merupakan masalah yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia. Tidak hanya di negara-negara berkembang, tetapi juga terdapat di negara-negara maju, sampah selalu menjadi masalah yang dihadapi. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Membuang sampah sembarangan merupakan hal yang sering para pelajar lakukan padahal membuang sampah itu tidak sulit dan selalu ada tempat sampah di sekitar para pelajar. Sampah yang di pinggir jalan lebih banyak daripada sampah di tong sampah. Akibatnya, membuang sampah sembarangan tentu saja mengakibatkan kerugian yang tidak bisa dianggap sepele. Dilansir dari smpn5satapbumijawa “Sampah di sekolah dapat menimbulkan berbagai bahaya, seperti menarik hewan pengganggu seperti tikus dan lalat, menyebabkan bau yang tidak sedap, dan memperburuk kondisi lingkungan sekitar" hal ini sangat besar dalam mempengaruhi aktivifas dan fokus siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini juga di akibatkan oleh para pelajar itu sendiri karena para pelajar banyak sekali yang sering mambuang sampah sembarangan. 

Dilansir dari pkp.pasca.ugm bahwa "Kebiasaan membuang sampah sembarangan, tidak melakukan daur ulang, dan minimnya upaya pemisahan sampah organik dan anorganik menjadi faktor besar dalam meningkatnya volume sampah. Selain itu, pendidikan lingkungan yang belum merata turut memperparah kondisi ini." Hal ini mengingatkan kembali para pelajar untuk meningkatkan kesadaran akan menjaga lingkungan.Sampah-sampah itu seharusnya dibuang ke tong sampah, dan para pelajar harus dapat memahami tentang memilah milah sampah organik dan anorganik. Setelah itu sampah akan diangkut para petugas pengangkut sampah yang nantinya dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sampah yang ada di TPA nantinya diolah atau dihancurkan dan dibentuk kembali menjadi bahan yang berguna. Dampak membuang sampah sembarangan akan merusak pemandangan, karena tumpukan sampah yang berserakan, mendatangkan bau yang tidak sedap karena sampah yang busuk tidak di buang pada tempatnya, mendatangkan banjir dengan volume air yang rendah sampai ke volume yang tinggi karena sampah yang menyumbat saluran air, mendatangkan berbagai penyakit, dan dapat mencemari lingkungan dan polusi.

Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Apa susahnya membuang sampah pada tempatnya? Hanya mengantongi sampah saja, membawa ke tong sampah, itu mudah banget dan memberikan pengaruh efek kebaikan yang besar. Pengendalian sampah yang paling sederhana dan efektif adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri sendiri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Mulailah tanamkan niat, bahwa, “aku harus membuang sampah pada tempatnya”. Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan. Peran pemerintah dalam hal ini juga sangat diperlukan, dengan peraturan- peraturan dan sanksi-sanksi yang ada, diharapkan bisa meminimalkan perusakan lingkungan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Mengapa pelajar Indonesia banyak sekali yang mengeluh akan dampak dari banjir, polusi, dan sampah? Hal ini karena dampak negatif dari banjir, polusi, dan sampah yang mempengaruhi kehidupan dan aktivitas para pelajar terutama dalam hal kesehatan, kenyamanan, dan dalam pendidikan. Banyak pelajar yang mengalami diare karena banyak air yang tercemar karena adanya sampah dan tidak di produksi dengan baik, demam berdarah yang dikarenakan banyaknya nyamuk demam berdarah yang diakibatkan dari tumpukan sampah yang tidak di buang, sesak nafas (asma) karena polusi tercemar dan udara tidak baik jika di hirup terus menerus, dan infeksi kulit yang biasanya disebabkan bakteri dan kuman yang ada di air dan digunakan para pelajar sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi dan membuat aktivitas para pelajar terhambat dan terganggu. Tidak hanya itu banyak juga pelajar yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran di sekolah, hal ini karena fasilitas sekolah serta fasilitas-fasilitas pembelajaran yang digunakan rusak karena banjir yang melanda lingkungan sekolah. Banyak juga pelajar yang mengeluh karena susahnya penggunaan pada transportasi umum maupun transportasi pribadi untuk sampai ke sekolah karena tingginya genangan air yang menghambat aktivitas para pelajar.

