Mengapa Anak Muda Apatis Terhadap Politik?
Sikap apatis umumnya
kita jumpai di kalangan anak-anak muda. Sikap apatis ini muncul dari kaum muda-mudi
yang berusia rata-rata 17 tahun keatas. Dikarenakan banyak anak muda
beranggapan bahwa terlibat dalam dunia politik adalah hal yang tidak penting
karena dianggap sebagai permainan para petinggi politik. Sikap apatis ini
biasanya terjadi di negara-negara demokrasi yang biasanya disi oleh orang-orang
yang mengerti tentang politik.
Sikap apatis terhadap
politik ini terjadi sejak awal masa reformasi, di mana pemerintah pada saat itu
sering melakukan tindakan korupsi yang merugikan negara. Hingga saat ini,
tindakan korupsi masih sering terjadi, yang terhitung dari tahun ke tahun, tingkat
kegiatan korupsi semakin tinggi yang membuat anak-anak muda kurang percaya pada
pemerintah. Anak-anak muda zaman sekarang juga lebih berfokus pada kegiatan
sosial media mereka, hal ini juga berdampak buruk bagi masa depan bangsa karena
tidak ada penerus yang terlibat dalam kemajuan negara di bidang politik. Dalam
kegiatan politik saat ini, hanya sedikit anak muda yang terlibat dalam kegiatan
demokrasi, hal ini juga menjadi sebuah ancaman bagi bangsa yang demokratis.
Contohnya saja, masih
banyak generasi muda yang acuh tak acuh dalam politik dengan memutuskan untuk
golput, hal ini berarti mereka enggan untuk ikut berpartisipasi dalam proses
politik di Indonesia, padahal satu suara saja dapat menentukan nasib bangsa kedepannya. Hal itu
terjadi karena kaum muda masih menilai politik itu rebutan kekuasaan, urusan
orang tua, penuh dengan korupsi, serta janji-janji politik sehingga mereka
enggan masuk ke dunia politik dan menjadi apatis dalam politik. Terlebih lagi, anak-anak
muda akan memasuki tahun-tahun politik.
Politik sebenarnya
bukan hal yang asing, tetapi akhir-akhir ini semakin banyak dibicarakan oleh anak
muda. Sayangnya, masih ada yang menganggap politik itu sesuatu yang rumit,
tidak terlalu penting, atau bahkan tidak berdampak langsung pada kehidupan
mereka. Padahal, politik adalah dunia yang terus berkembang, penuh tantangan,
dan menjadi wadah untuk menyampaikan gagasan serta membangun masa depan yang
lebih baik. Pemahaman seperti ini perlu terus diperkuat agar demokrasi tetap
berjalan dengan baik dan tidak melemah.
Banyak anak muda dianggap
kurang peduli terhadap politik. Padahal, mereka punya peran besar dalam
menentukan arah masa depan bangsa. Namun, sebelum menyalahkan sikap apatis ini,
kita perlu memahami dulu apa saja faktor yang membuat minat anak muda terhadap
politik masih rendah.
Fenomena rendahnya keterlibatan
politik di kalangan pemuda seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka tidak
peduli terhadap urusan negara. Namun, jika diteliti lebih jauh, sikap “apatis”
tersebut tidak selalu berarti ketidakpedulian, melainkan mencerminkan rasa
kecewa dan adanya hambatan struktural dalam sistem politik saat ini. Salah satu
penyebab utamanya adalah terbatasnya pendidikan politik yang diterima oleh
pemuda. Di banyak sekolah, materi tentang demokrasi, sistem pemerintahan, serta
hak dan kewajiban warga negara diajarkan secara minim, sehingga mereka kurang
memahami cara berpartisipasi secara efektif dalam politik. Akibatnya, anak-anak
muda sering menganggap politik sebagai urusan generasi terdahulu atau elit
semata.
Menurut data dari Centre for
Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa hanya sekitar
14,6% pemuda yang berminat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan
14,1% yang ingin menjadi kepala daerah. Angka ini menggambarkan bahwa mayoritas
anak-anak muda merasa dunia politik tidak sesuai dengan aspirasi mereka,
sehingga mereka memilih untuk tidak terjun langsung ke dunia politik.
Kekecewaan terhadap praktik-praktik yang penuh dengan kasus korupsi, nepotisme,
dan janji-janji kosong juga turut mendorong sikap apatis ini. Berita-berita
negatif yang beredar melalui media membuat mereka merasa bahwa sistem yang ada
tidak mampu mewakili kepentingan secara adil, sehingga partisipasi secara politik
pun cenderung dihindari.
