Mengenai Filsafat, Kaya atau Bahagia? Mana yang Lebih Penting dalam Hidup?

 

Dalam kehidupan, manusia terkadang diberi pilihan untuk memilih antara kebahagiaan atau kekayaan. Kekayaan dan kebahagiaan sendiri merupakan dua aspek yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia, dengan adanya uang kita dapat membeli sebagian dari kebahagiaan akan tetapi, tidak semua hal dapat dibeli menggunakan uang, maksudnya disini, dengan adanya uang kita bisa membeli suatu barang atau hal-hal yang kita inginkan sedari dulu, contohnya seperti mobil, motor, gadget dan lain-lainnya. Kebahagiaan sendiri tentu kita Sebagai manusia kebahagiaan merupakan suatu hal yang penting, karena dengan kaya saja belum tentu menjamin kebahagiaan. Dan sebaliknya kebahagian belum tentu bisa mencapai kekayaan.

Secara umum kekayaan dan kebahagiaan memiliki definisi yang berbeda. Kaya sendiri dapat diartikan sebagai kepemilikan atas sejumlah besar harta benda, uang, aset, dan lain-lainnya. Selain itu definisi dari Kaya menurut Seneca, orang yang sejati kaya adalah mereka yang dapat menemukan kepuasan dalam hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bahagia sendiri merupakan keadaan emosi yang positif, di mana seseorang merasa senang, puas, dan menikmati hidupnya. Meskipun definisi dari Bahagia menurut Plato adalah keadaan kesejahteraan dan kemakmuran yang dihasilkan dari menjalani kehidupan yang bermoral, bijaksana, dan disiplin diri.

Sebagai manusia, terkadang kita selalu mengaitkan kekayaan dengan hal-hal berupa materi dalam bentuk uang, barang mahal, dan juga segala sesuatu yang dapat kita beli dengan uang. Untuk kebahagiaan sendiri merupakan suatu keadaan manusia merasa puas akan sesuatu ditandai dengan perasaan puas dan bahagia. Selain itu masyarakat juga memiliki pandangan tersendiri mengenai definisi kebahagiaan dan juga kekayaan. Secara umum menurut masyarakat kekayaan sendiri merupakan tujuan utama dalam hidup. Masyarakat percaya bahwa dengan memiliki banyak uang, mereka dapat mencapai kebahagiaan, kebebasan, dan status sosial yang tinggi. Tetapi tidak jarang juga orang yang sudah mendapat kekayaan seperti yang mereka inginkan tetapi tidak bahagia, contoh kasus artis-artis yang sudah mendapatkan kekayaaan banyak yang tidak bahagia dan mendapat berbagai tekanan hidup yang ujung ujungnya mengakhiri hidup. Kekayaan sering diukur dari jumlah uang, properti, dan aset berharga lainnya yang dimiliki seseorang. Apabila kebahagiaan menurut masyarakat sekarang umum adalah tujuan utama dalam hidup. Mereka berusaha untuk mencapai kebahagiaan melalui berbagai cara, seperti memiliki keluarga yang bahagia, pekerjaan yang sukses, hubungan yang sehat, atau mencapai tujuan pribadi.

Kita tentu sudah mempunyai definisi masing masing mengenai kekayaan dan kebahagiaan, dari kedua hal tersebut merupakan konteks yang tidak luput dari kehidupan manusia, masing masing mempunyai peran yang penting. Kekayaan sendiri sering didefinisikan dengan kemampuan seseorang dalam finasial atau materi, terlebih lagi dengan adanya kekayaan, kita mampu memenuhi kebutuhan dasar atau pokok, seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan terlebih lagi apabila kita sudah menjalani kehidupan berkeluarga, kita dituntut untuk memberi banyak kebutuhan, dengan adanya kekayaan akses untuk menunjang pendidikan lebih baik untuk masa depan, dan juga adanya kekayaan membuat kita memperoleh benefit rasa aman tanpa perlu mengkhawatirkan keselamatan, apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga dalam kehidupan tidak perlu khawatir, karena untuk mengakses fasilitas rumah sakit tidaklah sulit, terlebih lagi rumah sakit pada zaman sekarang menggelompokkan berbagai golongan.

