Antara K-pop dan Wayang: Masihkah Anak Muda Peduli dengan Budaya Lokal?

Pada zaman modern ini budaya semakin beragam akibat dari globalisasi. Banyaknya masuk budaya asing ke Indonesia dan kalangan muda yang semakin tertarik untuk mengikuti budaya tersebut. Salah satu budaya yang telah masuk ke Indonesia yakni, K-pop. Budaya K-pop atau Korean Pop adalah budaya musik yang berasal dari Korea Selatan yang mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti music, video , tarian, dan fashion. Budaya ini mendominasi budaya anak muda sebab ia memiliki strategi pemasaran modern dengan music yang catchy, video-video yang mudah di akses, koreografi yang memukau, serta interaksi idola dan penggemar yang intens. 

Pada masa kini, budaya-budaya asli Indonesia peninggalan nenek moyang sudah banyak yang ditinggalkan oleh Masyarakat terutama para remaja karena pengaruh globalisasi dengan datangnya budaya korea yaitu musik K-pop. Salah satu budaya yang terdampak oleh perubahan tersebut adalah budaya wayang kulit dari Indonesia. Padahal kalau di luar negeri banyak orang yang rela membayar mahal untuk mempelajari budaya ini karena wayang sudah resmi  ditetapkan sebagai World Heritage pada 7 november 2003 oleh UNESCO. Wayang ditinggalkan para kalangan muda karena kesannya yang tradisional dan bisa dianggap kampungan oleh teman-teman yang sudah banyak mengikuti budaya ke korea-korean. Wayang juga seringkali terbatas pada acara tertentu dan jarang dipromosikan dengan digital. Bahasa dalam cerita Wayang sering kali masih menggunakan Bahasa tua atau Bahasa daerah yang tidak dipahami anak anak muda. Alhasil Wayang perlahan-lahan menghilang dari eksistensi. Telah muncul kekhawatiran bahwa budaya asli Indonesia akan digeser budaya-budaya luar seperti oleh K-Pop, hal ini jika dibiarkan terus menerus akan mengancam keberlangsungan budaya-budaya lokal Indonesia. 

Sebagai Masyarakat Indonesia seharusnya kita mencintai dan mengembangkan budaya kita sendiri serta memperkenalkan budaya kita kepada muka dunia sehingga budaya kita dicintai Masyarakat dunia. Perubahan-perubahan yang cepat membuat beberapa kelompok masyarakat semakin sadar akan peralihan budaya ini, beberapa kelompok Masyarakat tersebut mulai menyebarkan kesadaran terhadap masalah ini. Terutama mereka yang dari bidang “Pelestarian Budaya Lokal.” Pro dan Kontra muncul, kejadian tentang pergeseran budaya ini membuat beberapa anak muda sadar akan pelestarian budaya lokal tetapi juga ada beberapa yang lebih memilih untuk mengikuti budaya luar seperti K-Pop. 

Anak muda sekarang, setelah diperhatikan ternyata sebagian besar masih peduli pada budaya lokal seperti wayang, hanya saja mereka menghadapi berbagai macam tantangan atau persoalan-persoalan saat berusaha melestarikan budaya lokal. Persoalan paling umumnya adalah dikarenakan banyaknya pilihan-pilihan yang ditujukan bagi para anak muda ini yang disebabkan oleh kemajuan teknologi yang memberikan mereka banyak pengetahuan akan budaya luar serta perubahan sosial Dimana budaya yang baru itu biasanya akan selalu dianggap lebih menarik dan Trendy. 

Anak muda harusnya dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu melestarikan budaya lokal. Seperti dengan membuat tren di sosial media yang melibatkan budaya lokal, membaca literasi yang berhubungan dengan budaya lokal yang menarik, mempromosikan budaya lokal Indonesia yang menarik agar budaya budaya seperti wayang yg terbukti merupakan budaya Indonesia yang patut dibanggakan akan keragaman, keunikan, dan moral moal sosial yang terkandung didalamnya, dapat menjadi sesuatu yang akan selalu diingat Masyarakat Indonesia terutama di kalangan kaum muda. 

Upaya-upaya pelestarian budaya wayang juga dapat dilakukan oleh pemerintah, pemerintah dapat menyelenggarakan festival festival budaya dan mendanai berbagai lomba. Bisa juga dengan berusaha mempromosikan Wayang melalui inovasi digital ataupun bernuansa modern yang menggunakan media seperti animasi, film, lagu yang akan diposting dengan format media sosial seperti video pendek. 

Contoh penerapan inovasi pada budaya lokal yang telah diterapkan adalah bagaimana Yura Yunita menetapkan sebuah dresscode di konsernya untuk menerima budaya lokal dan mengenalkan budaya lokal bagi para penonton konsernya. Dari apa yang telah dilakukan olehnya, dapat disimpulkan bahwa anak muda bisa menerima budaya lokal asalkan hal ini menjadi sebuah tren yang berjangka panjang. Konser Bingah dan tren dresscode check yang dilakukan oleh Yura Yunita dan penggemarnya telah membuka mata bagi anak muda untuk menerima budaya lokal.

Ternyata anak muda zaman sekarang tidak benar-benar meninggalkan budaya lokal. Budaya lokal tersebut hanya kalah saing dengan budaya yang lebih Trendy. Jika budaya lokal bisa beradaptasi seperti halnya K-Pop, maka budaya lokal seperti Wayang akan bisa Kembali menjadi popular di kalangan anak muda. Budaya lokal adalah identitas kita. Tanpa itu, kita hanya akan terseret di tengah arus globalisasi yang terus bergerak. Budaya tradisional dan budaya Modern sebenarnya tidak harus bersaing. Sebaliknya, keduanya bisa saling melengkapi dan berkembang Bersama. Tugas kita adalah memastikan bahwa budaya lokal tetap hidup selama mungkin dengan cara relevan dan menarik bagi masa kini. Tugas menjaga budaya ini tidak hanya berada di tangan pemerintah atau lembaga, tetapi juga kita sebagai individu. Jadi, mari kita mulai dari hal kecil. Tunjukkan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari masa depan kita.



DAFTAR PUSTAKA

Ibad Faisal. M. 2024. Generasi Muda dan Budaya Lokal:Masihkah Kita Peduli? https://www.kompasiana.com/muhammadfaisal801740/676cc25834777c625f5e2a22/generasi-muda-dan-budaya-lokal-masihkah kitapeduli?page=2&page_images=1 (Diakses pada: Sabtu, 8 Febuari 2025 p ukul 09.27) 
Mawatdah Depi. 2022. Pengaruh Budaya K-pop Terhadap Perubahan Gaya Hidup Mahasiswa. https://repository.arraniry.ac.id/id/eprint/25447/1/Depi%20Mawa tdah,%20170305013,%20FUF,%20SA.pdf  (Diakses pada: Sabtu, 8 Febuari 2025 pukul 09.02 WIB)
Nahak. I. M. Hildigardis. 2019. Upaya Melestarikan Budaya Indonesia Di Era Globalisasi. https://ejournal.unib.ac.id/jsn/article/view/7669/pdf  (Diakses pada: Sabtu, 8 Febuari 2025 pukul 09.44)

Pembimbing: Rolah Sri Rejeki Situmorang, M.Pd.
Tim:
1. Angelique Therecia ( 4 )
2. Johnbertus Wilano R. T (19)
3. Nathania (26)
4. Vincent (32)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?