Selain itu, peran media sosial dalam
menyebarkan informasi politik memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial
memudahkan pemuda untuk mengakses berita dan berdiskusi tentang politik secara
cepat. Namun, di sisi lain, seringkali informasi yang beredar belum
terverifikasi dan cenderung negatif, yang menambah keraguan mereka untuk
terlibat lebih jauh. Kendala dana juga menjadi faktor penting, terutama bagi anak
muda yang ingin mencalonkan diri atau aktif dalam organisasi politik. Biaya
kampanye yang tinggi dan persaingan dengan elit politik yang memiliki sumber
daya besar membuat mereka merasa sulit untuk memasuki dunia politik yang telah
mapan.
Kondisi ekonomi yang tidak stabil
turut memengaruhi minat pemuda dalam berpolitik. Banyak di antara mereka yang
lebih memprioritaskan pencarian pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari,
sehingga partisipasi dalam urusan politik dianggap kurang mendesak dibandingkan
tantangan ekonomi yang harus dihadapi.
Menurut filsuf Jean-Paul Sartre,
setiap individu bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya. Dengan
demikian, sikap apatis dalam politik seharusnya dilihat bukan sebagai
ketidakpedulian, melainkan sebagai cerminan kekecewaan terhadap sistem yang
belum mampu memenuhi aspirasi pemuda. Malahan, mereka memiliki potensi besar
untuk mengubah keadaan jika diberikan ruang dan dukungan yang tepat. John
Dewey, seorang filsuf pragmatis, juga menekankan bahwa demokrasi bukan hanya
sistem pemerintahan, melainkan sebuah cara hidup yang menuntut partisipasi
aktif dari setiap warga. Menurutnya, tindakan kecil seperti mengemukakan
pendapat melalui petisi, kampanye daring, atau aksi sosial merupakan bentuk
keterlibatan politik yang sah dan penting demi menjaga agar demokrasi tetap
hidup.
Kurangnya representasi anak-anak muda
dalam struktur politik turut menimbulkan rasa keterasingan. Ketika aspirasi dan
kebutuhan mereka tidak diakomodasi oleh para pemimpin, banyak anak muda pun
merasa bahwa peran mereka tidak dihargai. Aristoteles pernah menyatakan bahwa
politik adalah seni mencapai kebaikan bersama, sehingga partisipasi aktif anak-anak
muda sangat krusial untuk mewujudkan tujuan tersebut. Selain itu, minimnya
interaksi antara anak muda dan elit politik yang menambah ketidakpercayaan
mereka terhadap sistem yang ada, sehingga mereka semakin enggan untuk ikut
serta dalam pengambilan keputusan yang dirasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di era digital saat ini, peran media
sosial menjadi sangat penting. Meskipun platform ini memberi kesempatan bagi anak
muda untuk menyuarakan pendapat dan melakukan gerakan sosial, seringkali media
sosial juga dipenuhi dengan berita sensitif dan informasi yang belum tentu
benar. Kondisi ini dapat menimbulkan pesimisme dan membuat anak-anak muda
menganggap politik sebagai pertarungan kekuasaan yang tidak produktif. Penting
untuk diingat bahwa partisipasi politik tidak selalu harus diwujudkan melalui
pencalonan atau keikutsertaan dalam partai politik. Banyak pemuda yang aktif
melalui jalur nonformal, seperti mengikuti petisi, berdiskusi di forum daring,
atau terlibat dalam gerakan sosial yang fokus pada isu lingkungan, pendidikan,
dan keadilan sosial. Bentuk partisipasi ini sama pentingnya dan berpotensi
membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Pendidikan politik harus ditingkatkan
agar anak-anak muda dapat memahami secara mendalam cara kerja sistem politik
serta hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Dengan pemahaman yang
lebih baik, diharapkan mereka tidak hanya menjadi penonton, melainkan agen
perubahan yang aktif dalam menciptakan politik yang bersih dan berkeadilan,
serta perlu upaya untuk mengubah persepsi negatif yang melekat pada dunia
politik. Alih-alih dianggap sebagai tempat yang penuh dengan kecurangan dan
konflik, politik seharusnya dipandang sebagai wadah untuk mewujudkan kebaikan
bersama. Seperti yang disampaikan Najwa Shihab, politik adalah tentang
menggunakan kekuatan kolektif untuk mendorong para penguasa mendengarkan
aspirasi rakyat.
Pada akhirnya, sebagai generasi
penerus bangsa, anak-anak muda memiliki tanggung jawab besar untuk turut serta
dalam proses demokrasi. Walaupun banyak tantangan yang harus dihadapi, dengan
partisipasi aktif mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki sistem politik
dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Seperti ungkapan Soekarno, “Beri
aku sepuluh pemuda, maka aku akan menggoncangkan dunia,” yang mengingatkan kita
bahwa semangat dan kreativitas dari anak-anak muda sangatlah penting untuk
mengarahkan kebijakan demi kebaikan bersama. Dengan demikian, meskipun secara
formal anak-anak muda tampak apatis terhadap politik, sebenarnya mereka
memiliki cara tersendiri untuk menyuarakan pendapat dan menuntut perubahan.