Namun, kekayaan tidak selalu menjamin kebahagiaan karena kebahagiaan adalah konsep kompleks dan multidimensi terlebih lagi kebahagiaan merupakan subjektif, kita sebagai manusia memiliki kecenderungan alami untuk kembali ke tingkat kebahagiaan dasar mereka setelah mengalami perubahan positif atau negatif dalam hidup. setelah kita mendapat kekayaan, mungkin kita akan merasa senang untuk sementara waktu, tetapi lama-kelamaan akan terbiasa. Faktanya dengan adanya kekayaan dapat menimbulkan tekanan dan stress, karena kekayaan, kita sebagai manusia tidak akan puas, selalu menimbulkan perasaan tidak puas dan tidak cukup akan pencapaian kita terlebih lagi, kita mendapat tekanan untuk mempertahankan status tersebut, sehingga banyak orang yang sudah bisa dikatakan kaya cenderung mengalami tekanan dan stress.

Dengan adanya kebahagiaan sering dikaitkan dengan hubungan yang baik dengan keluarga, teman, kesehatan mental dan fisik, kebahagiaan tentu memberikan dampak positif kepada kesehatan mental dan fisik kita. Ketika kita merasa bahagia, tubuh kita cenderung lebih rileks, mengurangi stress, dan meningkatkan kualitas tidur. Hal ini dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh, mengurangi risiko penyakit, dan memberikan keseimbangan emosional. Sehingga dua aspek ini merupakan aspek yang penting, karena dengan adanya kekayaan, banyak hal yang bisa dipenuhi sehingga kita tidak kesulitan akan memenuhi hal pokok dan barang yang kita inginkan, namun, kedua hal antara kebahagiaan dan kekayaan memiliki korelasi dengan adanya kekayaan tentu seseorang juga menerima banyak tekanan akan mempertahankan kekayaan tersebut, tapi dengan kebahagian banyak menimbulkan dampak positif akan hal ini, dengan adanya kebahagiaan kita lebih bisa mengurangi dampak stress dan menjaga kesehatan.

Para filsuf berpendapat, kekayaan tidak selalu berarti memiliki uang atau harta benda. Misalnya, Aristoteles, filsuf Yunani kuno, menyatakan bahwa kekayaan sejati terletak pada kebajikan dan kebahagiaan yang didapat dari hidup yang penuh makna. Dikutip dari pernyataan Aristoteles, Nicomachean Ethics, Ia mengatakan, "kekayaan yang sesungguhnya adalah jiwa yang kaya akan kebajikan, bukan dompet yang dipenuhi uang". Pandangan ini menunjukkan bahwa kekayaan yang sebenarnya berasal dari pengembangan diri, hubungan baik dengan orang lain, dan pencapaian tujuan hidup yang lebih mulia. Jadi, kekayaan tidak hanya dinilai dari materi, tetapi juga dari kualitas hidup dan kepuasan batin yang kita rasakan.

Kekayaan dan kebahagiaan adalah dua aspek penting dalam kehidupan, namun keduanya memiliki makna dan peran yang berbeda. Dengan adanya kekayaan memberikan kemudahan dalam kebutuhan hidup, memberikan aman secara finasial, dan membuka peluang untuk mencapai tujuan pribadi, Sementara itu, kebahagiaan adalah kondisi emosional yang berasal dari perasaan syukur, hubungan yang bermakna, serta pencapaian tujuan hidup sesuai dengan nilai-nilai pribadi, kebahagiaan sejati tidak selalu bergantung pada kekayaan. karena kebahagiaan dapat ditemukan melalui hubungan sosial, pengalaman hidup, dan pencapaian pribadi yang tidak selalu terkait dengan materi.