Secara umum banjir, polusi, dan sampah tentu saja memberikan dampak negatif bagi para pelajar yang membuat banyak sekali para pelajar yang mengeluh akan terjadinya banjir, polusi, dan sampah. Para pelajar mengeluh karena aktivitas mereka yang terhambat dan juga mereka pasti akan mengurangi kegiatan atau rutinitas mereka seperti biasa. Banjir, polusi, dan sampah juga bisa mempengaruhi ekonomi para masyarakat dan pelajar yang dibutuhkan untuk merenovasi rumah dan membeli kebutuhan medis yang digunakan untuk mengobati penaykit yang dialami para pelajar.

Para pelajar dapat melakukan hal-hal positif selain mengeluh untuk menangani atau juga mencegah terjadinya banjir, polusi, dan sampah yang pasti mengganggu para pelajar dan masyarakat sekitar. Seperti menanam pohon yang bisa mengurangi polusi pada udara dan menciptakan lingkungan yang segar dan asri, menerapkan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) yang bisa mengurangi sampah dengan mendaur ulang, menggunakan kembali, dan mengurangi penggunaan sampah serta membuang sampah pada tempatnya, meningkatkan kesadaran tentang lingkungan agar polusi tidak tercemar dan lingkungan tetap terjaga, dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Para pelajar dapat menggunakan sepeda atau transportasi umum terlebih lagi untuk para pelajar yang belum mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), pelajar juga harus dapat mengurangi sampah plastik seperti menggunakan botol minum yang bisa digunakan ramah lingkungan dan dapat berulang kali di pakai, serta berkontribusi dalam pembersihan lingkungan seperti kegiatan gotong royong di komplek sekitar atau mengikuti gotong royong di dareah yang membutuhkan bantuan dengan membersihkan saluran air yang dipenuhi sampah.

Fakta menunjukkan bahwa banyak sekali pelajar yang mengeluh akan terjadinya banjir, polusi, dan sampak yang memberikan mereka dampak negatif dan menghambat kegiatan dan aktivitas mereka sehari-hari. Tetapi tidak sedikit juga pelajar yang sadar akan lingkungan yang harus di jaga agar banjir, polusi, dan sampah itu tidak terjadi. Banyak pelajar yang jadi senang mempelajari alam seperti menanam pohon, menggunakan transportasi umum bersama teman- teman yang bisa membuat mereka menjadi lebih akrab satu sama lain dan menggunakan sepeda sehingga menghemat uang jajan yang telah diberikan orang tua, mengurangi sampah plastik dan menghemat dengan menggunakan barang yang bisa digunakan berulang kali, dan ikut serta dalam kegiatan gotong royong yang bisa menumbuhkan rasa solidaritas dalam diri mereka masing-masing serta menambah banyak relasi dan koneksi di masyarakat mau mun sekolah, yang dapat membawa dampak positif bagi pelajar kedepannya. Jadi para pelajar melakukan banyak aktivitas, menambah pengetahuan, dan tidak hanya mengeluh dengan kondisi, fakta yang tidak dapat berubah jika tidak di lakukan hal hal yang berguna, sehinga pentingnya kepekaan, kerja otak pelajar di masa ini dapat membantu orang tua dalam menyelesaikan masalah dan bukan nya mengeluh.

Dari pembahasan yang ada maka para pelajar sudah seharusnya sadar akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar agar tidak menimbulkan berbagai hal negatif yang bisa merugikan diri mereka sendiri dan dapat mencegah dan menangani hal-hal yang terjadi pada saat banjir, polusi, dan sampah. Selain mengeluh para pelajar bisa melakukan berbagai hal positif agar bisa menciptakan lingkungan yang asri dan segar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti banjir dan penyakit yang datang dari kuman dan bakteri akibat tumpukan sampah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Climate Reality Project. (2020). Climate Change and Its Impact on the Environment.

https://www.climaterealityproject.org. (20.08, 6-2-2025)

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2022). Kebijakan Pengelolaan Sampah dan Peran Masyarakat. https://www.menlhk.go.id. (20.10, 6-2- 2025)

SMP Negeri 5 Satu Atap Bumijaya. (2032).

https://www.smpn5satapbumijawa.sch.id/read/19/mengolah-sampah-di-sekolah. (21.20, 8-2-2025)

Universitas Gadjah Mada (UGM). (2024). https://pkp.pasca.ugm.ac.id/2024/09/30/semakin- mendesak-isu-sampah-kembali-menjadi-sorotan. (21.25, 8-2-2025)

World Health Organization (WHO). (2021). Air pollution. https://www.who.int/news- room/fact-sheets/detail/air-pollution. (21.00, 6-2-2025)

 

 

 Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.

Tim:

Joshua Buntaran (20)

Lionel lo (23)

Yemima Aurellia Br. Ginting (32)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?