Tantangan ke depan adalah menciptakan ruang dan sistem yang mampu mengakomodasi
potensi serta aspirasi anak-anak muda, sehingga politik tidak lagi dianggap
sebagai ranah elit, melainkan sebagai media partisipasi untuk kemajuan bangsa.
Dengan begitu sikap apatis, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam politik, seharusnya tidak dianggap sebagai hal yang wajar. Karena anak-anak
generasi muda memiliki peran penting yaitu sebagai pewaris bangsa, dan harus
partisipasi aktif dalam politik karena itu merupakan salah satu kunci untuk
memajukan bangsa. Generasi muda yang apatis disebabkan karena mereka acuh tak
acuh dan tidak tertarik dengan dunia politik.
Harapannya, generasi muda harus menyadari bahwa suara mereka
memiliki dampak yang besar terhadap kehidupan. Hak bersuara harus digunakan
dengan baik. Sudah sepantasnya anak muda membuka wawasan politik dengan lebar
agar apapun opini publik yang diberikan tidak menelannya dengan mentah-mentah. Partisipasi
dan kesadaran bagi kalangan anak muda harus dilandasi dengan tujuan bersama.
Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda harus pintar dalam memilih pemimpin
negeri kita sendiri, jangan memilih pemimpin yang hanya mampu bermodalkan uang
untuk mendapatkan kursi kekuasaan tanpa menjalankan kewajibannya.
Dikutip dari jatim.nu.or.id (2024), “Pemerintah
dapat berperan dengan menyediakan akses dan fasilitas yang memadai bagi pemuda
untuk terlibat dalam kegiatan politik. Pendidikan dan sosialisasi politik perlu
ditingkatkan, dan generasi muda perlu dibina agar mampu menyaring informasi
politik dengan baik. Partisipasi aktif generasi muda dalam memberikan masukan
kepada pemerintah sangat penting untuk menjaga persatuan bangsa.”
Politik pada dasarnya bukan hanya soal kekuasaan semata tapi
politik terwujud dalam kehidupan sehari-hari kita. Tentu tidak semua generasi
muda harus aktif berpolitik, tetapi demokrasi di Indonesia yang berkualitas
akan terwujud ketika generasi muda mampu menggunakan haknya dalam berpolitik,
yaitu memilih dan menyampaikan aspirasinya di hadapan publik. Jika sikap apatis
dapat dihilangkan dalam diri kita masing-masing sebagai anak-anak muda, maka
akan terjadi perubahan dalam politik yang akan berubah ke arah yang lebih baik
dan itu yang akan menjadi semangat generasi muda dalam berjuang untuk bangsa
Indonesia ini dan melahirkan generasi yang berguna bagi bangsa dan negara
dengan kepemimpinan yang baik dan jujur dalam berpolitik.
Daftar Pustaka
Fajariansyah
Muhammad. 2024. Apatis Politik atau Realitas Pahit? Menakar Faktor-Faktor
yang Mendorong Rendahnya Minat Berpolitik pada Generasi Muda Indonesia.https://www.kompasiana.com/muhammadfajariansyah5396/66589291c925c414b8737053/apati-politik-atau-realitas-pahit-menakar-faktor-faktor-yang-mendorong-rendahnya-minat-berpolitik-pada-generasi-muda-indonesia (Diakses; Jumat, 14 Februari
2025: Pukul 19.55)
Ikhsan
nurul, F. A. 2024. Anak Muda Jangan Apatis terhadap Politik. https://jatim.nu.or.id/opini/anak-muda-jangan-apatis-terhadap-politik-7yyc0 (Diakses; Senin, 10 Februari
2025: Pukul 07.46)
Sarpandi.
2023. Sikap Apatis Terhadap Politk Di Kalangan Anak Muda.
https://kepri.nu.or.id/opini/sikap-apatis-terhadap-politk-di-kalangan-anak-muda-AUGpa (Diakses; Senin, 10 Februari
2025: Pukul 07.58)
Sahanaya
Saskiya, P. S. 2023. Generasi Muda, Kritis Politik atau Apatis Politik?. https://koranbernas.id/generasi-muda-kritis-politik-atau-apatis-politik (Diakses; Sabtu, 15 Februari
2025: Pukul 08.02)
Tim:
Ananda Putra Junior (04)
Bagas Exalcise Deo (06)
Hanny Florencia (14)
Komentar
Posting Komentar