Kekayaan sendiri merupakan suatu hal yang didambakan oleh semua manusia. Kita beranggapan bahwa dengan kekayaan segala sesuatu dapat kita capai dan kita raih. Tapi apakah benar segala sesuatu memiliki harga yang dapat dibeli? Dengan adanya kekayaan segala kebutuhan hidup kita baik kebutuhan sandang, pangan, dan pokok dapat kita beli. Tidak hanya itu di era industri 4.0 banyak sekali  kebutuhan manusia yang harus kita peroleh diakibatkan oleh kemajuan teknologi yang memaksa kita untuk selalu cepat dalam melakukan sesuatu sehingga harus membeli barang atau jasa yang membantu mobilitas kehidupan kita.

Kekayaan sendiri dapat menjamin kehidupan kita menjadi lebih baik dan memfasilitasi gaya hidup kita. Hal ini dikarenakan segala kebutuhan dan keinginan kita dapat terpenuhi sehingga kita  merasakan kebahagiaan sendiri itu sendiri. Dilansir dari CBS News, "Dengan kata lain, penelitian baru dari Matthew Killingsworth, peneliti senior di Wharton School, University of Pennsylvania, menunjukkan bahwa semakin banyak uang yang Anda miliki, semakin bahagia Anda — dan mungkin tidak ada batasan."

Pengaruh globalisasi dan sosial media menciptakan gaya hidup hedonisme dan juga materialisme. Gaya hidup hedonisme cenderung berkaitan dengan budaya konsumtif. Orang-orang yang menganut gaya hidup hedonisme akan menghabiskan uang tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau manfaatnya.  Sementara itu, materialisme lebih menekankan pada pentingnya kepemilikan benda-benda atau kekayaan materi sebagai sumber kebahagiaan dan kesuksesan. Hal tersebut diperkuat dengan adanya trend di media sosial yang membuat kita menjadi konsumtif dan ingin memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar diperlukan oleh kita. Sehingga kekayaan menjadi suatu kunci untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri.

Banyak orang menganggap kekayaan sebagai kunci kebahagiaan, namun kebahagiaan sejati tidak selalu bergantung pada materi. Uang memang dapat memberikan kenyamanan dan kesenangan sesaat, tetapi tidak menjamin kebahagiaan jangka panjang. Kebahagiaan sejati berasal dari dalam diri, seperti ketulusan, rasa syukur, cinta, dan hubungan yang bermakna dengan orang lain. 

Filsuf seperti Socrates dan Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan diperoleh melalui kebajikan dan kehidupan yang bermakna, bukan dari kekayaan. Socrates menekankan bahwa kebahagiaan adalah hasil dari menjalani hidup dengan benar, sementara Aristoteles mengaitkannya dengan pengembangan karakter dan akal budi. 

Pada era modern, banyak orang terjebak dalam kepuasan semata, di mana mereka terus mengejar lebih banyak materi tanpa pernah merasa cukup. Padahal, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli, melainkan perjalanan yang melibatkan pertumbuhan pribadi dan hubungan yang bermakna. Sehingga, kebahagiaan tidak bergantung pada kekayaan, tetapi pada bagaimana seseorang menemukan makna, bersyukur, dan menjalani hidup dengan nilai-nilai yang kuat.

Beberapa bentuk kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan, contohnya kedamaian batin, kedamaian batin adalah perasaan tenang, bebas dari kecemasan, dan damai dengan diri sendiri, mengapa kedamaian batin tidak dapat dibeli, karena kekayaan tidak bisa menghilangkan rasa cemas, rasa bersalah, atau ketidakpuasan diri yang dating dari dalam. Kedua adalah cinta dan kasih sayang yang tulus, cinta yang murni, baik dari pasaangan, keluarga, atau teman sejati, tentunya tidak bisa dibeli dengan kekayaan itu sendiri, terlebih lagi dalam sebuah hubungan yang dibangun berdasarkan materi cenderung rapuh. Ketiga, makna dan tujuan hidup, makna hidup tentu harus ditemukan dan diciptakan sendiri melalui pengalaman, refleksi, dan kontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, faktanya banyak tokoh kaya justru merasakan hampa karena merasa hidup mereka tidak memiliki arah, meskipun materi berlimpah.

Keempat, perasaan syukur yang mendalam, rasa syukur membawa kebahagiaan karena kita mampu menghargai apa yang kita miliki, Sebagian orang yang sudah mencapai kekayaan seringkali merasa tidak cukup atas pencapaiannya dan selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kelima, Kebebasan diri dengan adanya kebebasan untuk berpikir, membuat keputusan, dan menjalani hidup sesuai dengan kehendak pribadi. Rasa bebas sejati datang dari keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa terikat pada ekspetasi orang lain.

Kekayaan mungkin bisa membeli kenyamanan, tetapi tidak bisa membeli kedalaman emosi, makna, atau hubungan manusia yang sejati. Kebahagiaan sejati lebih sering ditemukan dalam kesederhanaan, pengalaman hidup dan hubungan yang tulus, kebahagiaan sejati tidak tergantung pada kekayaan materi. Kebahagiaan berasal dari dalam diri, dari hubungan yang kita jalin, dan dari cara kita menjalani hidup dengan nilai-nilai moral yang kuat.

Dari kedua aspek kekayaan dan kebahagiaan merupakan dua aspek penting dalam kehidupan, namun keduanya memiliki makna dan peran yang berbeda. Dengan adanya kekayaan memberikan kemudahan dalam kebutuhan hidup, memberikan keamanan secara finasial, dan membuka peluang untuk mencapai tujuan pribadi, Kekayaan sendiri dapat menjamin kehidupan kita menjadi lebih baik dan menfasilitasi gaya hidup kita. Hal ini karena segala kebutuhan dan keinginan kita dapat terpenuhi sehingga kita merasakan kebahagiaan sendirian itu sendiri.  Kebahagiaan sejati lebih sering ditemukan dalam kesederhanaan, pengalama hidup dan hubungan yang tulus, kebahagiaan sejati tidak tergantung pada kekayaan materi. Kebahagiaan berasal dari dalam diri, dari hubungan yang kita jalin, dan dari cara kita menjalani hidup dengan nilai-nilai moral yang kuat.

 

Daftar Pustaka

Anonim. Can Money Buy Happiness? This Could Be the Key. https://wealthfactory.com/articles/can-money-buy-happiness-this-could-be-the-key/?srsltid=AfmBOopkP9rfDPoa0m2BjoaU5xPWYxJLOvY8FLPYUMHWW6p7ZRyvlloX. (Diakses ; pada tanggal 4 Februari 2025: pukul 19.56)

Diener, E., & Biswas-Diener, R. (2002). Will money increase subjective well-being? https://www.pnas.org/content/107/38/16489. (Diakses ; pada tanggal 4 Februari 2025: pukul 19.10)

Lama, Dalai & Tutu, Desmond. (2016). The Book of Joy: Lasting Happiness in a Changing World. https://www.goodreads.com/book/show/29496404-the-book-of-joy. (Diakses ; pada tanggal 4 Februari 2025: pukul 19.19)

Picchi Aimee. (2024). Yes, money can buy happiness — the more wealth you have, the happier you get, research finds. https://www.cbsnews.com/news/money-buys-happiness-study-finds-rich-are-happier-research/. (Diakses ; pada tanggal 4 Februari 2025: pukul 19.30)

Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on hedonic and eudaimonic well-being. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.52.1.141. (Diakses ; pada tanggal 4 Februari 2025: pukul 19.15)

 

Tim

1.   Bryan Bernando (4)

2.   Iren Meliani Taslim (19)

3.   Wulan Destalia (31)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunset di Kalimantan

Sekolah Tanpa PR: Efektif atau Mengurangi Disiplin Belajar?

Belajar dari Masa Lalu: Apakah Sejarah Masih Relevan untuk Generasi Masa Sekarang?